Di tengah kesibukan hidup dan tuntutan produktivitas tinggi, banyak orang menganggap kelelahan berkepanjangan sebagai hal yang sepele. Namun, ada kemungkinan bahwa kelelahan tersebut merupakan gejala awal dari penyakit serius yang mengancam jiwa, yaitu Myasthenia Gravis (MG). Dalam sebuah diskusi sehat bertema “Lebih dari Sekadar Lelah,” Menarini Indonesia dan Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia (YMGI) berusaha mengedukasi masyarakat tentang bahaya penyakit ini yang membahayakan kualitas hidup.
Apa Itu Myasthenia Gravis?
Myasthenia Gravis adalah penyakit autoimun neuromuskular yang memengaruhi kemampuan komunikasi antara saraf dan otot. Penderitanya mengalami kelemahan otot yang fluktuatif, dengan gejala yang sering dianggap ringan, seperti kelopak mata yang turun (ptosis), suara yang menjadi sengau, dan kesulitan menelan. Menurut dr. Ahmad Yanuar Safri, SpS(K), dari RSCM, gejala-gejala ini seringkali disalahartikan sebagai kelelahan biasa. “Jika tidak ditangani dengan cepat, ini bisa berakibat fatal, seperti krisis miastenik atau bahkan gagal napas,” tandasnya.
Diagnosis dan Kesadaran Masyarakat
Salah satu tantangan dalam penanganan MG adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Praktik self-diagnosis yang marak di internet membuat banyak orang menunda pemeriksaan ke dokter. Dr. Zicky Yombana, Sp.S, yang juga seorang penyintas MG, mengungkapkan bahwa banyak yang mengabaikan gejala ini. "Kelopak mata yang turun dan suara sengau sering dianggap sepele, tetapi ini bisa menjadi sinyal bahaya," ujarnya.
Dokter Zicky menekankan bahwa diagnosis dini sangat penting. Semakin cepat gejala dikenali, semakin besar peluang pasien untuk kembali ke kehidupan normal. Hal ini sangat penting mengingat tingkat mortalitas yang signifikan dialami pasien MG, yang mencapai 14% dalam 5 tahun dan 21% dalam 10 tahun setelah gejala muncul.
Pengalaman Nyata Pasien
Annisa Kharisma, akrab disapa Tata, adalah salah satu pasien yang mengalami kesulitan dengan diagnosanya. “Orang-orang bilang saya hanya lelah, tetapi tubuh saya semakin melemah. Saya ingin orang tahu, bahwa kelelahan bisa berarti sesuatu yang lebih serius,” ujarnya dengan penuh harap. Tata mengajak publik untuk lebih mendengarkan tubuh mereka dan proaktif mencari bantuan medis.
Risiko Serius Myasthenia Gravis
Krisis miastenik adalah salah satu kondisi paling berbahaya yang bisa terjadi pada pasien MG, di mana otot pernapasan lumpuh, yang memerlukan perawatan intensif. Pentingnya perhatian medis dan pengobatan yang tepat sangat ditekankan dalam diskusi ini. Menarini Indonesia berkomitmen untuk mendukung pasien MG, tidak hanya dalam hal terapi medis tetapi juga meningkatkan akses ke pengobatan yang lebih baik.
Kesimpulan
Dari seluruh diskusi yang berlangsung, terlihat jelas bahwa kesadaran akan Myasthenia Gravis masih rendah. Oleh karena itu, edukasi publik yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan pemahaman tentang gejala penyakit ini dan pentingnya diagnosis dini. Dengan dukungan sosial yang kuat, pasien MG masih memiliki harapan untuk menjalani hidup yang produktif dan bermakna, bukan sekadar bertahan.





