Jangan Sepelekan Mulut Terbuka Saat Tidur pada Anak, Tanda Masalah Kesehatan Serius!

Mulut terbuka saat tidur pada anak tidak boleh dianggap remeh karena bisa menjadi indikator adanya masalah kesehatan serius yang memerlukan perhatian khusus. Kebiasaan bernapas lewat mulut yang terjadi baik secara sadar maupun tidak sadar sering kali menandakan gangguan pernapasan melalui hidung, seperti alergi, sinusitis, pembesaran amandel, atau bentuk rongga hidung yang sempit. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya bisa meluas hingga memengaruhi perkembangan gigi, rahang, dan bentuk wajah anak.

Menurut drg. Fauzia Adhiwidyanti, Sp.Ort., dokter gigi spesialis ortodontis di Bethsaida Hospital Dental Center, kebiasaan bernafas melalui mulut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mulut dan wajah pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. “Bernafas lewat mulut yang berlangsung terus-menerus dapat membuat lengkung gigi atas menjadi sempit, gigi maju, gigitan terbalik di gigi belakang, atau gigitan terbuka di gigi depan. Kondisi ini mempersulit aktivitas mengunyah maupun memotong makanan,” jelasnya. Selain itu, mulut yang sering terbuka juga menyebabkan berkurangnya produksi air liur, sehingga rongga mulut menjadi kering dan meningkatkan risiko gigi berlubang serta penyakit gusi.

Dampak kebiasaan bernafas lewat mulut tidak hanya terbatas pada masalah gigi. Pada beberapa anak, kebiasaan ini dapat mengubah bentuk wajah secara signifikan, terutama dengan pertambahan panjang sepertiga bawah wajah, kondisi yang dikenal sebagai long face. Kondisi ini terjadi karena struktur rahang berkembang tidak seimbang akibat kebiasaan mulut terbuka yang terus-menerus.

Orang tua dianjurkan untuk mewaspadai tanda-tanda yang muncul akibat kebiasaan bernafas lewat mulut pada anak. Beberapa gejala yang harus diwaspadai antara lain:

1. Anak sering tidur dengan mulut terbuka
2. Mendengkur saat tidur
3. Terbangun dengan mulut kering
4. Fisik wajah terlihat lebih panjang daripada biasanya
5. Lingkaran hitam di bawah mata

Jika gejala-gejala tersebut muncul, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Penanganan sejak dini sangat krusial agar masalah ini tidak berlanjut menjadi komplikasi yang lebih serius. Perawatan ortodontik merupakan salah satu metode efektif untuk mengembalikan kebiasaan bernapas yang benar melalui hidung. “Perawatan ortodontik dapat memperbaiki posisi gigi dan membantu memotivasi anak untuk bernapas lewat hidung, sekaligus mencegah komplikasi jangka panjang,” tambah drg. Fauzia. Dalam beberapa kasus, penanganan ini memerlukan kolaborasi antara dokter gigi, dokter THT, dokter anak, dan terapis wicara untuk mengatasi penyebab medis yang mendasari kebiasaan mulut terbuka.

dr. Pitono, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, menegaskan bahwa penanganan sejak dini bukan hanya memperbaiki kondisi gigi, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan mulut secara menyeluruh, bentuk wajah yang lebih seimbang, dan kualitas hidup anak. Dia menyatakan, “Kami percaya, perawatan ortodontik tidak hanya memperbaiki gigi, tetapi juga meningkatkan kesehatan mulut, bentuk wajah, dan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.”

Mengajarkan dan membiasakan anak bernapas lewat hidung sejak usia dini merupakan investasi jangka panjang untuk kesehatannya. Dengan melakukan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, tidak hanya kesehatan mulut dan gigi yang akan terjaga, tetapi juga pertumbuhan wajah yang seimbang serta kualitas tidur yang lebih baik, yang tentunya berdampak positif pada perkembangan dan aktivitas anak sehari-hari.

Para orang tua dan pengasuh diharapkan dapat lebih jeli mengamati kebiasaan anak saat tidur dan beraktivitas sehari-hari. Ketika ditemukan anak sering tidur dengan mulut terbuka atau mengalami gangguan pernapasan lain, segera cari pertolongan medis guna menghindari risiko kesehatan yang lebih serius di masa depan. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak bisa tumbuh dengan kondisi fisik dan kesehatan optimal, mendukung perkembangan mereka secara menyeluruh.

Berita Terkait

Back to top button