Jadwal Tidur Remaja yang Berantakan Ternyata Bisa Picu Pikiran Bunuh Diri

CATATAN: Depresi dan keinginan bunuh diri adalah kondisi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau layanan darurat Healing 119. Anda tidak sendirian.

Pola tidur remaja yang berubah-ubah antara hari sekolah dan akhir pekan ternyata bukan sekadar soal ngantuk di kelas. Sebuah studi dari Korea Selatan menemukan bahwa kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya risiko pikiran, rencana, hingga percobaan bunuh diri pada siswa.

Fenomena itu dikenal sebagai social jetlag, yakni ketidaksesuaian antara jam biologis tubuh dan tuntutan jadwal sosial. Pada remaja, kondisi ini sering muncul saat mereka harus bangun sangat pagi untuk sekolah, lalu “membalas” tidur dengan jadwal jauh lebih siang saat akhir pekan.

Temuan dari puluhan ribu siswa

Studi berskala besar ini menggunakan data Korean Youth Risk Behavior Survey 2024 yang melibatkan 48.101 siswa SMP dan SMA di Korea Selatan. Hasilnya dipublikasikan dalam Korean Journal of Health Research oleh Han Seung-jun dari Departemen Manajemen Kesehatan, Graduate School of Kyung Hee University.

Peneliti mengukur tingkat social jetlag dengan membandingkan titik tengah waktu tidur para siswa pada hari sekolah dan akhir pekan. Dari analisis itu, 53,5 persen remaja tercatat mengalami social jetlag setidaknya satu jam atau lebih.

Tingkat social jetlagPikiran bunuh diriRencana bunuh diriPercobaan bunuh diri
Lebih dari 2 jam14,2 persen5,5 persen3,2 persen
Di bawah 1 jam11,2 persen3,9 persen2,0 persen

Data tersebut menunjukkan pola yang konsisten. Semakin lebar kesenjangan waktu tidur remaja, semakin tinggi pula laporan perilaku terkait bunuh diri dalam 12 bulan terakhir.

Risiko naik seiring jadwal tidur makin kacau

Pada kelompok dengan social jetlag lebih dari 2 jam, 14,2 persen siswa melaporkan pikiran bunuh diri. Angka itu lebih tinggi dibanding kelompok dengan gangguan tidur di bawah 1 jam yang berada di level 11,2 persen.

Perbedaan serupa juga terlihat pada rencana bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Untuk rencana bunuh diri, angkanya mencapai 5,5 persen pada kelompok dengan social jetlag lebih dari 2 jam, sementara kelompok di bawah 1 jam berada di 3,9 persen.

Pada percobaan bunuh diri, persentasenya tercatat 3,2 persen di kelompok dengan gangguan tidur paling berat, dibanding 2,0 persen pada kelompok dengan gangguan tidur lebih ringan. Temuan ini memperlihatkan bahwa ketidakteraturan tidur pada remaja bukan masalah kecil.

Kenapa ritme tidur penting dijaga

Para peneliti menilai kekacauan jadwal tidur dapat memperparah stres psikologis dan meningkatkan kerentanan emosional pada usia remaja. Dalam laporan yang dikutip Korea JoongAng Daily, mereka menulis bahwa remaja dengan social jetlag yang lebih besar menunjukkan risiko jauh lebih tinggi terhadap pikiran, rencana, dan upaya bunuh diri.

Studi ini menegaskan pentingnya intervensi pada pola tidur anak muda. Menjaga keteraturan ritme tidur dan menyelaraskannya dengan aktivitas harian perlu menjadi perhatian orang tua serta institusi pendidikan demi membantu melindungi kesehatan mental remaja.

Terkait