Metode diet yang dikenal sebagai puasa intermiten kini semakin populer, terutama pola 18:6, yang melibatkan 18 jam berpuasa dan hanya memperbolehkan makan dalam jendela waktu 6 jam. Diet ini tidak hanya bertujuan menurunkan berat badan, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan lain, termasuk perbaikan metabolisme. Meskipun terdengar menantang, jika diterapkan dengan benar, pola diet ini bisa menjadi strategi yang sehat untuk jangka panjang.
Mengenal Diet Puasa Intermiten
Puasa intermiten adalah metode diet yang membatasi asupan kalori dalam periode waktu tertentu. Dalam pola 18:6, misalnya, seseorang bisa mengatur waktu makan antara pukul 12.00 hingga 18.00, sementara sisa waktu, yaitu 18 jam, dijalani tanpa makanan. Selama periode puasa ini, konsumsi cairan seperti air putih, teh herbal, atau kopi hitam tetap diperbolehkan tanpa tambahan gula. Pendekatan ini juga telah terbukti dapat meningkatkan kejernihan mental dan mengurangi risiko penyakit kronis, menurut informasi dari sumber terpercaya seperti Season Health.
Tips untuk Menjalani Diet 18 Jam
-
Hidrasi yang Baik
Tubuh tetap memerlukan cairan selama puasa. Penting untuk minum air putih secara rutin, terutama di pagi hari. Air tidak hanya mempertahankan fungsi organ tetapi juga dapat mengurangi rasa lapar semu. -
Jadwal Makan Konsisten
Memilih waktu makan yang sesuai dengan rutinitas harian dan tetap konsisten setiap hari sangat dianjurkan. Perubahan waktu makan dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, yang dapat mempengaruhi kesehatan metabolisme. -
Kualitas Makanan
Penting untuk tidak mengisi waktu makan dengan makanan tinggi gula atau lemak jenuh. Sebagai gantinya, berfokuslah pada makanan bergizi seperti sayuran, protein tanpa lemak, biji-bijian utuh, dan lemak sehat. -
Serat dan Protein
Mengonsumsi makanan kaya serat dan protein penting untuk menjaga massa otot dan memberi rasa kenyang lebih lama. Sumber protein seperti telur, ayam, ikan, atau alternatif nabati seperti tahu sangat dianjurkan. -
Hindari Olahraga Berat Saat Puasa
Melakukan aktivitas fisik berat saat perut kosong dapat menyebabkan kelelahan yang berlebihan. Sebaiknya, pilih aktivitas ringan seperti berjalan atau yoga selama periode puasa, dan gunakan waktu makan untuk olahraga yang lebih intens. -
Pantau Respons Tubuh
Reaksi tubuh berbeda-beda. Jika mengalami pusing, kelelahan, atau kesulitan berkonsentrasi, bisa jadi pola ini kurang cocok. Konsultasi dengan ahli gizi yang dapat memberikan rekomendasi lebih sesuai juga sangat bermanfaat. - Kualitas Tidur
Tidur yang cukup sangat berpengaruh terhadap keberhasilan diet. Terbukti bahwa kurang tidur dapat meningkatkan rasa lapar. Upayakan tidur 7-8 jam setiap malam agar tubuh lebih siap menghadapi perubahan pola makan.
Keberhasilan Diet 18 Jam
Diet 18 jam tanpa makan bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan, asalkan pendekatan diambil dengan hati-hati dan penuh konsistensi. Mengelola pola makan dan memperhatikan respon tubuh menjadi kunci utama untuk mendukung efisiensi diet ini.
Bagi individu yang ingin mencoba metode ini, penting untuk memulai dengan perlahan dan memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi. Memanfaatkan saran dari ahli gizi atau mengikuti perkembangan terbaru tentang diet dan kesehatan juga dapat membantu mencapai tujuan diet yang lebih baik. Dengan penerapan dan disiplin yang baik, diet ini bisa membawa banyak manfaat bagi kesehatan jangka panjang.





