
Bau badan sering dianggap sebagai masalah sepele yang hanya menimbulkan rasa malu atau ketidaknyamanan sosial. Namun, bau badan juga bisa menjadi indikator adanya masalah kesehatan yang mendasari. Menurut laporan yang dikutip dari Times of India melalui Bisnis.com, bau badan muncul akibat interaksi antara bakteri dengan keringat yang dikeluarkan tubuh. Selain itu, faktor seperti genetika, usia, pola makan, dan gaya hidup juga ikut memengaruhi karakter aroma tubuh yang dikeluarkan seseorang.
Faktor Penyebab Bau Badan
Salah satu faktor genetika yang berperan adalah gen ABCC11. Variasi gen ini menentukan apakah seseorang akan mengeluarkan bau ketiak khas atau tidak. Beberapa individu dengan versi gen yang tertentu bahkan tidak menghasilkan bau sama sekali, walau mengalami keringat. Usia juga berkontribusi terhadap perubahan bau badan secara alami. Seiring bertambahnya usia, senyawa kimia bernama 2-nonenal meningkat, menghasilkan aroma yang khas dan sering disebut sebagai “bau orang tua” yang cenderung berminyak dan seperti rumput.
Pola makan memiliki pengaruh signifikan. Konsumsi bawang putih, bawang merah, sayuran silangan seperti kubis dan brokoli, serta hidangan pedas dan daging merah, bisa memperkuat bau badan. Gaya hidup yang penuh stres, aktivitas fisik intens, hingga pemakaian pakaian ketat dapat meningkatkan produksi keringat dan aktivitas bakteri di kulit, menjadikan bau badan lebih kuat.
Tanda-tanda Masalah Kesehatan dari Jenis Bau Badan
Tidak semua bau badan memiliki sumber yang sama. Perbedaan aroma bisa menjadi sinyal kondisi kesehatan tertentu. Misalnya, bau yang beraroma buah atau seperti cat kuku dapat menandakan ketoasidosis diabetikum, kondisi serius yang terjadi ketika tubuh membakar lemak karena kekurangan insulin, sehingga menghasilkan keton yang berbau manis.
Jika bau badan menyerupai aroma pemutih atau amonia, hal ini dapat menjadi peringatan adanya gangguan ginjal atau masalah hati. Kondisi ini menyebabkan akumulasi racun dalam tubuh yang kemudian keluar melalui keringat atau napas dengan aroma tidak sedap.
Bau kaki yang sangat apek dan jamuran juga bukan sekadar masalah kebersihan. Infeksi jamur atau kutu air pada kaki yang terjadi akibat kelembapan dan keringat bisa menjadi penyebab utama bau tak sedap tersebut. Selain itu, bromhidrosis atau bau keringat yang berlebih sering disebabkan oleh hiperhidrosis, yaitu keadaan di mana kelenjar keringat menghasilkan keringat secara berlebihan yang kemudian diuraikan oleh bakteri sehingga menimbulkan bau menyengat. Kondisi ini memungkinkan dampak negatif pada psikologis pengidap, seperti kecemasan sosial hingga penarikan diri.
Pengaruh Stres terhadap Bau Badan
Menariknya, stres juga memengaruhi aroma tubuh. Studi terbaru menemukan bahwa stres dapat menyebabkan perubahan pada emisi kulit sehingga bau yang muncul menyerupai aroma daun bawang goreng. Fenomena ini menunjukkan bahwa bau badan bisa mencerminkan keadaan emosional seseorang, bukan hanya faktor fisik saja.
Bau Badan sebagai Isyarat Peradangan dan Penyakit
Tubuh yang sedang mengalami peradangan atau infeksi juga dapat mengeluarkan bau yang berubah dan lebih tajam. Penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi demam dan peradangan, tubuh mengeluarkan sinyal kimia khusus yang dapat tercium melalui bau badan. Hal ini bisa menjadi salah satu petunjuk tidak langsung adanya gangguan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian.
Pemicu Umum Bau Badan yang Perlu Diwaspadai
Berikut faktor umum yang sering memicu bau badan menyengat:
- Infeksi bakteri dan jamur pada kulit.
- Kondisi medis seperti diabetes dan gangguan ginjal.
- Perubahan hormonal dan metabolisme tubuh.
- Pola makan tertentu, terutama makanan penyebab bau.
- Stres dan kondisi psikologis.
- Usia dan faktor genetika.
Memahami karakteristik bau badan dan penyebabnya membantu dalam mengenali potensi masalah kesehatan yang mungkin tersembunyi. Kurang tepatnya penanganan bau badan tidak hanya berdampak pada kualitas hidup sosial, tetapi juga bisa menunda diagnosis penyakit serius. Bila bau badan tiba-tiba berubah dengan aroma tidak biasa atau disertai gejala lain, konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat disarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan yang tepat.





