
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan rencananya untuk mempromosikan investasi dalam teknologi robot bedah di rumah sakit di seluruh Indonesia. Pernyataan ini muncul menyusul peluncuran resmi layanan robot bedah pertama di Indonesia, yaitu sistem Da Vinci Xi, oleh Siloam Hospitals. Robot ini merupakan produk dari Intuitive Surgical, perusahaan asal Amerika Serikat yang terkenal sebagai pelopor dalam bidang pembedahan robotik.
Robot bedah Da Vinci Xi menawarkan keunggulan dalam hal fleksibilitas, akurasi, dan presisi. Dengan desain modern, sistem ini memungkinkan dokter untuk mengendalikan lengan robotik secara real-time, sehingga menjadikan prosedur bedah lebih stabil dan presisi yang sulit dicapai dengan metode konvensional. Teknologi ini diharapkan dapat mengurangi rasa nyeri, menurunkan risiko komplikasi, dan mempercepat waktu pemulihan pasien, yang secara keseluruhan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
Menkes Budi menegaskan bahwa keakuratan dan teknik minimal invasif sangat penting dalam dunia medis. “Presisi itu sangat penting, selain bisa membantu dokter melakukan operasi lebih akurat, pasien juga bisa lebih cepat sembuh dengan teknologi robotik ini,” ungkapnya saat peluncuran Da Vinci Xi di Jakarta.
Budi Gunadi Sadikin juga mencatat betapa Indonesia masih jauh tertinggal dalam penggunaan teknologi robot bedah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Ia menyebutkan bahwa Singapura sudah menggunakan sistem Da Vinci sejak tahun 2000, Malaysia memulai sejak 2003, sementara Thailand juga sudah lebih maju. “Indonesia baru mendapatkan teknologi ini di tahun 2025,” ujarnya, menyoroti bahwa peluncuran Da Vinci Xi adalah langkah maju yang signifikan untuk sektor kesehatan di tanah air.
Upaya pemerintah untuk mempercepat penggunaan robot bedah tersebut diharapkan dapat melibatkan sektor swasta lebih intensif. “Harapannya dengan peran swasta yang harus lebih besar dan lebih maju dari pemerintah, kita bisa mempercepat penggunaan robot bedah ini lebih banyak. Sektor swasta biasanya lebih fleksibel dan efisien dalam menyediakan akses,” tambah Menkes.
Dalam wawancara tersebut, Budi juga mengungkapkan komitmennya untuk mendukung dan melanjutkan kesuksesan penggunaan robot bedah di seluruh Indonesia. Ia menargetkan agar akses terhadap teknologi ini dapat ditemukan di 38 provinsi sebelum masa jabatannya berakhir. “Jika saya bisa tetap sebagai Menteri Kesehatan sampai akhir masa jabatan, saya akan pastikan mesin ini ada di 38 provinsi, karena saya sudah mengumpulkan dana untuk reinvestasi,” tegasnya.
Dengan meningkatnya investasi dan teknologi canggih seperti robot bedah Da Vinci Xi, diharapkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia dapat meningkat secara signifikan. Selain itu, akses yang lebih mudah dan terjangkau terhadap teknologi medis mutakhir ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi berbagai masalah kesehatan yang kompleks.
Para pengamat kesehatan percaya bahwa jika langkah ini berhasil, Indonesia dapat memiliki daya saing yang lebih baik dalam pelayanan kesehatan, sejalan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Melalui adopsi teknologi tersebut, dunia medis Indonesia diharapkan dapat menyongsong era baru dengan alat bedah yang canggih, sehingga meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam penanganan pasien.
Masyarakat pun diharapkan dapat merasakan manfaat dari inovasi ini. Dengan adanya robot bedah, mereka akan mendapatkan layanan kesehatan yang lebih berkualitas dan cepat, yang selama ini mungkin tidak bisa diakses secara luas. Rencana Menkes Budi Gunadi Sadikin ini menjadi simbol harapan baru bagi perkembangan dunia kesehatan di Indonesia, terutama dalam hal akses dan kualitas layanan.





