Dana Desa terbukti menjadi instrumen penting dalam upaya pencegahan stunting di tingkat desa, seperti yang terbukti dari kisah sukses program Keluarga SIGAP di sejumlah wilayah Indonesia. Program ini berhasil menggerakkan keluarga dan masyarakat untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat dan memastikan imunisasi lengkap demi mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Stunting masih menjadi masalah kesehatan anak yang serius di berbagai pelosok tanah air. Kondisi ini diakibatkan oleh imunisasi yang belum lengkap, pola hidup yang kurang bersih, serta asupan gizi yang tidak memadai pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. Jika tidak ditangani dengan tepat, stunting dapat menghambat perkembangan fisik dan kognitif yang berdampak panjang pada potensi masa depan anak.
Menjawab tantangan tersebut, Keluarga SIGAP (Siaga Dukung Kesehatan, Siap Hadapi Masa Depan) hadir sebagai program kolaboratif antara Gavi, the Vaccine Alliance, Unilever Lifebuoy, dan The Power of Nutrition. Program ini diluncurkan sejak 2023 dan sudah menjangkau sejumlah desa di Kabupaten Bogor dan Banjar, dengan metode edukasi yang inovatif dan partisipatif. Melalui pelatihan kader Posyandu, alat pembelajaran interaktif, serta pendekatan kreatif seperti jingle dan demonstrasi langsung, para keluarga diajak membiasakan perilaku hidup bersih, memberikan gizi seimbang, serta melengkapi imunisasi anak.
Menurut dr. Elvieda Sariwati, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan, pencegahan stunting memerlukan praktik sehari-hari yang konsisten. “Dengan membiasakan cuci tangan pakai sabun yang benar, menjaga lingkungan bersih, makan bergizi seimbang, dan imunisasi tepat waktu, kita bisa menciptakan perubahan berkelanjutan yang mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya. Pendekatan berbasis keluarga ini juga memberdayakan orang tua agar lebih aktif menjaga kesehatan anak.
Keberhasilan program Keluarga SIGAP tidak lepas dari peran Dana Desa yang memberikan dukungan anggaran untuk menyelenggarakan kegiatan promotif dan preventif di tingkat desa. Sappe M. P. Sirait, Analis Kebijakan Senior Direktorat Fasilitasi Pemanfaatan Dana Desa Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, menegaskan bahwa Dana Desa dibuat untuk menjawab permasalahan kesehatan dasar seperti stunting dengan memberikan kewenangan penuh pada desa dalam pengelolaan anggaran. “Kuncinya ada pada perencanaan yang matang sejak awal melalui musyawarah desa agar dana digunakan tepat sasaran,” jelasnya.
Di Desa Kota Batu, Kabupaten Bogor, Kepala Desa Ratna Sari memaparkan dampak nyata pelaksanaan SIGAP. “Relawan kami rutin melakukan kunjungan rumah untuk mengajarkan cuci tangan serta membimbing pemberian makanan bergizi pada keluarga,” tuturnya. Hasilnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan, gizi, dan posyandu meningkat signifikan. Desa tersebut pun berkomitmen mengalokasikan Dana Desa untuk mendukung kader kesehatan yang menjalankan program ini secara berkelanjutan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan inisiatif ini. Payal Shah, Global Assistant Brand Manager Unilever Lifebuoy, menyebut cuci tangan pakai sabun sebagai langkah paling efektif sekaligus hemat biaya untuk mencegah penyakit, yang sayangnya masih banyak diabaikan masyarakat. Di sisi lain, Gavi memperluas fokusnya dari imunisasi saja ke pendekatan promotif dan preventif lewat edukasi keluarga.
Alia Poonawala, Private Sector Engagement Lead Gavi, mengatakan, “Melalui Keluarga SIGAP, ibu dan ayah belajar pentingnya imunisasi lengkap dan tepat waktu, yang membangun kepercayaan pada layanan kesehatan sekaligus melindungi masa depan anak-anak mereka.” Sinergi antara Pemerintah Indonesia, sektor swasta, dan masyarakat diharapkan dapat memastikan anak-anak di seluruh wilayah negeri terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah.
Saat ini, program SIGAP sedang diperluas ke Sukabumi dan Brebes agar semakin banyak desa yang dapat mengintegrasikan kegiatan ini ke dalam perencanaan dan anggaran mereka. Pendekatan sinergis antara kebijakan nasional dan otonomi desa diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting yang menjadi salah satu program prioritas menuju visi Indonesia Emas 2045 — generasi yang sehat, tangguh, dan cerdas.
Pentingnya pemanfaatan Dana Desa sebagai sumber daya lokal untuk mendukung intervensi kesehatan anak menjadi contoh nyata bagaimana sumber daya yang dikelola secara partisipatif dapat menyelamatkan masa depan generasi muda Indonesia. Dengan pelaksanaan yang terencana dan dukungan berbagai pihak, stunting bukan lagi tantangan yang sulit diatasi di akar rumput.
Source: www.suara.com





