
Bulan Kesadaran Kanker Darah September 2025 menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kanker darah, khususnya Multiple Myeloma. Jenis kanker ini merupakan salah satu yang paling umum di Indonesia, dengan lebih dari 3.000 kasus baru setiap tahun. Sayangnya, hampir semua pasien baru diketahui mengidap Multiple Myeloma saat kondisi sudah mencapai stadium akhir atau ketika kerusakan organ telah terjadi.
Data Kementerian Kesehatan dan GLOBOCAN 2022 menunjukkan bahwa Multiple Myeloma menempati posisi ke-19 dari semua jenis kanker di Indonesia dengan estimasi kasus baru sekitar 3.289 setiap tahun, menyumbang sekitar 0,8% dari seluruh insiden kanker nasional. Meskipun angka tersebut tidak setinggi kanker umum lain, dampaknya sangat serius karena keterlambatan diagnosis yang sering dialami pasien.
Apa Itu Multiple Myeloma?
Menurut Konsultan Hematologi-Onkologi Medik, Prof. Ikhwan Rinaldi, Multiple Myeloma adalah kanker darah yang terjadi pada sel plasma di sumsum tulang. Sel plasma normalnya berfungsi menghasilkan antibodi yang menjaga tubuh dari infeksi virus dan bakteri. Namun, pada Multiple Myeloma, sumsum tulang memproduksi sel plasma abnormal yang disebut sel myeloma. Sel ini menghasilkan antibodi yang tidak efektif dan tumbuh berlebihan, sehingga menekan produksi sel darah sehat.
“Sel myeloma biasanya berkembang di berbagai area sumsum tulang secara menyebar, itulah mengapa disebut multiple,” jelas Prof. Ikhwan. Kanker ini juga dikenal dengan istilah plasma cell myeloma dan sering menimbulkan kerusakan organ sebelum terdeteksi.
Faktor Risiko yang Perlu Diketahui
Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan peluang seseorang terkena Multiple Myeloma, antara lain:
- Usia lanjut
- Riwayat keluarga dengan kanker serupa
- Jenis kelamin laki-laki
- Paparan radiasi atau bahan kimia berulang
- Berat badan berlebih
- Riwayat kelainan sel plasma
Penyakit ini menyerang daerah dengan sumsum tulang aktif seperti tulang belakang, tengkorak, panggul, tulang rusuk, bahu, dan pinggul. Akibatnya, pasien bisa mengalami patah tulang yang mudah terjadi dan kadar kalsium tinggi dalam darah.
Gejala yang Sering Terabaikan
Gejala Multiple Myeloma cenderung mirip dengan penyakit lain sehingga kerap tidak disadari sejak awal dan menyebabkan keterlambatan diagnosis. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
- Sering merasa haus dan dehidrasi
- Sering buang air kecil
- Gangguan fungsi ginjal
- Sembelit, nyeri perut
- Badan lemah dan mudah mengantuk
- Sesak napas berkepanjangan
- Gatal-gatal dan pembengkakan kaki
- Pusing dan mudah berdarah
- Infeksi berulang dan anemia
- Nyeri tulang di pinggul, punggung, atau kepala
- Tulang rapuh hingga sering patah
- Kerusakan saraf atau sumsum tulang belakang
Kerusakan pada ginjal serta melemahnya sistem imun juga menjadi komplikasi serius yang dapat membahayakan pasien.
Pentingnya Deteksi Dini dan Terapi yang Tepat
Prof. Ikhwan menegaskan bahwa literasi dan kesadaran masyarakat tentang Multiple Myeloma masih rendah di Indonesia. Padahal, deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan dan meningkatkan angka kesintasan. Oleh karena itu, edukasi yang gencar dan penyebaran informasi melalui media sangat diperlukan agar masyarakat lebih waspada terhadap gejala awal.
Berbagai pilihan terapi kini tersedia di Indonesia, mulai dari kemoterapi, kortikosteroid, imunomodulator, hingga terapi inovatif seperti proteasome inhibitor yang efektif menargetkan sel kanker. Terapi bisa diberikan secara oral maupun infus sesuai kondisi pasien.
“Perkembangan terapi memberikan peluang lebih besar bagi pasien untuk mempertahankan kualitas hidup. Namun, kunci keberhasilan tetap pada deteksi cepat dan pengobatan yang tepat,” tutur Prof. Ikhwan. Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan demi penanganan yang optimal.
Bulan Kesadaran Kanker Darah 2025 menjadi pengingat penting bagi seluruh lapisan masyarakat agar lebih mengenal dan mewaspadai kanker darah, khususnya Multiple Myeloma, agar penyebaran pengetahuan dan tindakan pencegahan serta pengobatan dapat dilakukan lebih awal.





