Erica van Barneveld Selamat dari Henti Jantung, Teknologi Minimal Invasif yang Mengubah Segalanya

Erica van Barneveld, 53, mengubah kisah nyaris kematiannya menjadi pengingat bahwa teknologi medis bisa memberi peluang hidup kedua. Setelah mengalami henti jantung akibat diseksi aorta, ia selamat berkat operasi darurat dan prosedur minimal invasif yang saat itu masih tergolong baru.

Kisah ini juga menunjukkan bagaimana inovasi medis terus berkembang, dari tindakan penyelamatan yang dulu sangat berisiko menjadi prosedur yang kini dibantu pencitraan dan kecerdasan buatan. Bagi Erica, kemajuan itu bukan sekadar istilah teknologi, melainkan alasan ia bisa kembali berjalan, pulih, dan hidup bersama keluarganya.

Serangan mendadak di pinggir lapangan

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu sore, 18 Juni 2011, ketika Erica sedang menyaksikan pertandingan sepak bola anak-anaknya di Belanda. Saat berdiri santai sambil memegang segelas anggur, ia tiba-tiba merasa tubuhnya sangat tidak enak sebelum nyeri hebat menekan dadanya.

Ia sempat berusaha berjalan ke kamar kecil, tetapi langkahnya terhenti dan ia jatuh. Erica lalu dilarikan ke rumah sakit di Nieuwegein dengan ambulans dalam perjalanan sekitar 30 menit, sebelum tim medis segera melakukan pemeriksaan awal.

Di rumah sakit, dokter semula menduga ia mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner. Namun kondisi Erica memburuk cepat di meja operasi, hingga jantungnya berhenti berdetak dan ia dinyatakan clinically dead.

Dokter kemudian mengaktifkan mesin jantung-paru dan menemukan penyebab sebenarnya, yaitu diseksi aorta. Pada kondisi ini, lapisan dalam aorta robek sehingga aliran darah menuju jantung terhenti total dan membutuhkan tindakan segera.

Operasi besar, lalu kabar yang tidak terduga

Tak ada waktu untuk menunggu lama. Tim bedah langsung melakukan operasi jantung terbuka dan membuat bypass pada bagian aorta yang rusak untuk menyelamatkan nyawanya.

Setelah operasi, Erica menjalani koma selama tiga hari. Ketika sadar, ia masih belum memahami apa yang telah terjadi pada tubuhnya.

Tahap PerawatanKondisi EricaTindakan Medis
Awal kejadianNyeri dada hebat, lalu jatuhEvakuasi dengan ambulans ke rumah sakit
Di ruang operasiJantung berhenti berdetakMesin jantung-paru diaktifkan
Setelah diagnosisDiseksi aorta ditemukanOperasi jantung terbuka dan bypass
Pemulihan awalKoma selama tiga hariPerawatan intensif lanjutan

Dua minggu kemudian ia boleh pulang, tetapi keadaan tubuhnya masih jauh dari pulih. Ia masih dipenuhi cairan, tidak bertenaga, dan tidak bisa berjalan, sementara di rumah ada empat anak kecil yang menunggunya.

Tak lama setelah itu, ia harus kembali dirawat. Pemeriksaan menunjukkan fungsi pompa jantungnya tinggal sekitar 20 persen dan katup mitralnya bocor, kondisi yang biasanya ditangani dengan operasi besar kedua.

Prosedur baru yang memberi harapan

Karena tubuhnya terlalu lemah untuk menjalani operasi jantung terbuka lagi, dokter Jan van der Heyden menawarkan pilihan lain. Prosedur itu adalah perbaikan katup mitral minimal invasif dengan teknik transkateter, yang masih dalam tahap penelitian saat itu.

Teknik tersebut memasang klip khusus pada katup mitral yang bocor melalui pembuluh darah di selangkangan, sehingga pasien tidak perlu menjalani operasi besar. Bagi Erica, opsi itu menjadi satu-satunya harapan yang masuk akal.

Ia harus menunggu beberapa minggu karena prosedur itu terlebih dahulu diterapkan pada pasien yang lebih tua. Setelah hasilnya menjanjikan, giliran Erica menjalani tindakan tersebut dan hasilnya langsung memberi kabar baik.

Saat sadar setelah prosedur, dokter mengatakan, “Berhasil. Kamu akan bisa berjalan lagi,” dan Erica benar-benar bisa turun dari tempat tidur serta berjalan kembali.

Setahun rehabilitasi dan hidup yang berubah

Meski prosedur eksperimental itu berhasil, pemulihan Erica tetap panjang. Ia menjalani rehabilitasi selama satu tahun sebelum akhirnya mampu kembali menjalani kehidupan sehari-hari dan merawat anak-anaknya.

Putranya, Gert-Jan van Ginkel, mengatakan keluarga mereka sangat bersyukur karena sang ibu bisa kembali pulang dalam kondisi sehat. Baginya, mengenang masa itu tetap emosional karena ia pernah berdiri di samping tempat tidur ibunya di rumah sakit.

Erica kemudian ikut mendorong pengenalan teknik transkateter untuk perbaikan katup mitral minimal invasif ke berbagai rumah sakit di Belanda. Ia ingin lebih banyak pasien yang tidak mampu menjalani operasi besar tetap punya kesempatan hidup.

Menurut Erica, setiap pasien memang harus dievaluasi secara cermat, tetapi inovasi memberi peluang yang sebelumnya hampir tidak ada. Ia juga menyebut bahwa perannya dalam perjalanan ini merupakan kehormatan besar.

Teknologi yang terus maju

Lima belas tahun setelah tindakan yang menyelamatkan hidupnya, Erica melihat sendiri bagaimana teknologi berkembang. Saat ia menjalani prosedur pada 2011, dokter harus memasang klip pada katup jantung yang terus bergerak tanpa bantuan pencitraan secanggih sekarang.

Kini, solusi panduan real-time berbasis kecerdasan buatan dari Philips membantu dokter menentukan posisi pemasangan klip dengan jauh lebih presisi. Keakuratan ini penting karena perbaikan katup mitral minimal invasif dilakukan ketika jantung tetap berdetak.

Erica menyebut jantungnya masih mengalami kebocoran katup tingkat 2, tetapi dokter kini semakin mampu menurunkannya hingga tingkat 0. Ia juga mengakui bahwa dirinya tidak lagi bisa berolahraga berat seperti berlari, meski tetap memilih fokus pada hal yang masih bisa dilakukan.

“Saya selalu mencoba untuk fokus pada apa yang bisa saya lakukan, alih-alih apa yang tidak bisa saya lakukan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya tetap positif dan bekerja sama dengan dokter selama proses pengobatan.

Kini Erica memiliki salon rambut dan menjalani kehidupan yang hampir normal. Setiap 18 Juni, ia memperingati hari itu sebagai ulang tahun keduanya, sambil mengingat pesan sederhana yang ia pegang dari pengalamannya: Carpe Diem, nikmati setiap momen.

Terkait