
Berbagai kabar buruk yang terus bermunculan tanpa henti membuat sebagian orang mengalami dorongan untuk terus mencari, membaca, atau menonton informasi negatif. Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yakni kebiasaan mengonsumsi berita buruk secara berlebihan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan rasa kecemasan dan stres.
Doomscrolling merupakan perilaku kompulsif yang lahir dari kecemasan menghadapi ketidakpastian. Menurut Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, manusia secara naluriah terdorong untuk memahami situasi di sekitar mereka serta mengendalikan ketidakpastian guna menghadapi ancaman yang mungkin terjadi. “Doomscrolling ini semacam dorongan untuk menyelamatkan diri. Dengan mencari informasi, manusia merasa bahwa dirinya bisa mengendalikan hal-hal yang negatif atau mengancam,” ujarnya pada Selasa, 23 September 2025.
Meski tampak sebagai mekanisme bertahan hidup, doomscrolling sesungguhnya tidak memberikan solusi. Eksposur terus-menerus terhadap konten negatif akan memengaruhi pikiran dan emosi, sehingga meningkatkan risiko stres. Atika menegaskan, “Scrolling itu bukan aktivitas yang betul-betul memberikan solusi, kecuali kalau kita tahu kapan harus berhenti. Misalnya, saat menghadapi ujian, kita tahu kapan ujian berakhir sehingga lebih mudah dikendalikan, tapi dalam situasi tidak menentu, seperti pandemi atau kerusuhan, kita tidak paham sebenarnya kapan ini berakhir.”
Dampak lain yang muncul akibat doomscrolling adalah kecemasan yang berlebihan. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, risiko kelelahan fisik dan mental jadi meningkat. “Ketika muncul rasa cemas atau stres, tubuh ikut menegang seolah bersiap menghadapi ancaman. Lama-kelamaan bukan hanya pikiran yang lelah, tapi juga tubuh kita,” jelas Atika.
Pentingnya Literasi Media dan Manajemen Paparan Informasi
Untuk mengurangi dampak buruk doomscrolling, masyarakat diimbau meningkatkan literasi media. Individu harus mampu memilah dan memilih informasi yang kredibel, bukan hanya terpaku pada berita yang belum tentu kebenarannya atau media-media tidak jelas sumbernya. Selain itu, penting pula untuk membatasi waktu dan paparan terhadap layar gawai.
Atika menyarankan agar individu menggantikan waktu doomscrolling dengan aktivitas produktif, seperti olahraga, memasak, membersihkan rumah, menekuni hobi, atau melakukan kegiatan spiritual. Menurutnya, keseimbangan antara upaya mengendalikan aspek yang bisa dikontrol dan melepaskan hal-hal yang di luar kendali dapat membantu seseorang menghadapi kecemasan dengan lebih baik. “Kalau kita bisa menyeimbangkan berbagai aspek itu, kita bisa berfungsi secara penuh sebagai manusia sekaligus mengelola emosi dengan lebih baik,” tuturnya.
Langkah Selanjutnya Bila Kecemasan Tidak Berkurang
Jika cara-cara sederhana belum mampu mengatasi dampak doomscrolling, penting bagi individu untuk mencari dukungan dari orang terdekat maupun bantuan profesional. Atika menekankan untuk tidak ragu mengambil langkah ini demi kesehatan mental. “Kalau sudah merasa tidak tertolong dengan cara-cara sederhana, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional,” pungkasnya.
Fenomena doomscrolling menunjukkan bagaimana informasi negatif yang terus-menerus diakses tanpa batas dapat menimbulkan efek psikologis serius. Oleh karena itu, upaya sadar dalam mengelola konsumsi informasi dan menjaga kesehatan mental menjadi kunci penting di era informasi yang serba cepat dan penuh tantangan ini.





