Robekan Aorta Mengancam Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Penentu Keselamatan

Penyakit aorta kerap sulit dikenali sejak awal karena bisa berkembang tanpa gejala yang khas. Namun saat terjadi robekan dinding aorta atau acute aortic dissection, setiap jam keterlambatan penanganan dapat menaikkan risiko kematian secara signifikan.

Pada fase akut, risiko kematian disebut dapat meningkat sekitar 1–2 persen setiap jam dalam 24 hingga 48 jam pertama bila pasien tidak segera ditangani. Kondisi ini membuat layanan terpadu, diagnosis cepat, dan kesiapan tim medis menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan pasien.

Ancaman yang Sering Terdeteksi Terlambat

Aorta adalah pembuluh darah terbesar yang membawa darah dari jantung ke seluruh organ tubuh. Gangguan pada pembuluh ini, termasuk aneurisma dan diseksi aorta, dapat berkembang perlahan sebelum akhirnya berubah menjadi keadaan gawat darurat.

Dalam penjelasan yang disampaikan Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Dicky Aligheri Wartono, Sp.BTKV(K), FIHA, FICA, diseksi aorta terjadi ketika lapisan dinding aorta robek lalu darah masuk ke lapisan pembuluh darah. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut membutuhkan diagnosis dan tindakan cepat karena menyangkut risiko kematian mendadak.

Kebutuhan Layanan yang Bergerak Cepat

Penanganan penyakit aorta tidak hanya bergantung pada tindakan operasi. Rumah sakit juga harus memiliki alur layanan yang cepat sejak pasien datang ke unit gawat darurat hingga masuk ke ruang tindakan dan perawatan intensif.

Menurut dr. Dicky, penanganan optimal memerlukan koordinasi segera antara Unit Gawat Darurat, radiologi, dokter bedah, anestesi, ICU, tim kardiologi, hingga rehabilitasi dalam satu protokol terintegrasi. Sistem seperti ini penting agar pasien tidak kehilangan waktu pada tahap yang paling krusial.

Beban Kasus dan Keterbatasan Akses

Secara global, angka kejadian acute aortic syndromes diperkirakan sekitar 4,8 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun. Sementara itu, beban penyakit aneurisma aorta juga terus meningkat, termasuk di Indonesia.

Di sisi lain, akses layanan untuk kasus aorta kompleks masih terbatas. Dari lebih dari 2.500 rumah sakit di Indonesia, hanya sekitar 120 hingga 150 rumah sakit yang memiliki layanan bedah jantung, dan jumlah fasilitas yang mampu menangani kasus aorta kompleks dengan teknologi serta tim khusus bahkan lebih sedikit.

Penguatan Layanan dengan Teknologi Modern

Siloam Hospitals Lippo Village menjadi salah satu fasilitas yang memperkuat penanganan aorta kompleks melalui pendekatan multidisiplin dan teknik bedah modern. Rumah sakit ini mengimplementasikan Frozen Elephant Trunk atau FET, metode bedah yang digunakan untuk menangani kasus aorta kompleks yang melibatkan area dada hingga perut.

Teknik tersebut disebut sebagai salah satu standar terbaru dalam penanganan bedah aorta di berbagai pusat layanan kardiovaskular dunia. Selain itu, rumah sakit ini juga didukung layanan Endovascular Aortic Repair atau EVAR/TEVAR, CT Scan kardiovaskular 24 jam, ICU khusus pascaoperasi kardiovaskular, serta tim multidisiplin dari berbagai spesialis terkait.

Pentingnya Deteksi Dini dan Respons Cepat

Melalui pengembangan Aortic & Advanced Cardiovascular Center, rumah sakit berharap akses masyarakat terhadap penanganan penyakit aorta berstandar tinggi bisa semakin luas. Upaya ini juga menegaskan bahwa deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan rutin tetap penting untuk mencegah kondisi yang bisa berkembang diam-diam menjadi fatal.

Dalam kasus diseksi aorta, waktu menjadi faktor penentu yang tidak bisa ditunda. Karena itu, layanan yang terintegrasi sejak diagnosis hingga pemulihan menjadi kunci untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien dengan penyakit aorta kompleks.

Source: www.suara.com
Exit mobile version