Optimalisasi Gizi dan Edukasi Keluarga untuk Turunkan Risiko Stunting Dini

Stunting masih menjadi perhatian serius di Indonesia, dengan kondisi ini berpengaruh luas pada kesehatan dan perkembangan anak. Stunting terjadi karena kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari kehamilan hingga usia dua tahun. Dampak yang ditimbulkan bukan hanya mempengaruhi tinggi badan, namun juga perkembangan otak dan kecerdasan anak, yang berlanjut hingga dewasa dan memengaruhi produktivitas di masa depan.

Untuk menurunkan risiko stunting sejak dini, peran keluarga sangat krusial. Asupan gizi yang memadai, pola pengasuhan yang responsif, serta akses informasi kesehatan yang baik menjadi tiga kunci utama. Keluarga harus memastikan bahwa anak memperoleh gizi yang seimbang melalui makanan bergizi yang diperkenalkan dengan cara yang tepat. Selain itu, pengasuhan yang sensitif dan responsif terhadap kebutuhan anak juga berkontribusi besar terhadap pertumbuhannya.

Kolaborasi antara orang tua, kader masyarakat, dan pemerintah menjadi faktor pendorong yang sangat penting dalam pencegahan stunting. Program-program berbasis masyarakat, seperti yang dijalankan oleh ChildFund International di Indonesia, berusaha mengurangi angka stunting dengan pendekatan yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Melalui program Percepatan Penurunan Stunting (ASRP), angka stunting di beberapa wilayah, seperti Kota Bogor, berhasil turun dari 35,9% menjadi 28,6%.

ASRP, yang diperkenalkan pada tahun 2022, merupakan kelanjutan dari inisiatif sebelumnya, yaitu Bapak Ibu Anak Tangguh Kota Bogor. Tujuan dari program ini adalah untuk mengurangi prevalensi stunting dan masalah malnutrisi lainnya dengan melibatkan masyarakat lokal, termasuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), pemerintah daerah, serta relawan masyarakat yang terlatih. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas yang memahami konteks lokal memiliki dampak signifikan dalam perbaikan gizi anak.

Hasil dari program ASRP juga mencakup penurunan angka gizi buruk berat dari 9,4% menjadi 3,2% dan gizi buruk umum dari 26,6% menjadi 12,7%. Sementara itu, anak-anak dengan berat badan sangat kurang juga menurun dari 21,9% menjadi 14,3%. Dukungan yang kuat dari pemerintah Kota Bogor pun membuat program ini diakui secara resmi, makin menunjukkan pentingnya kerjasama antara berbagai pihak.

Edukasi tentang pola asuh yang baik dan pemahaman gizi bagi keluarga menjadi bagian integral dari program ini. Hasil survei menunjukkan bahwa 85,9% orang tua dan pengasuh yang terlibat dalam program mengalami peningkatan pengetahuan tentang gizi dan pengasuhan. Kader masyarakat juga dilatih untuk memahami lebih baik mengenai gizi dan perawatan anak.

Inisiatif ini tidak hanya berhenti di Bogor. ChildFund International kini juga merencanakan replikasi program serupa di Kota Kupang dan Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Dengan dukungan penuh dari pemerintah setempat, kegiatan pengasuhan yang responsif menjadi fokus awal dalam implementasi program ini. Dukungan berbagai pihak, oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas setiap program yang dilaksanakan.

Mencegah stunting adalah tanggung jawab bersama. Keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja sama untuk mengedukasi dan menyediakan layanan kesehatan yang diperlukan. Dengan langkah yang tepat, diharapkan angka stunting dapat berkurang secara signifikan di seluruh Indonesia. Mengedukasi masyarakat lanjutan mengenai gizi dan pengasuhan yang baik adalah langkah penting menuju generasi yang lebih sehat.

Berita Terkait

Back to top button