Kementerian Kesehatan menyoroti masih besarnya pekerjaan rumah imunisasi di Indonesia setelah tercatat sekitar 2,8 juta anak belum menerima vaksinasi dasar secara lengkap. Temuan ini menjadi perhatian di tengah peringatan Pekan Imunisasi Dunia 2026, saat pemerintah kembali mendorong percepatan perlindungan anak lewat imunisasi yang aman dan mudah diakses.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa imunisasi merupakan investasi kesehatan yang murah, tetapi manfaatnya besar untuk mencegah penyakit berat di masa depan. Ia menilai hambatan utama saat ini bukan lagi semata soal fasilitas, melainkan keraguan masyarakat yang dipicu misinformasi tentang vaksin.
Akses sudah membaik, tetapi keraguan masih tinggi
Dante menyampaikan bahwa layanan imunisasi kini sudah semakin dekat dengan masyarakat. Fasilitas kesehatan tersedia, tenaga kesehatan ada, dan akses melalui puskesmas hingga posyandu juga semakin mudah dijangkau.
Namun, kondisi itu belum sepenuhnya menghilangkan tantangan di lapangan. Menurutnya, informasi keliru yang beredar luas masih membuat sebagian masyarakat ragu untuk melengkapi imunisasi anak.
Ia juga menekankan bahwa vaksin yang digunakan telah melalui uji keamanan dan efektivitas. Pengawasan terhadap Kejadian Ikutan Pascaimunisasi atau Kipi juga dilakukan secara ketat untuk memastikan pemantauan yang berkelanjutan.
Misinformasi dinilai jadi hambatan utama
Pemerintah meminta media dan seluruh elemen masyarakat ikut meluruskan informasi yang menyesatkan terkait vaksin. Langkah ini dinilai penting agar orang tua mendapat penjelasan yang benar sebelum mengambil keputusan soal imunisasi anak.
Menurut Dante, keraguan akibat misinformasi bisa berdampak langsung pada capaian imunisasi. Karena itu, edukasi publik perlu terus diperkuat agar masyarakat memahami manfaat perlindungan vaksin secara lebih utuh.
UNDP soroti tantangan wilayah dan kepercayaan publik
United Nations Development Programme atau UNDP juga melihat tantangan imunisasi di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan akses layanan. Menurut lembaga tersebut, kesenjangan antarwilayah dan rendahnya tingkat kepercayaan publik di sejumlah daerah turut memengaruhi capaian imunisasi.
Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menyebut vaksin telah terbukti secara ilmiah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia setiap tahun. Ia menilai Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih kuat untuk menghadapi persoalan distribusi, logistik, dan kepercayaan masyarakat.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang menghadapi tantangan tambahan dalam menjangkau seluruh wilayah. Kondisi itu membuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan media menjadi penting agar informasi yang diterima masyarakat tetap jelas, terpercaya, dan mudah dipahami.
Tantangan yang masih harus dijawab
Data 2,8 juta anak yang belum imunisasi lengkap menunjukkan bahwa masalah perlindungan dasar anak masih memerlukan perhatian serius. Selama keraguan publik belum teratasi dan distribusi layanan belum sepenuhnya merata, upaya mengejar cakupan imunisasi akan tetap membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak.
Di sisi lain, ketersediaan layanan kesehatan yang semakin dekat ke masyarakat memberi ruang bagi percepatan cakupan imunisasi jika didukung informasi yang benar dan kepercayaan publik yang lebih kuat.
Source: www.beritasatu.com






