Varises esofagus menjadi kondisi yang patut diwaspadai karena dapat memicu perdarahan hebat yang berakibat pada buang air besar (BAB) atau muntah darah berwarna hitam. Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dari Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Andreas Andri L, SpB, SpB(K), menjelaskan bahwa varises esofagus terjadi akibat pembuluh darah vena di kerongkongan membesar karena tekanan tinggi yang berasal dari kerusakan hati, seperti sirosis hati (cirrhosis hepatis).
Penyebab dan Mekanisme Varises Esofagus
Varises sendiri merupakan kelainan pada katup pembuluh darah vena yang menyebabkan kebocoran. Normalnya, vena berfungsi membawa darah balik dari tubuh ke jantung, tetapi jika katup tidak bekerja dengan baik, darah justru kembali turun dan menyebabkan pembuluh vena melebar serta berkelok-kelok. Kondisi ini mirip dengan varises yang umum dijumpai di kaki, maupun ambeien yang terjadi di anus.
Pada varises esofagus, tekanan tinggi dalam vena akibat sirosis hati menyebabkan pembuluh darah di kerongkongan membesar dan rentan pecah. “Cirrhosis hepatis menyebabkan tekanan di vena meningkat sehingga pembuluh darah vena di kerongkongan juga membesar dan sewaktu-waktu ketika pecah bisa menyebabkan perdarahan,” papar dr. Andreas.
Gejala dan Bahaya Perdarahan Varises Esofagus
Perdarahan dari varises esofagus menimbulkan tanda-tanda yang serius seperti muntah darah hitam dan BAB berdarah atau berwarna hitam (melena). Warna hitam terjadi karena darah bercampur dengan asam lambung selama proses pencernaan. Kondisi ini berisiko membuat pasien mengalami syok akibat kehilangan darah yang signifikan.
“Ini sangat berbahaya dan biasanya diawali dengan kerusakan liver,” tambah dr. Andreas. Oleh sebab itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi fatal.
Perbedaan Penanganan Varises Berdasarkan Lokasi
Penanganan varises berbeda-beda tergantung lokasi terjadinya. Misalnya, varises di kaki dapat ditangani oleh dokter bedah umum, bedah vaskular, atau bedah toraks. Sedangkan varises anus yang disebut ambeien memerlukan pendekatan dari bedah umum atau bedah digestif, yang khusus menangani masalah organ sistem pencernaan.
“Untuk varises esofagus yang pecah, biasanya ditangani oleh dokter penyakit dalam atau dokter digestif melalui prosedur endoskopi. Alat endoskop dimasukkan ke kerongkongan untuk melihat lokasi perdarahan dan kemudian pembuluh darah yang berdarah bisa dimatikan,” jelas dr. Andreas. Dengan teknik ini, risiko perdarahan besar bisa ditekan dan pasien mendapat penanganan lebih cepat.
Faktor Risiko dan Pencegahan
Dr. Andreas juga menyebutkan faktor penyebab utama varises esofagus adalah gangguan atau kerusakan pada hati, terutama sirosis. Ambeien atau varises anal bisa dipicu oleh faktor keturunan dan pola makan kurang serat yang membuat frekuensi BAB menurun. Sedangkan varises kaki lebih sering dialami perempuan karena pengaruh hormon, kelebihan berat badan, pekerjaan yang memaksa berdiri lama, serta faktor keturunan.
Berikut adalah ringkasan kelompok risiko varises berdasarkan lokasi:
- Varises kaki: wanita, obesitas, faktor hormonal, aktivitas berdiri lama, keturunan.
- Ambeien: keturunan, kurang serat dalam makanan, kebiasaan BAB tidak teratur.
- Varises esofagus: sirosis hati, tekanan vena tinggi akibat gangguan liver.
Dengan memahami berbagai faktor penyebab dan risiko tersebut, masyarakat diharapkan lebih waspada dan melakukan pemeriksaan medis secara rutin terutama bagi mereka dengan penyakit hati kronis.
Pentingnya Penanganan Terpadu
Penanganan varises secara efektif membutuhkan subspesialisasi dokter sesuai dengan lokasi masalah vena. Contohnya, di Primaya Hospital Bekasi Timur sudah tersedia Cardiovascular Center dan layanan bedah yang memudahkan pasien mendapatkan solusi komprehensif. Pendekatan multidisiplin tersebut sangat dibutuhkan agar penanganan varises, baik di kaki, anus, maupun esofagus, bisa dilakukan secara tepat dan cepat.
Pengetahuan tentang varises esofagus dan risiko perdarahan dapat membantu pasien mengenali gejala awal dan segera mencari bantuan medis. Muntah darah hitam dan BAB berdarah bukanlah kondisi ringan dan harus mendapat penanganan segera agar tidak berujung pada komplikasi serius seperti syok hemoragik yang mengancam nyawa.





