Sudah Diet Tapi Kolesterol Tetap Tinggi, 3 Penyebab yang Sering Terlewat

Banyak orang mengira kolesterol tinggi selalu datang dari makanan berlemak. Padahal, kadar LDL bisa tetap tinggi meski seseorang sudah diet, jika pola makannya masih didominasi karbohidrat olahan, seratnya kurang, atau ada faktor genetik yang ikut berperan.

Kondisi ini sering membuat orang bingung karena mereka merasa sudah mengurangi daging atau lemak, tetapi hasil pemeriksaan darah belum membaik. Mengutip penjelasan Dokter Hoang Hien yang dilansir Mirror, masalah utama sering kali bukan pada lemak semata, melainkan pada komposisi makanan yang tidak seimbang.

Karbohidrat olahan bisa memicu LDL naik

Karbohidrat olahan dan asupan gula yang berlebihan dapat mendorong lonjakan insulin. Dalam penjelasan Hoang Hien, kondisi itu membuat hati memproduksi lebih banyak kolesterol, sehingga kadar LDL sulit turun meski pola makan terlihat lebih ringan.

Situasi ini kerap terjadi saat seseorang mengganti makanan berlemak dengan makanan tinggi tepung, gula, atau makanan olahan lain. Akibatnya, diet terasa lebih rendah lemak, tetapi beban metabolik tubuh tetap tinggi.

Faktor genetik juga tidak bisa diabaikan

Selain pola makan, gen turut menentukan batas dasar kolesterol seseorang. Pada sebagian orang dengan hiperkolesterolemia familial, kadar kolesterol tetap tinggi walau sudah menjaga makan dan memilih menu yang lebih sehat.

Artinya, tidak semua kasus kolesterol tinggi bisa dijelaskan oleh kebiasaan makan saja. Pemeriksaan dan pemantauan tetap penting, terutama jika riwayat keluarga juga menunjukkan masalah serupa.

Asupan serat yang rendah membuat kolesterol sulit terkontrol

Serat larut berperan membantu tubuh membuang kolesterol. Jika asupan serat harian kurang, proses pengeluaran kolesterol jadi tidak optimal dan angka LDL bisa bertahan tinggi lebih lama.

Hoang Hien menyoroti bahwa pola makan modern sering kali kurang serat. Padahal, serat menjadi salah satu komponen penting untuk menjaga keseimbangan lipid darah, bukan hanya menekan kalori.

Diet yang lebih tepat perlu seimbang, bukan sekadar rendah lemak

Hoang Hien menekankan bahwa menghindari lemak saja tidak otomatis menurunkan kolesterol. Ia bahkan mengingatkan bahwa kadar lipid darah bisa tetap tidak stabil jika terlalu banyak gula dan terlalu sedikit serat.

Ia menyarankan pola makan yang lebih terarah, seperti sarapan tinggi serat dan protein, misalnya oatmeal dan yogurt. Saat makan siang, penggunaan lemak sehat dan tambahan sayuran dinilai lebih membantu, sedangkan makan malam sebaiknya rendah gula dengan porsi karbohidrat yang terkontrol.

Dengan pendekatan itu, fokus diet bergeser dari sekadar memangkas lemak menjadi memperbaiki komposisi makanan secara keseluruhan. Dalam konteks kolesterol, keseimbangan nutrisi sering kali lebih penting daripada pembatasan satu jenis makanan saja.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version