Mirip Flu, Tapi Bisa Lebih Mematikan, Kenali Hantavirus Sebelum Terlambat

Hantavirus kerap disalahartikan sebagai flu biasa karena sama-sama dapat memunculkan demam, nyeri badan, dan rasa lemas. Namun, kedua penyakit ini berbeda jauh dalam penyebab, cara penularan, dan tingkat risikonya.

Perbedaan itu penting dikenali sejak awal karena hantavirus dapat berkembang menjadi penyakit serius, termasuk gangguan paru-paru dan gangguan ginjal. Sementara itu, influenza umumnya menular antarmanusia dan lebih sering ditemukan dalam kasus harian.

Apa yang dimaksud dengan hantavirus

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui tikus dan hewan pengerat lain. Manusia dapat terinfeksi saat menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.

Penularan juga bisa terjadi melalui gigitan, meski bukan jalur yang paling umum. Pada sebagian besar kasus, hantavirus tidak menyebar lewat kontak biasa antarmanusia.

Mengapa gejalanya sering disangka flu

Pada fase awal, hantavirus memang bisa meniru gejala influenza. Penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa sangat lemah.

CDC menyebut gejala awal hantavirus sering muncul 1 hingga 8 minggu setelah paparan virus. Setelah itu, kondisi dapat memburuk dengan munculnya mual, muntah, batuk, hingga sesak napas.

Gejala flu biasanya datang lebih cepat. Keluhan yang umum muncul meliputi demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan nyeri badan.

Perbedaan utama hantavirus dan influenza

Perbedaan paling mendasar ada pada sumber penularannya. Flu disebabkan virus influenza tipe A, B, atau C, sedangkan hantavirus berasal dari paparan hewan pengerat yang membawa virus.

Cara penyebarannya juga berbeda. Flu menular lewat droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, sedangkan hantavirus lebih sering menyebar melalui udara yang tercemar kotoran tikus, terutama di ruangan tertutup dan jarang dibersihkan.

Dari sisi keparahan, hantavirus dinilai lebih berbahaya. Infeksi ini dapat memicu gagal napas dan, menurut WHO, beberapa jenis hantavirus juga dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.

Tanda bahaya yang perlu diwaspadai

Infeksi hantavirus tergolong jarang, tetapi bisa berakibat fatal jika terlambat ditangani. Data organisasi kesehatan yang dikutip dalam referensi menyebut tingkat fatalitas HPS dapat mencapai 38%.

Karena itu, demam yang disertai nyeri otot setelah berada di lingkungan yang banyak tikus perlu mendapat perhatian. Jika kemudian muncul batuk dan sesak napas, pemeriksaan medis perlu dilakukan secepat mungkin.

Cara mencegah hantavirus dan flu

Pencegahan hantavirus berfokus pada pengendalian paparan tikus dan menjaga kebersihan lingkungan. WHO menyarankan penggunaan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang berpotensi tercemar kotoran hewan pengerat.

Langkah sederhana seperti membersihkan ruangan tertutup dengan hati-hati dan menghindari kontak langsung dengan kotoran tikus juga menjadi bagian penting dari pencegahan. Lingkungan yang bersih membantu menurunkan risiko partikel virus terhirup manusia.

Untuk influenza, perlindungan paling efektif adalah vaksin influenza tahunan. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan, memakai masker saat sakit, dan menjaga daya tahan tubuh tetap dianjurkan.

Jika demam muncul setelah terpapar lingkungan kotor atau area dengan banyak tikus, apalagi disertai sesak napas, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan. Penanganan cepat dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Source: www.suara.com
Exit mobile version