Komedian Nina Carolina atau yang dikenal dengan nama Mpok Alpa meninggal dunia pada Jumat, 15 Agustus 2025, setelah berjuang melawan kanker payudara selama tiga tahun. Di balik perjuangannya itu, terungkap sebuah cerita yang menginspirasi tentang usahanya memberikan ASI eksklusif untuk bayi kembarnya. Kondisi ini sekaligus membuka diskusi penting: apakah aman bagi penderita kanker payudara untuk menyusui bayinya?
Sel Kanker dan Risiko Penularan Melalui ASI
Salah satu kekhawatiran utama orang tua yang menghadapi kanker payudara adalah potensi penularan sel kanker kepada bayi melalui ASI. Namun, para ahli sepakat bahwa kanker payudara bukan penyakit menular dan sel kanker tidak dapat berpindah lewat air susu ibu. “Ibu yang menyusui tidak akan menularkan sel kanker kepada bayinya dan [wanita penyintas kanker payudara] tetap bisa memproduksi ASI,” terang seorang pakar onkologi dalam sebuah pernyataan kesehatan.
Selain itu, studi yang dikutip dari sumber terpercaya memaparkan bahwa seorang ibu dengan kanker payudara boleh saja menyusui atau memompa ASI selama dari payudara yang sehat atau payudara yang sudah dianggap bersih dari sel kanker. Secara prinsip, ASI dari payudara tersebut aman untuk bayi.
Dilema Pengobatan Kanker dan Menyusui
Meski sel kanker tidak menular, tantangan utama terletak pada pengaruh pengobatan yang dijalani oleh ibu. Efek samping terapi kanker sering menjadi alasan utama menghentikan pemberian ASI demi keselamatan bayi. Ada beberapa jenis pengobatan yang berbeda dampaknya terhadap menyusui:
-
Kemoterapi
Obat kemoterapi mengandung zat kimia yang sangat berbahaya bagi bayi jika terkandung dalam ASI. Karena obat ini dapat menembus ASI, dokter umumnya menganjurkan ibu untuk berhenti menyusui selama pengobatan dan sampai obat sepenuhnya hilang dari tubuh. -
Terapi Radiasi
Radiasi yang disasarkan pada payudara tidak membuat ASI menjadi radioaktif. Namun, terapi ini bisa merusak jaringan kelenjar susu dan menurunkan produksi ASI. Radiasi juga dapat mengubah kondisi puting sehingga menyulitkan bayi dalam proses menyusui. -
Terapi Hormon dan Terapi Target
Pengobatan dengan terapi hormon seperti tamoxifen atau terapi target juga dapat masuk ke dalam ASI dan berpotensi membahayakan bayi, sehingga menyusui selama pengobatan ini tidak dianjurkan. - Operasi Payudara
Jenis operasi memengaruhi kemampuan menyusui. Setelah lumpektomi, beberapa ibu masih mungkin menyusui dari payudara yang dirawat. Namun, mastektomi (pengangkatan seluruh payudara) otomatis membatasi kemampuan menyusui hanya pada sisi payudara yang tersisa.
Perjuangan Mpok Alpa Menghadapi Dilema Ini
Mpok Alpa yang diketahui harus menjalani pengobatan kanker sejak kehamilan anak kembarnya memperlihatkan betapa kompleksnya situasi tersebut. Sahabat dekat almarhumah, Raffi Ahmad, menjelaskan, “Saat hamil pun Mpok Alpa harus menjalani treatment pengobatan untuk kanker, kita bersyukur Rafa dan Rafi lahir dengan selamat saat dia melawan cancernya.” Kisah ini memperlihatkan betapa beratnya keputusan medis dan personal yang harus diambil.
Rekomendasi Medis dan Pendampingan untuk Ibu Pejuang Kanker
Dokter onkologi, dokter kandungan, dan konsultan laktasi sebaiknya terlibat dalam menentukan apakah seorang ibu penderita kanker payudara dapat melanjutkan menyusui. Jika diagnosis kanker datang ketika ibu sedang menyusui, biasanya dokter menyarankan untuk menghentikan menyusui agar fokus pada pengobatan.
Bagi penyintas yang sudah menyelesaikan terapi dan dinyatakan bebas kanker, biasanya menyusui dapat dilakukan dengan aman. Namun, konsultasi medis tetap penting untuk memastikan tidak ada zat sisa pengobatan yang mempengaruhi kualitas ASI.
Hak dan Prioritas Ibu Dalam Memilih Menyusui
Keputusan untuk menyusui adalah hak pribadi setiap ibu, termasuk mereka yang berjuang melawan kanker payudara. Tetapi prioritas utama adalah menjaga kesehatan ibu dan keamanan bayi. Informasi yang benar dan pendampingan dari tenaga medis berperan penting dalam mengambil keputusan terbaik.
Kisah Mpok Alpa mengingatkan masyarakat bahwa di balik perjuangan keras melawan kanker, kebutuhan dan hak seorang ibu dalam menyusui juga memerlukan perhatian dan pertimbangan khusus agar dapat terlaksana dengan aman dan optimal.





