Kehilangan mendadak sering membuat keluarga dan orang terdekat masuk ke fase duka yang berat, tidak teratur, dan penuh emosi yang berubah-ubah. Dalam kondisi seperti ini, dukungan emosional yang tepat menjadi penting agar proses berduka bisa berjalan lebih sehat dan tidak dipendam sendirian.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Sani Budiantini Hermawan menegaskan bahwa cara setiap orang memproses kedukaan bisa berbeda. Karena itu, orang yang sedang berduka perlu dibantu untuk memahami perasaan yang muncul agar mereka lebih mudah mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri.
Emosi saat berduka bisa datang silih berganti
Pada masa kehilangan, seseorang bisa merasakan sedih, marah, rindu, penyesalan, dan rasa hampa dalam waktu yang berdekatan. Emosi itu juga bisa muncul berulang dengan intensitas yang berubah-ubah, sehingga kondisi berduka tidak selalu terlihat sama dari luar.
Sani mengingatkan bahwa ada pula gejala yang muncul tertunda atau delay effect. Seseorang mungkin terlihat tenang di awal, lalu justru mengalami ledakan duka beberapa waktu kemudian ketika situasi mulai terasa nyata.
Pendampingan sejak awal penting dilakukan
Kehilangan akibat peristiwa mendadak, seperti kecelakaan, dinilai memerlukan perhatian khusus karena beban psikologisnya sering datang tanpa persiapan. Sani menyebut pendampingan profesional sejak awal dapat membantu mengantisipasi proses duka yang lebih efektif sesuai kebutuhan tiap orang.
Dukungan psikolog juga membantu keluarga memahami bahwa respons berduka bukan sesuatu yang seragam. Dengan begitu, orang yang kehilangan tidak dipaksa cepat pulih atau menyesuaikan diri sebelum siap.
Peran lingkungan terdekat sangat besar
Selain bantuan ahli, keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga memegang peran penting dalam masa duka. Bentuk dukungan paling sederhana adalah mendengarkan tanpa menghakimi dan memberi ruang bagi orang berduka untuk bercerita tentang sosok yang telah tiada.
Sani menilai empati bisa hadir lewat percakapan yang menghargai kenangan baik almarhum atau almarhumah selama hidup. Pengakuan terhadap peran dan kebaikan mendiang dapat membantu keluarga merasa bahwa kehilangan mereka dipahami dan dihormati.
Pelukan atau sentuhan emosional lain juga dapat menjadi dukungan yang berarti. Tindakan sederhana itu bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian saat menghadapi kehilangan yang mendadak dan berat.
Respons berduka yang perlu dipahami
Menangis, sulit tidur, atau tampak sangat terpukul merupakan respons yang wajar dalam proses kehilangan. Kondisi itu tidak otomatis menunjukkan kelemahan pribadi atau kegagalan spiritual, melainkan bagian dari reaksi emosional yang manusiawi.
Karena itu, orang di sekitar perlu menghindari sikap menyalahkan atau menilai cara seseorang mengekspresikan kesedihannya. Dukungan yang tenang, konsisten, dan penuh empati dapat membantu proses kedukaan berlangsung lebih sehat bagi keluarga yang ditinggalkan.
Source: www.beritasatu.com