Sering Sakit Dengan Hasil Lab Normal? Waspada Psikosomatik dan Cara Atasinya!

Sering merasa sakit tetapi hasil lab menunjukkan kondisi yang normal? Fenomena ini bisa jadi tanda adanya gangguan psikosomatik yang perlu diwaspadai. Psikosomatik adalah kondisi di mana gejala fisik muncul akibat faktor psikologis dan emosional. Sebuah kajian dari Bethsaida Hospital Gading Serpong mengungkapkan bahwa hubungan antara tubuh dan pikiran sangat erat. Ketika beban emosional menumpuk tanpa penyaluran yang sehat, tubuh dapat “berbicara” melalui berbagai gejala fisik yang membingungkan.

Dr. E. Mudjaddid, Sp.PD-KPsi, seorang dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan psikosomatik, menjelaskan bahwa psikosomatik bukanlah sekadar keluhan yang dibuat-buat. “Bukan berarti pasien berpura-pura sakit, tetapi emosi negatif seperti kecemasan, ketakutan, atau trauma masa lalu dapat ‘menyamar’ menjadi gejala fisik di berbagai organ tubuh,” ungkapnya. Keluhan pasien yang mengalami psikosomatik sangat bervariasi, mulai dari nyeri lambung hingga gangguan tidur. Sayangnya, setelah serangkaian pemeriksaan medis, hasilnya sering kali menunjukkan tidak ada kelainan organik.

Gejala psikosomatik ini dapat berpindah dari satu organ ke organ lainnya dalam waktu singkat, yang semakin menambah kebingungan baik untuk pasien maupun tenaga medis. Kondisi ini muncul sebagai respon tubuh terhadap emosi yang belum terselesaikan, seperti stres berkepanjangan atau trauma yang tidak diakui. Meski tidak tergolong dalam gangguan kejiwaan berat, penanganan yang tepat tetap diperlukan. Dibiarkan tanpa pengelolaan yang sesuai, psikosomatik dapat berkembang menjadi kerusakan organik yang nyata.

Dalam rangka menangani kondisi ini, Bethsaida Hospital menawarkan layanan psikosomatik terpadu yang melibatkan pendekatan medis dan psikologis. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengobatan fisik, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan spiritual pasien. Pemeriksaan fisik yang menyeluruh serta pemberian obat sesuai kebutuhan menjadi langkah awal penanganan. Namun, yang membedakan adalah adanya psiko-edukasi yang bertujuan untuk membangun hubungan komunikatif dan suportif antara dokter dan pasien.

Aspek sosial dan kultural pasien juga diakui sebagai faktor yang mempengaruhi kesehatan. Tekanan ekonomi atau konflik rumah tangga, misalnya, bisa menjadi sumber masalah yang memicu gejala. Pendekatan spiritual juga tidak kalah penting dalam proses penyembuhan. Melalui pemaknaan hidup yang lebih dalam, pasien dapat menemukan ketenangan batin yang diperlukan untuk kesembuhan.

Dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital, menyatakan, “Kami memahami bahwa pasien dengan gangguan psikosomatik memerlukan pendekatan yang berbeda dan menyeluruh.” Dengan dukungan tim medis yang berpengalaman, rumah sakit ini bertujuan menjadi tempat pemulihan yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga memulihkan pikiran dan jiwa pasien.

Bagi mereka yang merasa terjebak dalam siklus sakit fisik tanpa penyebab yang jelas, penting untuk mendiskusikan gejala ini dengan tenaga medis yang memahami aspek psikosomatik. Pasien perlu merasa didengarkan dan didampingi dalam perjalanan penyembuhan mereka. Kesembuhan sejati tidak hanya berasal dari obat, tetapi juga dari pemahaman dan pendampingan yang komprehensif terhadap manusia sebagai individu utuh.

Merawat kesehatan mental dan emosional sama pentingnya dengan merawat kesehatan fisik. Apabila Anda mengalami gejala yang tampak tidak terkait dengan masalah organik, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahli yang memahami hubungan antara pikiran dan tubuh untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Berita Terkait

Back to top button