Disabilitas Tak Tampak Di Balik Sehat Yang Menipu, Gagasan Mahasiswa Udayana Menggugat Sistem Publik

Mahasiswa Universitas Udayana, Gabriella Sianturi, berhasil meraih juara 1 Essay Contest Beswan Djarum 2026 lewat gagasan tentang disabilitas tak tampak. Topik itu ia angkat karena melihat masih banyak kondisi disabilitas yang tidak terlihat secara fisik, tetapi bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari secara serius.

Gagasan tersebut lahir dari pengalaman pribadi Gabriella saat menyadari sebagian anggota keluarganya mengalami disabilitas tak tampak, seperti autoimun dan autisme. Pengalaman itu membuatnya melihat bahwa banyak orang kerap menilai kesehatan hanya dari penampilan luar, padahal keadaan seseorang bisa berubah drastis tanpa tanda yang mudah terlihat.

Disabilitas yang Sering Dianggap Sehat

Dalam penjelasannya, Gabriella menyoroti paradoks yang kerap dialami penyandang disabilitas tak tampak. Seseorang bisa terlihat bugar, tetapi di saat yang sama menghadapi kelelahan ekstrem, tremor, atau jantung berdebar yang datang tanpa pola pasti.

Kondisi seperti itu sering menimbulkan salah paham di ruang publik. Orang lain cenderung menganggap mereka tidak membutuhkan bantuan karena tampak normal, padahal mereka justru bisa membutuhkan penanganan cepat saat gejala muncul mendadak.

Gabriella juga mengisahkan pengalaman saat duduk di bus dan diminta berdiri oleh seorang ibu karena dirinya tampak sehat. Ia menegaskan bahwa keputusan sederhana seperti itu bisa berisiko ketika kondisi tubuh sedang tidak stabil, meski dari luar tidak terlihat ada masalah.

Angka yang Menunjukkan Isu Ini Tidak Kecil

Gabriella mengutip sejumlah data untuk memperkuat urgensinya. Ia menyebut jumlah penderita autoimun di Indonesia mencapai 2,5 juta orang, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat 15% populasi dunia merupakan kaum disabilitas pada 2011.

Ia juga merujuk data WHO pada 2022 yang menyebut 1 dari 6 orang di dunia mengalami disabilitas. Data ini menunjukkan bahwa kondisi disabilitas jauh lebih luas dibandingkan gambaran yang sering muncul di kehidupan sehari-hari.

Dari situ, ia mempertanyakan kesiapan fasilitas publik dalam merespons kebutuhan penyandang disabilitas tak tampak. Pertanyaan itu menyoroti jarak antara banyaknya jumlah penyandang dan masih terbatasnya pemahaman di layanan umum.

Tantangan di Transportasi Umum dan Ruang Publik

Menurut Gabriella, masalah terbesar bukan hanya soal kondisi medis, tetapi juga soal pengakuan sosial. Penyandang disabilitas tak tampak kerap dianggap sehat karena tidak membawa bukti fisik yang langsung terlihat oleh orang lain.

Situasi ini bisa menjadi berbahaya ketika gejala darurat muncul di transportasi umum, kantor pelayanan, pusat perbelanjaan, atau ruang publik lain. Jika petugas dan masyarakat masih menunggu bukti fisik, momentum penting untuk memberi bantuan bisa hilang.

Di titik ini, kebutuhan akan sistem yang lebih peka menjadi sangat penting. Respons yang lambat bukan hanya soal ketidaktahuan, tetapi juga soal minimnya perangkat yang bisa membantu publik memahami kondisi seseorang secara cepat dan tepat.

Lanyard dan Kartu Disabilitas Dinilai Belum Cukup

Gabriella menyinggung upaya Perhimpunan Reumatologi Indonesia yang mengembangkan lanyard untuk membantu pengenalan disabilitas tak tampak. Namun, ia menilai alat itu masih punya batas karena pengakuannya belum tentu seragam di semua layanan publik.

Ia juga mencatat adanya Kartu Penyandang Disabilitas atau KPD yang lahir beriringan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016. Kartu ini dimaksudkan untuk mengakui dan melindungi penyandang disabilitas, tetapi menurut Gabriella, informasi penting seperti spesifikasi penyakit dan layanan yang dibutuhkan belum tercantum di dalamnya.

Kondisi itu membuat identifikasi kebutuhan penyandang disabilitas tak tampak belum berjalan optimal. Akibatnya, ruang publik masih berisiko salah membaca kebutuhan bantuan yang seharusnya bisa diberikan lebih cepat.

Solusi VISI yang Ditawarkan Gabriella

Sebagai jawaban, Gabriella menawarkan konsep VISI yang terdiri dari Verifikasi Digital, Identitas Dua Lapis, dan Edukasi. Ia mengusulkan digitalisasi KPD agar memuat informasi ringkas tentang status disabilitas dan kebutuhan utama penyandang.

Melalui sistem itu, publik diharapkan memiliki acuan yang lebih jelas saat harus memberi pertolongan. Konsep ini juga ingin mengurangi ketergantungan pada penjelasan verbal atau bukti fisik yang sering tidak memadai untuk menjelaskan kondisi disabilitas tak tampak.

Selain sisi identifikasi, Gabriella menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Ia menilai pemahaman tentang disabilitas tak tampak perlu disebarkan secara langsung dan juga lewat media sosial agar jangkauannya lebih luas.

Ajang Esai dan Pentingnya Ketajaman Isu Sosial

Kemenangan Gabriella diraih setelah mengalahkan 16 peserta dari berbagai kampus di final Essay Contest Beswan Djarum 2026. Pencapaian itu menunjukkan bahwa isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masih punya tempat penting dalam forum akademik mahasiswa.

Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Felicia Hanitio, menjelaskan bahwa program tersebut mendorong mahasiswa mengasah berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Ia juga menekankan bahwa soft skills makin dibutuhkan generasi muda di era modern.

Felicia menyebut mahasiswa perlu peka terhadap isu di sekitar, mencari data dan fakta, lalu menuangkan gagasan secara argumentatif. Dalam konteks itu, esai Gabriella menegaskan bahwa masalah yang tidak terlihat pun tetap nyata dan memerlukan respons yang lebih memahami kebutuhan penyandang disabilitas tak tampak.

Source: lifestyle.bisnis.com

Terkait