Hantavirus Indonesia Berbeda Dari MV Hondius, Seoul Virus Tak Seperti Andes Virus

Kementerian Kesehatan menegaskan hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus yang sempat dikaitkan dengan kapal pesiar MV Hondius. Perbedaan ini penting karena jenis virus yang beredar di Indonesia didominasi Seoul virus, sedangkan kasus di MV Hondius melibatkan Andes virus yang dikenal dapat menular antarmanusia.

Penjelasan itu membantu meluruskan kekhawatiran publik yang muncul setelah nama hantavirus kembali mencuat. Di Indonesia, kasus yang terkonfirmasi sejauh ini juga bukan hanta pulmonary syndrome atau HPS, melainkan tipe haemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS.

Perbedaan strain jadi kunci memahami risiko

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut strain di Indonesia didominasi Seoul virus. Ia menegaskan, “Strain yang ditemukan di Indonesia didominasi Seoul virus, bukan Andes virus yang dapat menular antarmanusia.”

Pernyataan itu menjadi dasar penting agar masyarakat tidak menyamakan seluruh hantavirus sebagai ancaman dengan pola penularan yang sama. Informasi jenis virus membantu menentukan langkah kewaspadaan yang tepat tanpa memicu kepanikan berlebihan.

Kasus di Indonesia masih dalam pengawasan

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa kasus yang terdeteksi merupakan HFRS dengan strain Seoul virus dan terus dipantau melalui sistem surveilans nasional.

Kemenkes juga memperkuat kewaspadaan melalui surat edaran dan penguatan pelaporan kasus lewat sistem kewaspadaan dini dan respons atau SKDR. Langkah ini disertai pelaporan berjenjang, penanganan pasien suspek, kesiapan fasilitas perawatan intensif, serta peningkatan kemampuan pemeriksaan cepat dan PCR di laboratorium.

Data kasus menunjukkan tren yang perlu diwaspadai

Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat 256 kasus suspek dan 23 kasus terkonfirmasi HFRS. Sebaran kasus itu ditemukan di Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

Data yang sama juga menunjukkan tren konfirmasi yang meningkat, dari 1 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025 dan 5 kasus hingga Mei 2026. Angka ini membuat pemantauan tetap diperlukan, meski pola penyakitnya berbeda dari kasus yang menular antarmanusia seperti pada Andes virus.

Dukungan pada deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium

Di tengah pengawasan yang diperketat, PT UBC Medical Indonesia Tbk menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam deteksi dini dan edukasi masyarakat terkait penyakit zoonotik, termasuk hantavirus. Perusahaan itu menilai ekosistem diagnostik di Indonesia sudah berkembang dan mampu menunjang kebutuhan pemeriksaan penyakit menular.

Direktur Operasional LABS, Yudha Indrawirawan, mengatakan pihaknya bergerak cepat dengan menjajaki kerja sama bersama produsen alat kesehatan internasional. Kerja sama itu ditujukan untuk distribusi alat diagnostik zoonotik dan reagent khusus, sekaligus mendukung edukasi preventif kepada masyarakat.

LABS juga membuka peluang pengembangan reagent penyakit zoonotik di dalam negeri melalui anak usahanya, PT Esora Medika Indonesia. Langkah produksi lokal ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan membuat biaya pemeriksaan lebih terjangkau bagi masyarakat.

Dengan perbedaan strain yang sudah dijelaskan Kemenkes, fokus penanganan di Indonesia tetap berada pada pengawasan HFRS berbasis Seoul virus, bukan pada pola penularan antarmanusia seperti Andes virus di MV Hondius. Pemerintah kini menempatkan deteksi dini, kesiapan laboratorium, dan pelaporan kasus sebagai bagian utama untuk menjaga respons kesehatan masyarakat tetap terarah.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button