Insomnia merupakan gangguan tidur yang tidak hanya sekadar kesulitan untuk tidur, tetapi juga mencakup berbagai masalah kualitas tidur yang memengaruhi keseharian. Banyak orang mengira insomnia hanya satu jenis, padahal secara klinis terdapat berbagai jenis insomnia yang perlu dikenali untuk penanganan yang tepat.
7 Jenis Insomnia yang Jarang Diketahui
-
Insomnia Akut
Insomnia ini terjadi dalam jangka pendek, biasanya kurang dari tiga bulan. Penyebab utama adalah stres atau kejadian traumatis yang tiba-tiba, seperti kehilangan orang terdekat atau tekanan pekerjaan. Meski relatif singkat, jika tidak ditangani, insomnia akut berpotensi berkembang menjadi kondisi kronis. Kelompok paling rentan adalah wanita, khususnya yang sedang hamil atau mengalami menopause. -
Insomnia Kronis
Berbeda dengan akut, insomnia kronis berlangsung lebih dari tiga bulan dengan frekuensi tiga kali atau lebih per minggu. Faktor pemicunya beragam, mulai dari gangguan mental seperti depresi dan kecemasan, hingga penyakit neurologis dan penggunaan obat tertentu. Insomnia jenis ini seringkali berhubungan dengan pola tidur yang terganggu secara konsisten. -
Insomnia Sleep Onset
Jenis ini meliputi kesulitan memulai tidur meskipun tubuh sudah merasa lelah. Penderitanya kerap terjaga selama 20 menit hingga beberapa jam tanpa bisa terlelap. Biasanya berkaitan dengan tekanan psikologis seperti stres dan kecemasan. Akibatnya, jam tidur berkurang drastis dan menyebabkan rasa lelah berlebih di siang hari. -
Insomnia pada Anak-anak
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami insomnia. Kebiasaan tidur seperti harus digendong, diberi dot, atau ditemani bisa membuat anak sulit tidur jika tidak terpenuhi. Jadwal tidur yang tidak konsisten juga menjadi faktor risiko utama. Oleh karena itu, menanamkan rutinitas tidur yang teratur sangat penting untuk mencegah gangguan tidur pada anak. -
Insomnia Akibat Obat-obatan atau Zat Tertentu
Konsumsi zat stimulan seperti kafein, alkohol, nikotin, dan makanan pedas dapat memengaruhi kualitas tidur. Zat-zat ini meningkatkan aktivitas tubuh sehingga sulit untuk rileks dan tertidur dengan nyenyak. Mengurangi atau menghentikan konsumsi zat tersebut sebelum tidur menjadi solusi efektif untuk mengatasi masalah ini. -
Insomnia karena Kondisi Medis
Berbagai gangguan kesehatan mental dan fisik dapat menimbulkan insomnia. Contohnya adalah depresi, gangguan kecemasan, bipolar, ADHD, maupun penyakit saraf lainnya. Penanganan insomnia dalam kasus ini harus bersamaan dengan pengobatan penyakit utama agar optimasi pola tidur bisa dicapai tanpa komplikasi. - Insomnia Campuran
Seringkali, seseorang tidak hanya mengalami satu jenis insomnia saja, melainkan kombinasi dari beberapa jenis sekaligus. Kondisi ini dikenal sebagai insomnia campuran yang membuat gejalanya bervariasi dan sulit dikenali secara pasti. Pengidap insomnia campuran dapat mengalami kesulitan memulai tidur, mudah terbangun di malam hari, dan bangun terlalu pagi.
Penyebab dan Cara Mengatasi Insomnia
Penyebab insomnia sangat beragam, mulai dari faktor psikologis, gaya hidup, hingga kondisi medis. Gelombang otak yang dominan tingkat beta dan high beta saat malam hari, seperti yang terjadi pada kasus beauty influencer Tasya Farasya, menunjukkan aktivitas otak yang berlebih sehingga mengganggu proses tidur. Secara umum, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia:
- Menetapkan jadwal tidur yang konsisten untuk rutinitas bangun dan tidur.
- Mengurangi konsumsi kafein, alkohol, dan makanan berat menjelang tidur.
- Membatasi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur agar tidak overstimulasi otak.
- Melakukan teknik relaksasi seperti meditasi atau pernapasan dalam untuk menenangkan pikiran.
- Segera berkonsultasi ke dokter apabila insomnia sudah mengganggu aktivitas sehari-hari agar mendapat penanganan yang tepat.
Kasus Tasya Farasya memberikan contoh nyata bahwa insomnia bisa dialami oleh siapa saja, tak terkecuali mereka dengan aktivitas padat dan gaya hidup modern. Mengidentifikasi jenis dan penyebab insomnia penting agar solusi yang diambil dapat efektif dan tidak memperburuk kondisi.
Selain mengubah pola tidur dan gaya hidup, menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh juga mendukung kualitas tidur yang optimal. Bila insomnia berlangsung lama dan memengaruhi kualitas hidup, pemeriksaan medis sangat dianjurkan agar diagnosa dan terapi tepat bisa dilakukan secara komprehensif.





