Bahaya Memanaskan Ulang Sayuran di Microwave, Bisakah Picu Kanker?

Memanaskan ulang sayuran menggunakan microwave merupakan kebiasaan yang umum dilakukan, terutama untuk mengolah sisa makanan. Namun, praktik ini menyimpan risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama terkait potensi terbentuknya senyawa berbahaya dan hilangnya nilai gizi.

Sayuran adalah sumber nutrisi penting yang kaya akan vitamin C, B1, B2, folat, serta karotenoid. Nutrisi-nutrisi tersebut sangat peka terhadap panas, cahaya, dan oksigen. Saat sayuran yang sudah dimasak dipanaskan kembali dalam microwave, molekul air dalam jaringan sayuran bergetar dan menghasilkan panas lokal yang cukup intens. Proses ini menyebabkan kerusakan pada dinding sel tanaman, sehingga air dan nutrisi keluar dari sayuran. Efek yang biasanya tampak adalah perubahan warna menjadi lebih gelap, tekstur yang berubah menjadi lembek atau malah keras, serta hilangnya aroma dan rasa alami sayuran.

Selain penurunan kualitas nutrisi, ada bahaya lain yang lebih serius pada sayuran yang dipanaskan ulang. Sayuran seperti bayam, kangkung, sawi hijau, bok choy, brokoli, seledri, dan bit mengandung nitrat alami dalam jumlah cukup tinggi. Pada kondisi segar dan saat dimasak pertama kali, nitrat ini masih aman dikonsumsi. Namun, jika sayuran tersebut dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama, bakteri dapat mengubah nitrat menjadi nitrit. Ketika dipanaskan ulang dengan microwave, reaksi pembentukan nitrit bisa semakin cepat.

Nitrit memiliki efek berbahaya bagi tubuh, salah satunya mengganggu kemampuan sel darah merah untuk mengangkut oksigen. Yang lebih mengkhawatirkan, nitrit dapat bereaksi dengan asam amino membentuk nitrosamin, senyawa yang diketahui berpotensi karsinogenik atau menyebabkan kanker jika terpapar secara terus-menerus. Menurut Dewan Informasi Pangan Eropa (EUFIC), jumlah nitrosamin yang terbentuk dari proses pemanasan ulang mungkin kecil, namun tetap tidak ideal untuk dikonsumsi secara rutin demi kesehatan jangka panjang.

Dari sisi keamanan pangan, konsumsi sayuran yang sudah didiamkan lebih dari dua jam atau disimpan semalaman berisiko menimbulkan keracunan makanan. Bakteri seperti Bacillus cereus dapat membentuk spora tahan panas yang tidak mati walau sayuran tersebut dipanaskan ulang. Akibatnya, gejala ringan seperti mual, muntah, dan sakit perut bisa terjadi setelah mengonsumsi sayuran yang sudah tidak aman.

Cara Aman Memanaskan Ulang Sayuran

Untuk menghindari risiko tersebut, ada beberapa tips yang dapat diterapkan ketika perlu memanaskan ulang sayuran:

  1. Tambahkan sedikit air pada sayuran rebus sebelum memanaskan agar tidak terlalu kering dan menjaga tekstur.
  2. Gunakan suhu pemanasan rendah dan waktu yang singkat, serta tutup wadah untuk meminimalisasi hilangnya vitamin dan warna alami sayuran.
  3. Sayur tumis dapat dipanaskan kembali dengan cara mengaduk cepat di wajan panas selama beberapa detik agar tetap segar dan tidak kehilangan cita rasa.
  4. Hindari memanaskan sayuran yang sudah ditinggalkan semalaman atau yang masih memiliki kuah, karena kondisi tersebut sangat mendukung pertumbuhan bakteri dan produksi nitrit.

Penggunaan microwave sendiri tidak selalu berbahaya jika digunakan pada sayuran segar. Memasak dengan microwave justru bisa lebih baik dibandingkan merebus, karena waktu memasak yang singkat dan penggunaan air yang minim membantu mempertahankan kandungan vitamin lebih banyak.

Menghindari penyimpanan sisa sayuran terlalu lama dan memasak sesuai porsi yang langsung habis merupakan cara terbaik untuk menjaga nilai gizi sekaligus mengurangi risiko kesehatan. Dengan pemahaman yang tepat, penggunaan microwave untuk memanaskan sayuran bisa tetap dilakukan, namun harus disertai perhatian lebih pada waktu penyimpanan dan teknik pemanasan agar risiko terbentuknya senyawa berbahaya seperti nitrit dapat diminimalkan.

Source: www.beritasatu.com

Exit mobile version