Mpok Alpa Mengidap Kanker Payudara, Apakah Aman Menyusui Anak? Ini Faktanya

Komedian Mpok Alpa, yang dikenal luas di dunia hiburan Indonesia, meninggal dunia akibat kanker payudara yang telah dideritanya. Perjuangan Mpok Alpa menghadapi penyakit ini juga disertai dengan pengalamannya sebagai ibu yang tetap menyusui anak kembarnya meski berjuang melawan kanker. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah penderita kanker payudara aman untuk menyusui anaknya?

Mpok Alpa, dengan nama asli Nina Carolina, meninggalkan suami dan empat orang anak, termasuk sepasang bayi kembar yang lahir pada Oktober 2024. Dalam beberapa kesempatan sebelum meninggal, ia sempat berbagi pengalaman bagaimana menyusui kedua anaknya secara bergantian di malam hari, dengan dukungan penuh dari suaminya. Ia menyebutkan bahwa bayinya menyusu tiap dua jam bahkan di malam hari, dan ia berusaha memberikan ASI meski dalam kondisi fisik yang tidak prima.

Apakah Menyusui Aman bagi Penderita Kanker Payudara?

Menurut dr. Khoo Kei Siong, konsultan senior onkologi medis dari Parkway Cancer Centre Singapura, sel kanker payudara tidak dapat menular melalui ASI. "Ibu yang menyusui tidak akan menularkan sel kanker kepada bayinya dan tetap bisa memproduksi ASI," jelasnya dalam pernyataan resmi.

Namun, ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan. Wanita dengan kanker payudara yang menjalani kemoterapi harus waspada, karena obat-obatan kemoterapi bisa berbahaya jika tersalurkan melalui ASI ke bayi. Dalam situasi ini, penderita dianjurkan untuk sementara mengganti ASI dengan susu formula hingga pengobatan selesai dan kondisi membaik.

Pasien yang menjalani operasi mastektomi atau pengangkatan payudara masih dapat menyusui dari payudara yang tidak dioperasi, setelah masa pemulihan. Sedangkan terapi radiasi (sinar) juga dapat memengaruhi produksi ASI sehingga harus dipertimbangkan secara medis.

Menyusui dan Risiko Kanker Payudara

Banyak masyarakat yang salah kaprah mengenai hubungan antara menyusui dan kanker payudara. Studi kedokteran justru menunjukkan bahwa menyusui tidak menyebabkan kanker payudara. Sebaliknya, menyusui memiliki manfaat perlindungan karena dapat mengurangi paparan estrogen, hormon yang terkait dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Faktor risiko utama kanker payudara justru lebih banyak berasal dari genetika dan riwayat keluarga. Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, misalnya, sangat berperan dalam peningkatan risiko kanker payudara dan ovarium. Oleh karenanya, pengujian genetik dan deteksi dini dianjurkan bagi individu dengan riwayat keluarga kanker untuk mendapatkan intervensi yang tepat.

Menyusui dengan Perhatian Medis

Penting bagi penderita kanker payudara untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum dan selama menyusui. Keputusan ini harus mempertimbangkan jenis terapi yang sedang dijalani serta kondisi kesehatan ibu secara keseluruhan.

Kisah Mpok Alpa menjadi ilustrasi nyata bahwa meskipun menghadapi penyakit berat seperti kanker payudara, seorang ibu tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk melalui pemberian ASI secara langsung. Namun, keselamatan bayi tetap menjadi prioritas utama sehingga pengawasan medis sangat disarankan.

Dengan pemahaman yang tepat mengenai kondisi kanker payudara dan penyusuan, para ibu penderita kanker dapat mengambil keputusan yang bijaksana demi kesehatan dirinya dan buah hati. Informasi dari para ahli onkologi dan medis menjadi sumber utama dalam menentukan langkah terbaik bagi ibu dan bayi dalam situasi medis khusus ini.

Berita Terkait

Back to top button