Waspada! Bahaya Makanan Justru Sering Muncul dari Dapur Sendiri

Bahaya makanan yang tidak aman kerap kali diabaikan, padahal dapat datang dari tempat yang dianggap paling aman, yakni dapur rumah. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan lebih dari 600 juta orang di seluruh dunia mengalami penyakit akibat makanan yang tidak aman setiap tahunnya, dan banyak di antaranya berasal dari rumah. Hal ini tentunya menjadi suatu perhatian serius bagi setiap keluarga.

Berdasarkan informasi terbaru, risiko penyakit akibat makanan tidak hanya mengancam kesehatan anak-anak. Orang dewasa hingga lansia juga rentan mengalami gejala seperti demam atau mual setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Data WHO juga menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat penyakit bawaan makanan mencapai lebih dari USD 15 miliar per tahun.

Menghadapi tantangan ini, McDonald’s Indonesia menekankan pentingnya kesadaran akan keamanan pangan di lingkungan rumah tangga. Dalam rangka memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia pada Juni 2025, mereka menyampaikan lima prinsip yang harus diikuti untuk pencegahan bahaya makanan. Penerapan prinsip-prinsip ini berpotensi besar dalam menjaga kesehatan keluarga.

Jaga Kebersihan Sejak Awal
Kebersihan adalah langkah pertama dan paling penting dalam memiliki dapur yang aman. Mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik sebelum memasak dan setelah menangani bahan mentah adalah langkah yang tidak boleh dianggap sepele. Selain itu, membersihkan sayur dan buah serta mengganti lap dapur secara teratur dapat mencegah kontaminasi silang.

Pisahkan Bahan Mentah dan Siap Makan
Kebiasaan untuk memisahkan bahan makanan sangat penting dalam mencegah kontaminasi. Misalnya, alat yang digunakan untuk daging mentah tidak boleh digunakan untuk sayur-sayuran yang siap dimakan. Menyimpan daging mentah di rak bawah kulkas dan dalam wadah tertutup juga menjadi praktik yang tidak kalah penting guna menghindari percikan yang bisa mencemari makanan lain.

Pastikan Matang Sempurna
Mengolah makanan dengan matang sempurna adalah cara efektif untuk membunuh patogen berbahaya. Ini menjadi sangat krusial untuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Penggunaan termometer dapur dapat membantu memastikan bahwa makanan telah mencapai suhu yang aman sebelum disajikan, dan jangan menyajikan makanan lebih dari 4 jam setelah dimasak.

Simpan di Suhu Aman
Suhu penyimpanan makanan juga berperan penting dalam menjaga keamanan pangan. Suhu zona bahaya, yaitu antara 5°C dan 60°C, harus dihindari. Memastikan kulkas berfungsi di bawah 5°C dan menyimpan makanan panas di atas 60°C menjadi langkah preventif yang disarankan. Telur sebaiknya disimpan di bagian tengah kulkas untuk menjaga kualitasnya.

Gunakan Air dan Bahan Baku Aman
Memastikan bahwa air yang digunakan dalam memasak bersih dan bahan makanan segar sangatlah esensial. Mengedukasi diri untuk memeriksa tanggal kedaluwarsa serta menghindari mencuci telur sebelum penyimpanan juga adalah langkah-langkah pencegahan yang penting.

Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, McDonald’s Indonesia juga melaksanakan kampanye "Food Safety Week" di beberapa kota besar seperti Jakarta, Palembang, Bali, Samarinda, dan Makassar. Dalam rangkaian kegiatan ini, mereka berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan serta pemasok lokal untuk memberikan workshop keamanan pangan, termasuk cara mencuci tangan dengan benar kepada ribuan siswa SD.

Melalui semua inisiatif tersebut, McDonald’s Indonesia berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keamanan makanan di dapur rumah. Mengutamakan keamanan pangan seharusnya menjadi tanggung jawab tidak hanya pemerintah atau restoran, tetapi juga dimulai dari setiap individu di rumah.

Berita Terkait

Back to top button