Dalam tujuh bulan terakhir, Kabupaten Lumajang mencatat 1.320 kasus tuberkulosis (TBC) yang cukup memprihatinkan. Data dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) menunjukkan bahwa mayoritas pasien terinfeksi berada di kelompok usia produktif, yakni antara 15 hingga 49 tahun, yang mencapai sekitar 70 persen dari total kasus. Anak-anak usia 0–14 tahun juga terdampak, meskipun jumlahnya relatif lebih kecil, tercatat 108 kasus.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menegaskan bahwa TBC bukan semata masalah kesehatan, melainkan juga merupakan ancaman bagi ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat. “Ketika kelompok usia produktif terserang TBC, produktivitas menurun, pendapatan keluarga terganggu, dan kualitas hidup masyarakat ikut terdampak,” ujarnya saat diwawancara oleh wartawan, Selasa (12/8/2025).
Dampak TBC terhadap Kelompok Usia Produktif
Penularan TBC pada usia produktif sangat berisiko karena kelompok ini merupakan tulang punggung perekonomian keluarga maupun masyarakat luas. Penurunan kemampuan kerja akibat sakit akan mengganggu pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Hal ini dapat memperburuk situasi sosial ekonomi wilayah dan memicu masalah kesehatan lebih luas.
Bupati Indah mengingatkan pentingnya deteksi dini dan pengobatan tuntas sebagai dua langkah kunci dalam menekan penularan penyakit ini. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dan menjalani pengobatan secara lengkap menjadi prioritas utama dalam memutus rantai penyebaran TBC.
Upaya Pemerintah Lumajang
Pemerintah Kabupaten Lumajang aktif menggalakkan kampanye edukasi mengenai pencegahan dan pengobatan TBC. Ide utamanya adalah memastikan masyarakat memahami bahwa TBC bisa dicegah dan disembuhkan jika diagnosis dilakukan lebih awal serta pengobatan dijalani hingga tuntas.
Untuk memperluas jangkauan informasi, Pemkab menggandeng berbagai elemen masyarakat, seperti pondok pesantren, sekolah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang membantu menyebarkan pesan-pesan kesehatan, khususnya terkait pengendalian TBC.
Beberapa langkah pencegahan yang disosialisasikan meliputi:
- Edukasi etika batuk agar penularan melalui droplet bisa diminimalisasi
- Perbaikan ventilasi rumah untuk mengurangi konsentrasi bakteri di udara
- Kebersihan lingkungan sebagai langkah mencegah berbagai penyakit
- Konsumsi makanan bergizi guna meningkatkan daya tahan tubuh
- Menghindari rokok dan asap rokok karena dapat memperparah risiko infeksi
Menurut Bupati Indah, kolaborasi antara pemerintah dan berbagai komponen masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mengatasi TBC secara menyeluruh. “Dengan edukasi terus-menerus dan penyuluhan, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga generasi masa depan dari ancaman TBC,” tuturnya.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Jumlah kasus TBC yang tinggi menunjukkan perlunya perhatian ekstra dari seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah daerah harus terus meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, seperti menyediakan fasilitas deteksi yang lebih mudah dan pengobatan gratis yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Selain itu, pengawasan dan pendampingan pasien juga penting agar pengobatan dapat dilaksanakan secara konsisten dan tidak menyebabkan resistensi obat. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengobatan yang tuntas perlu terus ditingkatkan untuk meminimalkan risiko kekambuhan dan penularan lebih luas.
Data terbaru dari Kabupaten Lumajang ini sekaligus menjadi pengingat bagi daerah lain untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap epidemi TBC. Penyakit ini mampu menggerogoti produktivitas dan kesejahteraan masyarakat, sehingga penanganannya harus menjadi prioritas bersama baik dari sisi bidang kesehatan maupun aspek sosial ekonomi.
Dengan peran serta aktif masyarakat dan dukungan pemerintah, kasus TBC di Lumajang diharapkan dapat ditekan secara signifikan, mengurangi dampak buruknya terhadap generasi produktif dan masa depan daerah itu.





