Dokter THT Sarankan Larutan Saline Redakan Efek Gas Air Mata secara Efektif

Dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. Anton Sony Wibowo, memberikan rekomendasi penggunaan larutan saline sebagai pertolongan pertama untuk meredakan iritasi akibat paparan gas air mata. Larutan saline yang dimaksud adalah larutan garam fisiologis dengan konsentrasi 0,9 persen, yang aman digunakan untuk membilas kulit dan mengurangi rasa perih yang timbul setelah terpapar gas tersebut.

Menurut dr. Anton, larutan saline memiliki konsentrasi yang sesuai dengan cairan tubuh manusia sehingga tidak menimbulkan iritasi tambahan saat digunakan pada kulit yang terkena semprotan gas air mata. Cara ini dinilai lebih efektif dan aman dibandingkan metode yang selama ini dipercaya masyarakat, seperti penggunaan pasta gigi, yang sebenarnya tidak dianjurkan.

“Larutan saline sesuai dengan konsentrasi cairan tubuh, sehingga aman digunakan untuk membilas kulit,” jelas dr. Anton dalam keterangannya pada Selasa (9/9/2025). Ia menegaskan bahwa pasta gigi secara teori memang diperuntukkan hanya untuk membersihkan gigi, dan tidak tepat diaplikasikan pada area tubuh lain, terutama yang mengalami iritasi akibat zat kimia seperti gas air mata.

Gas air mata sendiri merupakan senyawa kimia berbentuk aerosol yang mudah larut di udara dan berfungsi untuk mengendalikan massa saat aksi demonstrasi. Namun, saat terhirup atau bersentuhan langsung dengan kulit, gas ini dapat menyebabkan berbagai efek samping seperti iritasi mata, perih di hidung dan tenggorokan, batuk, serta rasa tidak nyaman secara umum. Efek tersebut bisa lebih berat terutama pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta mereka yang memiliki penyakit saluran pernapasan kronis.

dr. Anton mengingatkan pentingnya langkah pencegahan untuk mengurangi risiko paparan gas air mata. Ia menyarankan agar masyarakat sebisa mungkin menghindari area dengan konsentrasi gas yang tinggi dan segera menjauh ke tempat dengan sirkulasi udara yang baik jika sudah terpapar. Selanjutnya, tubuh harus segera dibersihkan menggunakan air bersih atau larutan saline untuk menghilangkan sisa zat kimia pada kulit dan mempercepat pemulihan gejala iritasi.

Prinsip utama dalam penanganan paparan gas air mata menurutnya adalah minimalisasi kontak langsung dengan zat kimia tersebut. Oleh sebab itu, tindakan pencegahan, penghindaran, serta perlindungan diri menjadi langkah kunci yang harus diperhatikan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berhadapan langsung dengan situasi tertentu seperti aksi demo.

Beberapa langkah penanganan sederhana yang disarankan oleh dokter THT ini dapat dijadikan panduan dalam situasi darurat saat terpapar gas air mata:

1. Segera menjauh dari sumber paparan ke tempat terbuka dengan sirkulasi udara baik.
2. Basuh area kulit yang terkena gas dengan larutan saline atau air bersih secara perlahan.
3. Hindari menggosok atau menggunakan bahan asing seperti pasta gigi pada kulit yang iritasi.
4. Bila gejala iritasi berlanjut atau memburuk, terutama pada kelompok rentan, segera cari pertolongan medis.

Pemahaman dan pengetahuan yang tepat tentang cara mengatasi efek gas air mata sangat penting agar tidak menimbulkan komplikasi serius akibat penggunaan bahan yang tidak sesuai atau penanganan yang keliru. Penggunaan larutan saline menjadi alternatif yang mudah diperoleh dan efektif untuk mengurangi dampak iritasi gas kimia tersebut dan membantu proses penyembuhan kulit lebih cepat.

Dengan adanya rekomendasi ini, diharapkan masyarakat dan para peserta demonstrasi dapat lebih waspada dan menerapkan tindakan pertolongan pertama yang benar saat terjadi kontak dengan gas air mata. Hal ini tidak hanya membantu meredakan efek iritasi, tetapi juga mengurangi risiko masalah kesehatan jangka panjang akibat pemaparan zat kimia tersebut.

Berita Terkait

Back to top button