5 Fakta Campak di Sumenep: Ribuan Terjangkit, Benarkah Hoaks Vaksin Haram Penyebabnya?

Kasus campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengalami lonjakan signifikan sepanjang tahun 2025, dengan jumlah pasien mencapai ribuan. Pemerintah menetapkan kejadian ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan segera mengambil langkah untuk menanggulangi wabah yang mengancam kesehatan balita dan anak-anak tersebut.

Lonjakan Kasus Campak di Sumenep

Data terbaru dari Dinas Kesehatan Jawa Timur menunjukkan adanya 2.035 kasus campak di wilayah Sumenep sejak Januari hingga pekan ketiga Agustus 2025. Angka ini melonjak drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat hanya ratusan kasus, tepatnya 319 kasus pada awal tahun. Lonjakan tersebut juga memicu pemerintah daerah untuk menetapkan KLB sebagai respons nyata atas peningkatan yang mengkhawatirkan ini.

Korban Jiwa dari Wabah Campak

Dampak serius dari wabah campak ini juga terlihat dari jumlah korban jiwa yang berjatuhan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur melaporkan 17 kematian akibat infeksi campak di Sumenep. Dari total korban meninggal tersebut, 16 orang belum menjalani vaksinasi sama sekali, sementara satu lainnya belum lengkap menjalani imunisasi. Kondisi ini mempertegas bahwa kekebalan tubuh yang rendah akibat tidak divaksinasi menjadi faktor utama fatalitas pasien.

Persepsi Hoaks Vaksin dan Cakupan Vaksinasi yang Rendah

Salah satu penyebab utama lonjakan kasus tersebut diduga karena rendahnya cakupan vaksinasi campak. Masyarakat setempat sempat terpengaruh oleh hoaks terkait vaksin campak yang disebut-sebut haram. Informasi keliru ini menyebar luas di beberapa daerah, membuat banyak orang tua enggan memberikan vaksin kepada anaknya.

Menurut dr. Fita Rabianti dari Puskesmas Guluk-Guluk Sumenep, vaksin campak yang digunakan telah dipastikan halal oleh otoritas kesehatan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jawa Timur, drg. Sulvy Dwi Anggraini juga mengakui adanya ketakutan masyarakat terhadap efek samping vaksin, seperti demam setelah imunisasi. Rasa takut ini memperparah rendahnya tingkat vaksinasi yang pada akhirnya mempermudah virus campak menyebar luas di kalangan anak-anak.

Dampak Penolakan Vaksinasi terhadap Penyebaran Campak

Penolakan vaksinasi berkontribusi signifikan terhadap parahnya penyebaran campak dan tingginya angka kematian. Pasien yang belum divaksin memiliki daya tahan tubuh yang lemah terhadap infeksi virus campak. Hal ini memperbesar risiko komplikasi serius yang akhirnya berujung kematian. Data menunjukkan bahwa kematian hampir seluruhnya dialami oleh anak-anak yang belum atau belum lengkap memperoleh vaksinasi.

Upaya Pemerintah Mengatasi KLB Campak

Menanggapi situasi darurat ini, Dinas Kesehatan Sumenep telah meluncurkan program vaksinasi massal sebagai upaya utama mengendalikan wabah campak. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Sumenep, Achmad Syamsuri, menyatakan program vaksinasi dimulai secara serentak sejak 25 Agustus 2025.

Vaksinasi akan dilakukan di 26 puskesmas dan bekerja sama dengan rumah sakit setempat. Target utama layanan vaksinasi ini adalah 78.569 anak usia 9 bulan hingga 6 tahun. Pelaksanaan program ini menjadi kunci untuk meningkatkan kekebalan kelompok dan mencegah penularan lebih luas di masyarakat.

Program vaksinasi massal ini juga diiringi dengan edukasi dan klarifikasi hoaks vaksin haram agar masyarakat lebih sadar pentingnya imunisasi. Kampanye komunikasi kesehatan diharapkan dapat meredam ketakutan dan kesalahpahaman masyarakat terhadap vaksin campak.

Kasus campak di Sumenep menjadi pengingat pentingnya cakupan vaksinasi yang optimal dalam mencegah wabah penyakit menular. Pemerintah bersama tenaga kesehatan terus berupaya memperbaiki layanan imunisasi dan membangun kepercayaan publik guna menghentikan penyebaran campak yang serius ini. Data dan tindakan cepat menjadi modal utama untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksinasi tepat dan lengkap.

Berita Terkait

Back to top button