Kanker tidak selalu muncul karena faktor yang sulit dikendalikan. Banyak kasus berkaitan dengan kebiasaan harian yang sebenarnya bisa diubah, mulai dari merokok, pola makan, hingga kurang bergerak.
Sejumlah lembaga kesehatan yang dikutip dalam referensi menegaskan bahwa lebih dari 40% kasus kanker dan hampir separuh kematian akibat kanker terkait dengan faktor yang bisa dicegah. Artinya, pencegahan lewat gaya hidup sehat punya peran besar untuk menekan risiko sejak lebih dini.
Berhenti merokok jadi langkah paling penting
Merokok masih menjadi salah satu penyebab paling kuat dari kanker yang sebenarnya bisa dicegah. Mengutip data University of California, penggunaan tembakau dikaitkan dengan 30% dari seluruh kematian akibat kanker.
Asap rokok mengandung zat kimia berbahaya yang dapat merusak sel tubuh dan memicu kanker paru-paru, mulut, kerongkongan, pankreas, kandung kemih, serviks, hingga ginjal. Tidak ada produk tembakau yang benar-benar aman, termasuk rokok elektrik, cerutu, tembakau kunyah, dan hookah.
Paparan asap rokok orang lain juga tetap berisiko. Karena itu, berhenti merokok secara total menjadi pilihan pencegahan yang paling berdampak bagi diri sendiri dan orang sekitar.
Jaga berat badan dan tetap aktif bergerak
Menjaga berat badan dalam rentang sehat dapat menurunkan risiko setidaknya 13 jenis kanker. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan produksi hormon estrogen dan insulin, yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker.
Aktivitas fisik juga membantu menjaga metabolisme dan menekan risiko penyakit lain yang berkaitan dengan kanker. American Cancer Society merekomendasikan orang dewasa beraktivitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas berat 75–150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya.
Untuk anak dan remaja, anjuran gerak aktif adalah setidaknya 1 jam per hari. Waktu duduk yang terlalu lama juga perlu dibatasi karena perilaku sedentari dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
Pilih pola makan yang lebih sehat
Pola makan sehari-hari ikut menentukan besar kecilnya risiko kanker. Referensi menyebut hingga 50% kasus kanker yang dapat dicegah berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi.
Pola makan berbasis tanaman yang kaya sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih rendah. Pilihan yang lebih baik juga mencakup sayuran hijau gelap, merah, oranye, serta buah-buahan dengan beragam warna.
Sebaliknya, konsumsi daging merah, daging olahan, minuman manis bergula, dan makanan ultra-proses perlu dibatasi. International Agency for Research on Cancer mengklasifikasikan daging merah dan daging olahan sebagai zat yang bersifat karsinogenik.
Batasi alkohol sedini mungkin
Alkohol termasuk faktor risiko kanker yang dapat dicegah terbesar ketiga setelah tembakau dan kelebihan berat badan. Meski begitu, kesadaran publik terhadap risikonya masih tergolong rendah.
Alkohol telah dikaitkan dengan setidaknya 7 hingga 8 jenis kanker, termasuk kanker payudara, usus besar, paru-paru, ginjal, dan hati. Jenis minuman tidak menjadi pembeda utama, karena semua alkohol dapat menimbulkan kerusakan.
Semakin sedikit alkohol yang dikonsumsi, semakin rendah risikonya. Bagi yang tetap memilih minum, American Cancer Society merekomendasikan batas maksimal satu gelas per hari untuk perempuan dan dua gelas per hari untuk laki-laki.
Lindungi kulit dari sinar UV
Kanker kulit disebut sebagai jenis kanker yang paling umum sekaligus paling bisa dicegah. Paparan radiasi ultraviolet dari matahari maupun alat tanning dapat merusak sel kulit dan memicu kanker.
Perlindungan kulit perlu dilakukan saat berada di luar ruangan, terutama ketika matahari terik. Langkah yang disarankan meliputi mencari tempat teduh, memakai pakaian pelindung, dan menggunakan tabir surya secara rutin dan merata.
Paparan langsung yang terlalu lama juga sebaiknya dihindari, terutama pada jam saat matahari berada di atas kepala, umumnya sekitar pukul 10.00 hingga 16.00. Tanning bed juga sebaiknya dijauhi.
Manfaatkan vaksinasi yang tersedia
Pencegahan kanker juga bisa dilakukan dengan melindungi tubuh dari infeksi virus tertentu. Human Papillomavirus atau HPV dapat menyebabkan kanker serviks dan disebut bertanggung jawab atas hampir seluruh kasus kanker serviks.
Vaksin HPV tersedia untuk individu hingga usia 26 tahun dan disebut mampu melindungi dari 90% kasus kanker yang disebabkan oleh HPV. Vaksin hepatitis B juga penting karena virus ini dapat berkembang menjadi kanker hati.
Vaksin hepatitis B tersedia untuk semua kelompok usia. Karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah efektif untuk menekan kanker yang dipicu infeksi virus.
Lakukan skrining secara rutin
Pemeriksaan berkala membantu kanker ditemukan lebih awal saat peluang penanganan masih lebih besar. Deteksi dini menjadi bagian penting dalam pengendalian kanker karena banyak kasus lebih sulit ditangani jika terlambat ditemukan.
Centers for Disease Control and Prevention atau CDC merekomendasikan skrining untuk beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, serviks, kolorektal, dan paru-paru. Pemeriksaan mandiri juga dapat membantu mengenali perubahan yang perlu segera diperiksakan.
Pahami riwayat kanker dalam keluarga
Riwayat kesehatan keluarga dapat memberi petunjuk penting tentang risiko kanker. Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami kanker payudara, ovarium, rahim, atau kolorektal, risikonya bisa lebih tinggi pada keturunan atau kerabat dekat.
CDC menyarankan pengumpulan informasi dari keluarga sedarah, termasuk orang tua, kakek-nenek, paman, bibi, saudara kandung, keponakan, dan anak. Data yang penting dicatat antara lain jenis kanker, usia saat diagnosis, dan kondisi kesehatan saat ini.
Dengan memahami riwayat keluarga, seseorang bisa lebih proaktif berkonsultasi dengan tenaga medis dan menjalani skrining yang sesuai. Langkah-langkah sederhana seperti berhenti merokok, mengatur pola makan, bergerak aktif, dan rutin memeriksa kesehatan dapat membantu menekan risiko kanker lebih dini.
Source: lifestyle.bisnis.com






