Menkes Ungkap Beban Nakes Memuncak, Indonesia Masih Kekurangan Dokter di Daerah Terpencil

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali menyoroti masalah yang terus membayangi layanan kesehatan di Indonesia, yakni kekurangan dokter di banyak daerah. Ia menyampaikan hal itu dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, saat menjelaskan mengapa beban kerja tenaga kesehatan masih sangat tinggi.

Menurut Budi, persoalan ini paling terasa di daerah terpencil dan wilayah kabupaten yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat sejumlah peserta program pendidikan dokter spesialis atau PPDS ikut turun langsung menjalankan pelayanan di fasilitas kesehatan, sehingga mereka kerap bekerja di luar jadwal pendidikan maupun jam kerja ideal.

Beban kerja tinggi karena jumlah dokter belum cukup

Budi menegaskan bahwa akar masalahnya terletak pada kurangnya tenaga dokter. Ia menyebut beban kerja menjadi sangat berat karena kebutuhan layanan jauh lebih besar daripada jumlah dokter yang tersedia di lapangan.

“Jadi masalah utamanya adalah karena memang kita kekurangan dokter. Sehingga akibatnya bebannya tinggi sekali,” kata Budi dalam rapat tersebut.

Penjelasan itu menggambarkan bahwa kekurangan dokter tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga pada para tenaga medis yang harus menutup kekosongan layanan. Dalam kondisi seperti itu, tugas pelayanan dan proses pendidikan sering berjalan bersamaan, sehingga tekanan kerja ikut meningkat.

Contoh dari Mamberamo Raya

Budi juga menyinggung Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, sebagai contoh daerah yang masih kekurangan dokter spesialis. Di wilayah itu terdapat sekitar 17 puskesmas yang melayani kebutuhan kesehatan masyarakat, namun tidak satu pun memiliki dokter spesialis yang bertugas secara tetap.

Ia menilai kondisi tersebut memperlihatkan besarnya kesenjangan layanan kesehatan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Di satu sisi, fasilitas kesehatan tersedia, tetapi di sisi lain tenaga yang dibutuhkan untuk mengisi layanan itu belum mencukupi.

Cara melihat kekurangan dokter

Budi menjelaskan salah satu tanda paling sederhana untuk melihat kekurangan dokter adalah dari surat izin praktik atau SIP. Jika sebuah fasilitas atau wilayah masih memiliki SIP dokter yang sedikit, itu berarti jumlah dokter yang bertugas belum memenuhi kebutuhan.

“Cara yang paling gampang ngecek kekurangan dokter ya karena surat izin praktik (SIP)-nya aja masih tiga. Kalau SIP tiga itu kan artinya yang ada hanya sepertiga dari yang dibutuhkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika jumlah dokter sudah mencukupi, maka seorang dokter umumnya hanya membutuhkan satu SIP karena bekerja di satu fasilitas kesehatan. “Kalau jumlah dokter cukup, sudah pasti SIP-nya satu. Karena memang dia bekerja di satu tempat,” kata Budi.

Ketimpangan antarwilayah masih besar

Selain persoalan jumlah, Budi juga menyoroti distribusi dokter yang belum merata. Menurut dia, beberapa kota besar justru memiliki dokter berlebih, sementara banyak kabupaten dan daerah terpencil masih kesulitan mendapatkan tenaga medis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan tidak hanya soal produksi tenaga dokter, tetapi juga penyebaran mereka ke wilayah yang paling membutuhkan. Selama ketimpangan itu belum teratasi, beban layanan di daerah akan tetap berat dan akses masyarakat terhadap dokter spesialis masih akan timpang.

Source: www.beritasatu.com

Terkait