Bukan Fiksi: Film Ini Tampilkan Perjuangan Nyata Lawan Tumor Otak

Film dokumenter berjudul Awake Brain Surgery: Where Miracles Begin baru saja ditayangkan perdana dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Film ini merekam perjuangan nyata pasien tumor otak yang menjalani operasi kompleks, memberikan gambaran mendalam tentang tantangan yang dihadapi pasien dan tim medis. Dengan dukungan Dr. dr. Mardjono Tjahjadi, Sp.BS, yang dikenal sebagai Dr. Joy, film ini menawarkan perspektif yang belum pernah dilihat oleh masyarakat luas tentang proses penyembuhan yang sering kali tersembunyi di balik dinding rumah sakit.

Salah satu cerita paling menyentuh dalam film ini adalah kisah Ryu, bocah berusia enam tahun yang didiagnosis dengan tumor otak berukuran 5x5x5 sentimeter. Tumor ini menempati sekitar 70 persen area fosa posterior, bagian otak yang sangat vital bagi fungsi dasar kehidupan. Dalam operasi berdurasi dua jam, Dr. Joy berhasil mengangkat tumor tersebut menggunakan teknik bedah mikro, yang memungkinkan pemulihan cepat bagi Ryu, yang beberapa jam setelah operasi sudah bisa berdiri dan makan sendiri.

Kisah lainnya berasal dari Robby, seorang dewasa yang mengalami epilepsi selama 16 tahun akibat tumor di area frontal otak. Ia menjalani prosedur awake brain surgery, yaitu operasi otak di mana pasien tetap sadar sepanjang prosesnya. Metode ini memungkinkan dokter untuk memastikan fungsi bicara, memori, dan motorik tidak terganggu selama pengangkatan tumor. Robby menunjukkan kemajuan signifikan, di mana ia mampu berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya yang sempat lumpuh setelah operasi.

Film dokumenter ini merupakan inisiatif dari Mandaya Royal Hospital Puri dalam rangka mendidik masyarakat mengenai tumor otak. Mereka berusaha menampilkan informasi medis dengan pendekatan visual dan humanis untuk mengedukasi publik tentang kompleksitas pengobatan tumor otak. "Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi medis dan keahlian dokter dalam negeri berkembang pesat, bahkan untuk menangani kondisi yang sangat kompleks sekalipun," ungkap Erwin Suyanto, Public Relation Mandaya Hospital Group.

Dalam film ini, kerjasama lintas disiplin antara dokter spesialis bedah saraf, neurologi, anestesi, dan bidang lain terlihat jelas. Pendekatan kolaboratif ini diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan di dunia medis. Mandaya Royal Hospital Puri juga dilengkapi berbagai teknologi canggih, seperti Intraoperative Neuromonitoring (IONM), Digital PET CT Scan, dan mesin radioterapi LINAC ELEKTA VERSA HD, yang semuanya mendukung kesuksesan operasi.

Lebih dari sekadar aspek medis, film ini juga menyuguhkan sisi emosional dan spiritual dari perjuangan para pasien dan keluarganya. Melalui testimoni pasien dan narasi dari rekan sejawat, penonton diajak merasakan ketegangan, harapan, dan keikhlasan yang menyelimuti proses penyembuhan. Kendati operasi otak merupakan tindakan yang sangat berisiko, momen-momen menggembirakan dan harapan kembali normal memberikan inspirasi yang kuat.

Pengalaman Dr. Joy yang menyelesaikan studi doktoralnya di Helsinki, Finlandia, dalam waktu singkat, menambah nilai pada film ini. Ia memperoleh penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk pencapaiannya. Di Finlandia, ia memperdalam filosofi pentingnya menghormati setiap milimeter jaringan otak dalam tindakan bedah, yang semakin memperkaya pendekatannya terhadap pasien.

“Peluncuran film ini adalah komitmen kami untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya teknologi, kolaborasi tim medis, dan nilai kemanusiaan dalam setiap tindakan medis,” jelas Erwin. Film ini bukan hanya menceritakan perjuangan pasien, tetapi juga menunjukkan bagaimana ilmu, teknologi, dan empati dapat menyatu untuk menciptakan keajaiban dalam penyembuhan tumor otak.

Dengan tayangnya film ini, diharapkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit tumor otak dan proses pengobatannya dapat meningkat, serta menumbuhkan kepercayaan publik terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia.

Berita Terkait

Back to top button