
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengeluarkan rekomendasi penting untuk pencegahan infeksi HIV, khususnya bagi kelompok rentan. Rekomendasi ini menyarankan penggunaan obat baru bernama Lenacapavir, yang dapat diberikan melalui suntikan dua kali setahun. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya global untuk menanggulangi penularan HIV, terutama di daerah dengan beban infeksi yang tinggi.
HIV, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, dapat menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh dari individu yang terinfeksi. Penularan paling sering terjadi melalui hubungan seksual tanpa perlindungan atau penggunaan jarum suntik bersama. Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi AIDS, yang ditandai dengan sejumlah gejala serius, termasuk infeksi berulang dan penurunan berat badan yang signifikan.
WHO menilai bahwa rekomendasi suntikan Lenacapavir sebagai metode pencegahan memiliki potensi untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Selama ini, metode pencegahan yang ada, termasuk pil harian, sering kali sulit diterima oleh individu berisiko. Rekomendasi terbaru ini diumumkan di tengah ancaman penurunan pendanaan bantuan luar negeri untuk program HIV/AIDS, yang dapat mempengaruhi upaya pencegahan dan pengobatan di tingkat global.
Apa itu Lenacapavir?
Lenacapavir adalah obat penghambat kapsid yang bekerja dengan menargetkan protein struktural HIV untuk menghambat replikasi virus dalam tubuh. Obat ini telah disetujui sejak tahun 2022 untuk pengobatan infeksi HIV tertentu. Dalam uji coba pencegahan, Lenacapavir menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengurangi risiko infeksi HIV serta memberikan perlindungan yang hampir menyeluruh.
Meg Doherty, Direktur Departemen Program Global HIV, Hepatitis, dan Infeksi Menular Seksual WHO, menyatakan bahwa rekomendasi ini dirancang untuk diterapkan secara global. Dia menekankan bahwa WHO akan bekerja sama dengan negara-negara dan mitra untuk mendukung implementasi Lenacapavir sebagai pilihan pencegahan tambahan.
Rekomendasi WHO dalam Penggunaan Lenacapavir
WHO merekomendasikan dua langkah penting dalam kebijakan pencegahan infeksi HIV. Pertama, Lenacapavir sebaiknya ditawarkan sebagai pilihan pencegahan tambahan bagi individu berisiko tinggi. Kedua, tes diagnostik cepat dapat digunakan untuk mendiagnosis HIV, yang menjadi bagian dari pencegahan kombinasi.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebutkan bahwa Lenacapavir adalah "pilihan terbaik kedua" setelah vaksin HIV, yang masih dalam tahap pengembangan. Rekomendasi ini juga mencakup penyederhanaan protokol tes HIV untuk mendukung penggunaan suntik di komunitas, apotek, serta dalam konteks telehealth.
Keuntungan penggunaan Lenacapavir
Salah satu keuntungan utama dari Lenacapavir adalah kemudahan dalam administrasinya. Dengan hanya dua kunjungan klinik dalam setahun, pasien dapat menghindari tantangan yang sering dihadapi dalam menggunakan pil harian. Hal ini sangat penting bagi individu di kelompok rentan seperti pekerja seks, orang LGBTQ+, pengguna narkoba suntik, dan remaja yang sering mengalami hambatan dalam akses layanan kesehatan.
Data menunjukkan bahwa di antara peserta uji coba yang menerima Lenacapavir, tidak ada infeksi yang terjadi, dibandingkan dengan tingkat infeksi yang signifikan dalam kelompok yang menggunakan pil harian.
Penutupan
Pengesahan Lenacapavir sebagai metode pencegahan infeksi HIV memberikan harapan baru dalam memerangi pandemi HIV/AIDS yang masih menjadi tantangan global. Meskipun belum ada vaksin yang efektif, langkah ini bisa menjadi alternatif yang menjanjikan bagi banyak individu berisiko tinggi. WHO terus mendorong kolaborasi global untuk memastikan akses dan implementasi yang efektif dari rekomendasi ini di seluruh dunia.





