Tinnitus: Kisah Nyata dan Cara Efektif Mengakhiri Siksaan di Kepala Selamanya

Tinnitus adalah kondisi medis di mana seseorang mendengar bunyi berdenging atau suara-suara lain yang sebenarnya tidak berasal dari sumber luar. Kondisi ini dialami oleh jutaan orang di dunia dan dapat sangat mengganggu kualitas hidup, terutama bagi sekitar 2% penderita yang mengalami “tinnitus distress” berupa kecemasan dan depresi parah. Penyebab dan cara mengatasi tinnitus kini semakin dipahami melalui riset dan pengalaman para ahli kesehatan, termasuk kisah nyata dari Dr. Gladys Sanda, seorang audiolog berlisensi.

Penjelasan Ilmiah dan Penyebab Tinnitus

Menurut Dr. Gladys Sanda, tinnitus bukanlah masalah yang sepenuhnya berasal dari telinga, melainkan banyak terkait dengan aktivitas otak. Tinnitus timbul ketika otak berupaya mengkompensasi kehilangan suara tertentu akibat gangguan pendengaran. Proses ini memicu aktivitas saraf yang kemudian dirasakan sebagai suara berdenging atau bunyi lain yang tidak nyata.

Dr. Sanda menjelaskan bahwa banyak penderita disarankan untuk mengabaikan tinnitus, tetapi hal tersebut justru dapat memperparah kondisi. Ketika otak menganggap suara tinnitus sebagai ancaman, persepsi suara tersebut menjadi semakin intens. Faktor stres juga berperan besar dalam memperburuk gejala tinnitus. Penderita dengan tipe kepribadian A, yang cenderung ambisius dan perfeksionis, lebih mudah merasa terganggu oleh tinnitus sehingga risiko stres dan depresi meningkat.

Selain gangguan pendengaran, beberapa penyebab lain yang dapat memicu tinnitus di antaranya adalah paparan suara keras, cedera kepala, dan penggunaan obat-obatan tertentu yang merusak saraf pendengaran.

Strategi Manajemen Tinnitus Berdasarkan Pengalaman Ahli

Dr. Gladys Sanda yang juga pernah mengalami tinnitus secara langsung menyarankan beberapa metode manajemen guna mengurangi gangguan yang muncul akibat tinnitus, antara lain:

  1. Mendengarkan pink noise
    Suara lembut seperti suara ombak, hujan, atau aliran air lebih efektif menenangkan ketimbang white noise, seperti suara kipas angin. Pink noise dapat membantu mengalihkan perhatian otak dari bunyi tinnitus.

  2. Praktik tidur sehat
    Menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, dengan kamar yang gelap, suhu yang sesuai dan posisi leher yang baik dapat membantu sistem saraf menjadi rileks dan mengurangi intensitas tinnitus saat malam hari.

  3. Latihan mindfulness sederhana
    Teknik 54321, yaitu mengidentifikasi 5 hal yang bisa dilihat, 4 yang bisa dirasakan, 3 yang bisa didengar, 2 yang bisa dicium, dan 1 yang bisa dirasakan rasa atau sentuhan, efektif untuk mengalihkan fokus dari tinnitus dan mengurangi rasa panik.

  4. Latihan pernapasan dan grounding
    Aktivitas seperti mengusap telapak tangan atau menancapkan kaki ke lantai membantu penderita menenangkan diri dan mengurangi stres yang memperburuk tinnitus.

  5. Visualisasi menenangkan
    Membayangkan adegan yang nyaman dan menenangkan, seperti suasana di kafe dengan cappuccino, dapat membantu meredakan ketegangan saraf akibat tinnitus.

  6. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
    Terapi ini bertujuan mengubah persepsi negatif dan ketakutan terhadap tinnitus, sehingga penderita dapat menerima kondisi dan menjalani hidup dengan kualitas lebih baik tanpa dikuasai rasa takut atau stres berlebihan.

Pentingnya Pola Pikir dan Perawatan Diri

Dr. Sanda menegaskan bahwa menerima tinnitus adalah langkah awal yang sangat penting. Berusaha menghilangkan langsung bunyi tinnitus tanpa strategi yang tepat justru dapat memperparah persepsi dan kecemasan. Memahami bahwa tinnitus lebih berkaitan dengan respons otak daripada sekadar masalah telinga membuka jalan bagi pendekatan pengelolaan yang lebih efektif.

Selain itu, menjaga kesehatan telinga, seperti menghindari paparan suara keras yang berlebihan dan mengelola stres secara rutin menjadi upaya penting agar tinnitus tidak semakin memburuk. Pendekatan holistik ini melibatkan perubahan pola hidup dan kebiasaan mental untuk mengakhiri siksaan bunyi berdenging yang berkepanjangan.

Dengan penanganan yang tepat, penderita tinnitus dapat menemukan ketenangan dan meminimalisir gangguan yang sebelumnya terasa mengancam kesehatan mental. Kisah nyata Dr. Sanda memberikan inspirasi bahwa tinnitus bukan akhir dari kualitas hidup, melainkan sebuah kondisi yang bisa dikendalikan melalui kombinasi ilmu pengetahuan dan praktik kesehatan psikologis.

Berita Terkait

Back to top button