
Gelombang panas ekstrem tidak berdampak sama bagi semua orang. Di berbagai wilayah, perempuan justru menghadapi risiko yang lebih besar karena perpaduan faktor biologis, beban kerja domestik, kondisi tempat kerja, dan norma sosial yang membatasi perlindungan saat suhu naik.
Di tengah tren pemanasan global, risiko ini menjadi semakin relevan. BMKG pada 28 Mei 2026 memproyeksikan suhu rata-rata nasional Indonesia akan meningkat lebih dari 1,3 derajat Celsius pada periode 2020–2049, sementara sejumlah penelitian menunjukkan perempuan lebih rentan terhadap dampak panas ekstrem dibanding laki-laki.
Paparan panas lebih lama di rumah
Di banyak wilayah dunia, terutama Asia, Afrika, dan Oseania, perempuan masih memikul sebagian besar pekerjaan domestik. Aktivitas seperti memasak, mencuci, dan mengurus rumah membuat mereka lebih sering berada di ruang tertutup yang panas dan minim sirkulasi udara.
Risiko itu meningkat di kawasan perkotaan padat yang dipenuhi beton dan minim ruang hijau. Tidak semua rumah juga memiliki pendingin ruangan atau tempat aman untuk berlindung dari suhu tinggi.
Kondisi tersebut membuat perempuan lebih sering terpapar panas dalam durasi panjang, baik di dalam rumah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal. Situasi ini memperlihatkan bahwa dampak gelombang panas tidak hanya terkait cuaca, tetapi juga dengan pembagian peran sehari-hari yang masih timpang.
Risiko kesehatan di tempat kerja
Panas ekstrem juga memukul perempuan yang bekerja di sektor informal atau di lokasi kerja dengan fasilitas terbatas. Dalam studi berjudul “Heat Stress and Inadequate Sanitary Facilities at Workplaces: an Occupational Health Concern for Women?”, perempuan pekerja di India disebut menghadapi risiko kesehatan lebih besar saat suhu tinggi terjadi.
Penelitian itu menemukan sebagian perempuan mengurangi asupan air karena toilet yang layak dan higienis tidak tersedia. Kebiasaan ini dapat memicu dehidrasi, infeksi saluran kemih, dan gangguan kesehatan lain ketika tubuh terus terpapar panas.
Kondisi di tempat kerja menunjukkan bahwa perlindungan terhadap perempuan belum selalu sejalan dengan meningkatnya ancaman iklim. Fasilitas dasar seperti air minum, sanitasi, dan ruang istirahat yang memadai menjadi kebutuhan penting saat suhu melonjak.
Norma pakaian dan beban tubuh
Selain faktor lingkungan, norma budaya dan agama di sejumlah negara juga ikut memperbesar risiko. Dalam studi “Occupational Heat Stress and Associated Productivity Loss Estimation Using the PHS Model (ISO 7933): A Case Study from Workplaces in Chennai, India”, perempuan di beberapa wilayah seperti India dan Maladewa disebut kerap diwajibkan mengenakan pakaian lebih tertutup daripada laki-laki.
Pakaian yang lebih tebal dan tertutup membuat tubuh lebih sulit melepaskan panas. Saat gelombang panas ekstrem terjadi, kondisi ini dapat memperburuk ketidaknyamanan, menurunkan produktivitas, dan mengganggu kemampuan beraktivitas.
Faktor tersebut menunjukkan bahwa kerentanan perempuan tidak hanya berasal dari suhu tinggi, tetapi juga dari aturan sosial yang membatasi pilihan adaptasi. Dalam situasi krisis iklim, beban itu dapat menumpuk pada kelompok yang sudah lebih sering bekerja di ruang domestik dan sektor informal.
Ketimpangan iklim dan gender
Temuan berbagai studi itu menegaskan bahwa krisis iklim juga berkaitan erat dengan ketimpangan sosial. Gelombang panas ekstrem memang memengaruhi semua orang, tetapi dampaknya tidak dibagi secara setara.
Karena itu, kebijakan adaptasi iklim perlu memperhitungkan kebutuhan perempuan secara lebih spesifik. Akses ke ruang aman, fasilitas sanitasi, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi pekerja perempuan menjadi bagian penting dari respons terhadap suhu yang terus meningkat.
Source: www.suara.com








