Bukan Cuma Pekerja, Orang Tua Juga Rentan Burnout Akibat Tekanan Membesarkan Anak

Menjadi orang tua saat ini menghadirkan tantangan besar yang kerap membuat banyak dari mereka mengalami burnout, tidak hanya karena tekanan pekerjaan tetapi juga akibat tuntutan dalam membesarkan anak. Survei yang dilakukan oleh Ohio State University mengungkapkan bahwa sekitar 62 persen orang tua merasa kelelahan mental dan emosional akibat berbagai tekanan yang timbul selama proses pengasuhan anak. Fenomena ini menunjukkan bahwa burnout tidak hanya dialami oleh pekerja di dunia profesional, tetapi juga oleh orang tua yang harus menghadapi beban psikologis dan fisik dalam mendidik anak-anak mereka.

Burnout, menurut American Psychological Association (APA), merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, atau mental yang disertai dengan penurunan motivasi serta sikap negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam konteks orang tua, khususnya ibu, burnout seringkali muncul dari perasaan cemas yang mendalam terhadap kesehatan, kebahagiaan, dan kondisi finansial keluarga. Keresahan ini semakin meningkat ketika ibu mempertanyakan apakah anak mereka mendapatkan asupan gizi terbaik yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal.

Masa anak usia dini, terutama 1.000 hari pertama kehidupan yang dikenal sebagai golden age, merupakan fase krusial bagi tumbuh kembang anak. Periode ini juga sering disebut sebagai early childhood development period, di mana nutrisi, stimulasi, dan kesehatan anak harus menjadi perhatian utama. Dr. Dewi Virdianti P, Health Communicator dari Kalbe Nutritionals, menjelaskan bahwa masa pertumbuhan anak adalah jendela kesempatan yang menentukan kualitas hidup mereka kelak. Asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang berperan penting dalam mendukung perkembangan fisik, kognitif, dan emosional anak agar dapat siap belajar serta berkembang secara optimal.

Para orang tua dituntut untuk fokus pada nutrisi otak anak supaya dapat mendukung rasa ingin tahu dan konsentrasi yang tinggi pada usia balita. Selain itu, stimulasi sensorik seperti pengembangan pancaindra dan kemampuan motorik juga harus dilatih secara berkelanjutan agar anak dapat bergerak dan bereksplorasi dengan baik. Pada saat yang sama, menjaga daya tahan tubuh anak agar tetap kuat menjadi aspek penting yang memicu kecemasan orang tua.

Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan banyak orang tua merasa terbebani secara emosional dan mental. Andre Gusli, Brand Manager Morinaga Chil*Go!, mengungkapkan bahwa orang tua perlu mendapatkan dukungan agar tidak merasa kewalahan. “Fase tumbuh kembang sangat menentukan bagi anak sehingga setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik,” ujarnya. Andre juga menekankan pentingnya memberikan keleluasaan bagi balita untuk mencoba berbagai aktivitas yang dapat merangsang kemampuan mereka, baik dari bidang akademik maupun non-akademik.

Berbagai aktivitas ini tidak hanya melatih keterampilan motorik dan konsentrasi anak, tetapi juga membangun rasa percaya diri mereka. Salah satu contoh yang dikembangkan adalah program Bintangnya Chil*Go!, yang menjadi wadah bagi anak Indonesia untuk berprestasi di berbagai bidang sesuai minat dan bakat mereka.

Untuk membantu meningkatkan fokus anak, laman Singapore Brain merekomendasikan tiga metode yang efektif, yaitu:

1. Latihan Pendengaran
Meningkatkan kemampuan fokus dan memori anak melalui pola suara dan getaran terorganisir yang juga merangsang perkembangan bicara dan fungsi eksekutif.

2. Permainan Teka-Teki
Memainkan teka-teki seperti jigsaw, teka-teki silang, atau sudoku dapat merangsang perhatian dan melibatkan otak secara aktif.

3. Pekerjaan Rumah yang Dikonversi Menjadi Aktivitas Fisik
Mengintegrasikan olahraga ke dalam aktivitas sehari-hari untuk membantu membentuk pola konsentrasi secara bertahap.

Dengan adanya tekanan tersebut, penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa mereka tidak sendirian menghadapi tantangan ini. Menjaga kesehatan mental dan fisik orang tua sama pentingnya dengan memastikan anak mendapatkan perhatian penuh pada tumbuh kembangnya. Berbagai strategi pendukung, baik dari keluarga, komunitas, maupun profesional, perlu diterapkan agar proses membesarkan anak dapat berlangsung dengan lebih seimbang dan tidak menimbulkan kelelahan yang berlebihan.

Src: https://www.suara.com/health/2025/09/24/065023/bukan-cuma-pekerja-ternyata-orang-tua-juga-bisa-burnout-karena-masalah-membesarkan-anak?page=all

Berita Terkait

Back to top button