Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan wabah hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius telah berakhir. Kepastian itu disampaikan setelah kontak terakhir dari kasus terpapar menyelesaikan masa karantina, hasil tesnya negatif, lalu kembali ke rumah.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan tidak ada kasus baru yang dilaporkan sejak 25 Mei 2026. WHO menilai kondisi itu menandai berakhirnya penanganan wabah yang sempat menarik perhatian karena melibatkan pelacakan kontak lintas negara dalam jumlah besar.
Kasus dan dampak wabah
Wabah ini menginfeksi 13 orang dan menewaskan tiga pasien. Seluruh kasus dikaitkan dengan strain langka Andes hantavirus, jenis yang umumnya ditemukan di Argentina dan Chile.
Andes hantavirus menjadi perhatian khusus karena dikenal dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan berkepanjangan. Karakteristik ini membedakannya dari sebagian besar hantavirus lain yang lebih sering menyebar lewat hewan pengerat.
Perjalanan kapal dan penanganan kesehatan
MV Hondius merupakan kapal pesiar berbendera Belanda yang berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Kapal itu kemudian menuju sejumlah pulau terpencil di Samudra Atlantik Selatan, termasuk Tristan da Cunha, sebelum melanjutkan perjalanan ke Tenerife di Kepulauan Canary, Spanyol.
Kapal eksplorasi kutub itu akhirnya bersandar di Rotterdam, Belanda, pada 18 Mei 2026. Setelah melalui proses pembersihan dan disinfeksi, MV Hondius dinyatakan aman untuk beroperasi lagi sejak 30 Mei 2026.
Tedros menyebut otoritas kesehatan berhasil mengidentifikasi dan memantau lebih dari 650 kontak erat yang tersebar di 33 negara dan wilayah. Pelacakan besar itu menjadi bagian penting dari upaya memastikan tidak ada penularan lanjutan setelah kasus awal terdeteksi.
Karakteristik hantavirus
Hantavirus umumnya menyebar melalui hewan pengerat, seperti tikus, lewat urine, kotoran, atau air liur. Penularan juga bisa terjadi melalui partikel di udara saat seseorang membersihkan area yang terkontaminasi.
Gejala infeksi biasanya muncul dalam satu hingga delapan minggu setelah paparan. Tanda yang sering dilaporkan meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan nyeri perut.
Pada kasus berat, penyakit dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan dan penumpukan cairan di paru-paru. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus yang disetujui khusus untuk mengatasi hantavirus, sehingga penanganan pasien masih bertumpu pada perawatan suportif.
Langkah lanjutan WHO
Meski wabah telah dinyatakan berakhir, WHO tetap melanjutkan penelitian untuk memahami karakteristik virus dan pola penyebarannya. Lembaga itu juga mengoordinasikan studi yang melibatkan 21 negara untuk mendalami perkembangan penyakit sebagai dasar pengembangan diagnosis, terapi, dan vaksin.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menghadapi kemungkinan wabah di masa mendatang, terutama pada virus yang memiliki pola penularan berbeda seperti Andes hantavirus. Dengan berakhirnya wabah pada MV Hondius, perhatian kini bergeser ke upaya ilmiah agar deteksi dan respons kesehatan bisa berjalan lebih cepat jika kasus serupa muncul lagi.
Source: lifestyle.bisnis.com






