Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi menggelar Healthcare AI Hackathon, sebuah kompetisi aplikasi kecerdasan buatan (AI) bidang kesehatan yang pertama dan terbesar di Indonesia. Acara ini diikuti oleh 278 tim peserta dari 10 negara, yang menandai partisipasi internasional terbesar dalam kompetisi hackathon kesehatan sejauh ini.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono, menjelaskan bahwa sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menghadapi tantangan serius terkait disinformasi kesehatan yang kerap muncul akibat pemanfaatan AI yang belum tepat. Ia menekankan bahwa meskipun AI memiliki potensi besar dalam membantu diagnosis dan penanganan medis, teknologi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter, melainkan untuk memperkuat dan mendukung kinerja tenaga medis.
“AI memiliki peran penting karena pendekatan tradisional tidak lagi memadai. Fokus kami bukan pada penggantian dokter, melainkan pada pemberdayaan melalui solusi cerdas yang mampu menjembatani kesenjangan layanan kesehatan,” ungkap Dante saat membuka Healthcare AI Hackathon di Jakarta pada 13 Oktober 2025. Ia menambahkan bahwa teknologi AI diharapkan dapat menyediakan diagnosis yang lebih akurat sekaligus memprediksi berbagai kondisi kesehatan secara lebih efektif.
Peserta dan Kolaborasi Internasional
Lebih dari 278 tim yang terdaftar berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, startup di bidang AI, peneliti, hingga pelaku industri teknologi kesehatan. Christian Elsner, Partner dari PwC Jerman, menyatakan bahwa tingginya jumlah peserta tersebut melebihi target awal yang hanya 40 tim. Hal ini menunjukkan meningkatnya minat global terhadap pengembangan teknologi AI yang dapat memajukan layanan kesehatan di Indonesia dan wilayah lain.
Kementerian Kesehatan bermitra dengan PricewaterhouseCoopers (PwC) dan Amazon Web Services (AWS) untuk mendukung kegiatan ini. PwC dan AWS menyediakan akses teknologi mutakhir serta dana pendukung agar para peserta dapat mengembangkan solusi inovatif dengan potensi manfaat nyata.
Fokus pada Lima Bidang Kesehatan Prioritas
Persaingan pada Hackathon kali ini difokuskan pada pengembangan aplikasi AI yang menargetkan lima bidang penyakit kritikal, yaitu stroke, stunting, diabetes, penyakit jantung, dan tuberkulosis. Dante menyebutkan bahwa teknologi AI diharapkan dapat mempercepat diagnosis dan mempermudah penanganan kasus-kasus tersebut, sekaligus meningkatkan kualitas data kesehatan dengan sistem pencatatan real-time di seluruh Indonesia.
“Dengan teknologi AI ini, kami berharap penanganan kasus menjadi lebih mudah dan komprehensif. Pendataan real-time yang akurat akan mempercepat respons pemerintah dan tenaga medis dalam menangani berbagai masalah kesehatan,” jelasnya.
Penguatan Layanan Kesehatan di Era Digital
Healthcare AI Hackathon merupakan langkah strategis pemerintah untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi AI, kompetisi ini berperan sebagai wadah untuk menemukan solusi yang dapat mengatasi keterbatasan layanan kesehatan tradisional.
Menurut Dante, penguatan fitur prediktif dan diagnosis berbasis AI menjadi elemen penting dalam transformasi digital sektor kesehatan. Hal ini selaras dengan pandangan tokoh global seperti Bill Gates yang menyatakan bahwa AI dapat memiliki peran signifikan dalam dunia medis di masa depan.
Dengan berpartisipasinya tim dari berbagai negara dan dukungan industri besar, kegiatan ini tidak hanya mendorong inovasi lokal tapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi kesehatan di tingkat internasional. Program ini diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang tidak hanya terukur dan cerdas, tetapi juga dapat diimplementasikan secara luas demi meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat di Nusantara.
Source: lifestyle.bisnis.com
