
Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit autoimun yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan tulang belakang, namun masih banyak masyarakat yang kurang memahami gejalanya. Di Indonesia, meskipun prevalensinya tergolong rendah dengan sekitar 160 kasus hingga tahun 2020, kesadaran akan penyakit ini masih sangat terbatas. Hal ini berpotensi menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan yang dapat memengaruhi kualitas hidup penyintas.
Dokter Spesialis Neurologi, Paulus Sugianto, menjelaskan bahwa pada individu dengan MS, sistem imun tubuh menyerang selubung mielin yang melindungi serabut saraf. Kerusakan mielin ini dapat mengganggu komunikasi antara sel saraf dan menimbulkan dampak jangka panjang yang serius.
Gejala Multiple Sclerosis
Gejala MS dapat bervariasi dari satu individu ke individu lain, tergantung pada lokasi dan tingkat kerusakan pada sistem saraf. Secara umum, beberapa gejala yang sering muncul meliputi:
- Mati rasa atau kesemutan: Sensasi ini bisa muncul di bagian tubuh tertentu dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Sensasi sengatan listrik: Dikenal sebagai tanda Lhermitte, ini biasanya terjadi saat leher digerakkan, terutama saat menekuk ke depan.
- Kelemahan dan kurangnya koordinasi: Banyak penderita merasakan masalah saat berjalan atau bahkan tidak dapat bergerak sama sekali.
- Gangguan penglihatan: Ini termasuk kehilangan penglihatan, baik sebagian maupun keseluruhan, yang sering disertai rasa sakit saat mata bergerak.
- Pusing dan vertigo: Banyak penderita melaporkan perasaan bahwa mereka atau lingkungan sekitar sedang bergerak.
- Masalah fungsi seksual, usus, dan kandung kemih: Ini menjadi tantangan tambahan bagi penyintas dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
- Kelelahan: Rasa lelah yang berlebihan sering kali dialami oleh penderita MS.
- Perubahan suasana hati: Gejala ini bisa sangat mempengaruhi interaksi sosial dan kualitas hidup penyintas.
Karena tidak adanya obat yang dapat menyembuhkan MS, penanganan biasanya berfokus pada pengelolaan gejala dan pemulihan dari serangan. Perawatan ini mencakup terapi fisik serta obat-obatan yang membantu mengubah perjalanan penyakit dan mempercepat pemulihan.
Faktor-Faktor Risiko
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena MS mencakup:
- Usia: Serangan paling sering terjadi antara usia 20 dan 40 tahun.
- Jenis kelamin: Wanita memiliki risiko 2-3 kali lebih besar untuk mengidap MS dibandingkan pria.
- Riwayat keluarga: Memiliki anggota keluarga yang menderita MS meningkatkan kemungkinan terkena penyakit ini.
- Infeksi tertentu: Virus seperti Epstein-Barr telah dikaitkan dengan peningkatan risiko MS.
- Ras: Orang dengan kulit putih, khususnya yang berasal dari Eropa Utara, memiliki risiko tertinggi.
- Geografi: MS lebih umum terjadi di daerah dengan iklim sedang.
- Vitamin D: Kekurangan vitamin D dan paparan sinar matahari rendah dapat meningkatkan risiko.
- Kegemukan: Memiliki riwayat kegemukan dapat berkontribusi terhadap risiko penyakit ini.
- Penyakit autoimun lainnya: Memiliki kondisi autoimun lain dapat sedikit meningkatkan risiko.
Di Indonesia, tantangan dalam diagnosis dan penanganan MS masih sangat nyata. Paulus Sugianto menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan akses penanganan agar kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan. Selain itu, peran sektor swasta dalam pengembangan inovasi dan perluasan akses perawatan juga menjadi sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang lebih inklusif bagi pasien MS.
Menyadari gejala dan faktor risiko MS adalah langkah awal yang krusial untuk meningkatkan kesadaran publik. Dengan pengetahuan yang lebih baik, diharapkan akan ada peningkatan dalam diagnosis dan perawatan penyakit ini, sehingga penyintas bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.





