Penutupan Selat Hormuz kembali memunculkan kekhawatiran baru bagi pasokan obat di Indonesia. BPOM RI menegaskan tengah menyiapkan langkah antisipasi agar kebutuhan obat nasional tetap terjaga di tengah gangguan rantai pasok global.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyebut sekitar 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor. Kondisi itu membuat sektor farmasi menjadi salah satu yang paling rentan jika jalur distribusi internasional terganggu.
Ketergantungan impor yang masih tinggi
Taruna menjelaskan bahwa bahan baku obat yang masuk ke Indonesia mencakup raw material, intermediate material, hingga bahan jadi yang kemudian dikemas ulang di dalam negeri. Karena itu, gangguan di jalur logistik internasional dapat berdampak langsung pada ketersediaan obat nasional.
“Tentu kita paham bahwa kebutuhan obat nasional kita itu merupakan bagian dari ketahanan nasional. Jika obat tidak mencukupi, maka itu membahayakan kesehatan dan keamanan nasional kita,” kata Taruna di Jakarta, Senin (13/7/2026).
BPOM siapkan penyesuaian rantai pasok
Untuk mengurangi risiko tersebut, BPOM menata regulasi dan memberi kemudahan bagi industri agar bisa melakukan switching supply chain jika sewaktu-waktu terjadi gangguan. Langkah ini ditujukan agar industri farmasi tetap memiliki ruang untuk mencari sumber pasokan alternatif.
BPOM juga menggandeng Gabungan Pengusaha Farmasi untuk menyiapkan langkah mitigasi, termasuk mengantisipasi dampak pada kemasan obat. Menurut Taruna, aspek kemasan juga perlu diperhatikan karena bisa ikut terdampak oleh situasi geopolitik.
| Aspek | Kondisi | Langkah BPOM |
|---|---|---|
| Bahan baku obat | Sekitar 90 persen masih impor | Penataan regulasi dan kemudahan switching supply chain |
| Kemasan obat | Berpotensi terdampak gangguan geopolitik | Mitigasi bersama Gabungan Pengusaha Farmasi |
Taruna menilai penutupan Selat Hormuz yang belum jelas waktunya tetap bisa menimbulkan masalah bagi industri farmasi. Ia menyebut pemerintah perlu terus bersiap karena gangguan semacam ini dapat memukul rantai pasok yang selama ini masih bergantung pada impor.
Dampak ke kosmetik dinilai tidak sebesar farmasi
Di sisi lain, Taruna mengatakan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap industri kosmetik nasional tidak sebesar sektor obat. Menurut dia, industri kosmetik di Indonesia lebih banyak memanfaatkan biodiversitas dan sumber daya mineral dalam negeri sebagai bahan baku.
“Kalau kosmetik, kita memiliki banyak potensi bahan baku dari biodiversitas dan mineral yang ada di Indonesia, sehingga ketergantungan impornya tidak sebesar industri obat,” katanya.
Sebelumnya, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Keputusan itu diambil setelah sebuah kapal yang dituding mengabaikan instruksi pelayaran dihentikan dengan tembakan peringatan.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita resmi IRNA, IRGC menyebut sejumlah kapal tetap melintasi jalur yang tidak diizinkan meski telah berulang kali diperingatkan untuk mengubah haluan dan menggunakan rute yang telah ditetapkan. Satu kapal juga disebut mematikan sistem operasinya sehingga dinilai membahayakan keamanan pelayaran.







