
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan gadget dan internet telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, lebih dari 79,5% populasi Indonesia sudah terhubung dengan internet. Di tengah kecenderungan ini, muncul kekhawatiran serius mengenai dampak negatif terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan remaja.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa 29% remaja berusia 10–19 tahun di Indonesia mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Fenomena ini menunjukkan pentingnya fokus pada dampak psikologis dari kehidupan digital. dr. Herwin Meifendy, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, memaparkan bahwa sekitar 5,91% penduduk Jakarta mengalami depresi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 0,06% mengalami gangguan kejiwaan berat dan 0,44% pernah memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup.
"Sejak 2018, sekitar 5,91% penduduk DKI Jakarta mengalami depresi," jelas dr. Herwin. Kendati angka depresi di Jakarta cukup tinggi, banyak masalah lain yang membuat isu ini sulit ditangani. Salah satunya adalah aksesibilitas yang terbatas ke layanan kesehatan mental, serta stigma negatif terhadap orang dengan masalah kesehatan mental.
Dari laporan Kementerian Kesehatan, depresi merupakan penyebab utama disabilitas pada remaja. Mengkhawatirkan, bunuh diri juga tercatat sebagai penyebab keempat kematian pada remaja di dunia. Survei yang dilakukan pada tahun 2022 menemukan bahwa 5,5% remaja berusia 10-17 tahun mengalami gangguan mental. Sekitar 1% di antaranya mengalami depresi, sementara 3,7% mengalami kecemasan.
Penggunaan Gadget dan Kesehatan Mental
Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental adalah penggunaan gadget secara berlebihan. Rachel Yiska Setyadi, Vice President Sales Marketing PT Indomobil Edukasi Utama, mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan kerentanan terhadap masalah kesehatan mental, terutama di kalangan anak muda. Dia menekankan bahwa meskipun teknologi memiliki manfaat, penggunaan yang berlebihan dapat memperburuk kondisi mental.
Harry Iskandar, Country Manager for Volvo Buses Indonesia, juga menyatakan bahwa era digitalisasi membawa dampak negatif bagi pengguna, terutama bagi mereka yang menggunakan gadget secara berlebihan. "Perlu edukasi sejak muda mengenai digitalisasi agar generasi muda cukup kuat dan tangguh di masa depan," ujarnya.
Data dari survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa proporsi depresi di kalangan anak muda, khususnya mereka yang berusia 15-24 tahun, sangat mengkhawatirkan. Beberapa faktor yang berhubungan dengan depresi di kelompok ini meliputi jenis kelamin, status pendidikan, status ekonomi, dan tempat tinggal.
Stigma dan Kesadaran Kesehatan Mental
Banyak orang yang mengalami gangguan psikologis tidak menyadari kondisi mereka atau tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Keterbatasan informasi dan minimnya kesadaran akan kesehatan mental membuat masyarakat enggan mencari bantuan. "Bagi siapapun yang merasa mengalami masalah kesehatan mental sebaiknya berkonsultasi ke ahli, jangan ke orang yang salah," tambah dr. Herwin.
Kendalanya bukan hanya pada akses dokter, tetapi juga pada stigma sosial yang melekat pada masalah kesehatan mental. Masyarakat harus menyadari bahwa depresi dan gangguan mental bukanlah aib, melainkan penyakit yang memerlukan penanganan serius.
Pendidikan mengenai kesehatan mental harus dimulai sejak dini. Generasi muda perlu diberi pengetahuan tentang dampak kecanduan gadget serta cara-cara untuk menjaga kesehatan mental mereka. Penelitian menunjukkan bahwa ketahanan mental dapat dihasilkan melalui berbagai cara, salah satunya dengan membekali mereka dengan keterampilan mengelola stres dan emosi.
Dengan semakin meningkatnya angka penggunaan gadget di Indonesia, perhatian lebih perlu diberikan kepada dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan mental. Upaya peningkatan kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan mental sangat penting untuk melindungi generasi muda dari risiko yang lebih besar di masa depan.





