
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu ancaman serius bagi kesehatan anak-anak di Indonesia. Data menunjukkan bahwa selama 30 tahun terakhir, anak-anak memiliki insiden dengue yang lebih tinggi serta mengalami Disability-Adjusted Life Years (DALYs) yang signifikan, menjadikannya kelompok paling rentan terhadap komplikasi yang lebih berat akibat penyakit ini. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam tiga tahun terakhir, kelompok usia 5 hingga 14 tahun mencatatkan angka kematian tertinggi akibat DBD.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi, dr. Atilla Dewanti, SpA(K), menegaskan bahwa dengue bukanlah penyakit musiman; virus ini ada sepanjang tahun dan dapat menjangkiti siapa saja tanpa memandang usia. Gejala awal DBD sering kali mirip dengan flu, seperti demam tinggi mendadak, nyeri kepala, mual, dan nyeri otot. Namun, jika tidak diobati dengan cepat, dengue dapat berkembang menjadi dengue shock syndrome (DSS), yang berpotensi fatal, khususnya pada anak-anak.
Dengue disebabkan oleh empat serotipe virus (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4), sehingga seseorang dapat terinfeksi lebih dari satu kali. Hal ini menambah risiko anak-anak, sebab infeksi kedua atau ketiga sering kali lebih berat. Saat ini, belum ada obat khusus untuk DBD; pengobatan masih berfokus pada meredakan gejala. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan sangat penting, seperti praktik 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) serta vaksinasi.
Pentingnya vaksinasi ditekankan oleh dr. Atilla, yang menyarankan agar masyarakat mendapatkan dosis sesuai petunjuk dokter untuk perlindungan optimal. Dalam konteks ini, Tasya Kamila, seorang public figure dan ibu dua anak, menyoroti betapa pentingnya bagi orang tua untuk waspada terhadap risiko DBD. Dia mengungkapkan kekhawatirannya, mengingat banyak orang tua belum menyadari bahwa anak-anak adalah kelompok paling berisiko dalam dampak serius akibat infeksi dengue.
“Data menunjukkan angka kematian tertinggi akibat dengue justru terjadi pada anak-anak dan remaja,” jelas Tasya. Dia menekankan bahwa sebagai orang tua, proaktif dalam tindakan pencegahan bukan hanya tanggung jawab, tetapi juga kewajiban. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar, memastikan anak-anak cukup istirahat, dan memberikan nutrisi yang baik adalah langkah-langkah preventif yang dapat diambil.
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menambahkan bahwa perusahaan berkomitmen dalam pencegahan dengue, terutama untuk melindungi anak-anak yang paling rentan. Dalam konteks peringatan Hari Anak Nasional dengan tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju,” Gutknecht menggarisbawahi hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan bebas dari ancaman penyakit yang bisa dicegah seperti dengue.
Meskipun DBD terus menjadi tantangan bagi banyak keluarga di Indonesia, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan—dari pemerintah hingga sektor swasta—dapat membantu memperkuat upaya pencegahan. Kolaborasi antara masyarakat dan lembaga kesehatan sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan memutus rantai penularan. Takeda, misalnya, berencana untuk terus mendukung efisiensi program pendidikan kesehatan yang menjangkau masyarakat langsung, guna meningkatkan pengetahuan akan dengue.
Dalam menghadapi ancaman kesehatan ini, upaya bersama dibutuhkan untuk memastikan anak-anak tidak hanya terlindungi dari DBD, tetapi juga dapat menikmati masa kecil mereka dengan aman dan sehat. Pemerintah dan masyarakat juga diharapkan lebih responsif dalam merespons dan menangani kasus DBD, guna mencapai target nol kematian akibat dengue di tahun 2030.





