Teknologi bedah robotik kini menghadirkan terobosan penting dalam dunia operasi ginekologi, terutama dalam upaya menyelamatkan rahim sekaligus menjaga harapan ibu untuk memiliki keturunan. Pendekatan Minimal Invasive Gynecologic Surgery (MIGS) yang didukung teknologi robotik memungkinkan pengangkatan miom, kista, maupun jaringan endometriosis tanpa harus melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim—sebuah kabar yang menggembirakan bagi banyak perempuan yang khawatir akan risiko kehilangan alat reproduksi tersebut.
Metode bedah konvensional selama ini kerap meninggalkan sayatan besar hingga sepanjang 10-15 cm, menyumbang risiko nyeri yang tinggi, perdarahan lebih besar, dan masa pemulihan yang panjang. Hal ini kerap membuat pasien terpaksa kehilangan rahim demi alasan keamanan. Namun menurut dr. Sita Ayu Arumi Sp.OG (K), dokter perempuan pertama yang tergabung dalam tim robotik di Indonesia sejak 2013, rahim bukan hanya sebuah organ biologis, melainkan simbol kehidupan dan harapan bagi perempuan.
“Melalui teknik minimal invasif dan bedah robotik, kami bisa mempertahankan rahim. Harapan untuk menjadi ibu tetap hidup,” jelas dr. Sita. Operasi dengan teknik MIGS hanya membutuhkan sayatan kecil sekitar 0,5-1 cm, membuat masa pemulihan pasien jauh lebih cepat. “Ada pasien yang hanya tiga hari setelah operasi sudah mampu kembali bekerja di luar negeri,” tambahnya.
Keunggulan lain dari bedah robotik adalah presisi tinggi yang didukung oleh sistem visualisasi tiga dimensi dan teknologi pivot point system. Teknologi ini memungkinkan dokter untuk mengendalikan alat bedah dengan gerakan yang halus, stabil, dan ergonomis, bahkan dalam kasus penyakit yang rumit seperti endometriosis stadium lanjut. “Robot ini memperkecil risiko kerusakan jaringan sehat karena gesekan dengan dinding perut jauh berkurang dan kontrol gerakan mirip seperti tangan manusia, hanya saja lebih presisi,” terangnya.
Salah satu kisah nyata yang menjadi bukti kemajuan teknologi ini adalah pengalaman seorang pasien dengan miom multipel yang semula divonis harus kehilangan rahimnya. Berkat bedah robotik, seluruh miom berhasil diangkat tanpa merusak rahim. “Beberapa bulan setelah operasi, pasien kembali membawa kabar bahagia bahwa dia telah hamil,” kenang dr. Sita.
Meski menjanjikan, teknologi ini masih menghadapi tantangan terutama dari segi biaya. Alat-alat bedah robotik sebagian besar masih diimpor dari luar negeri dengan harga yang sangat mahal. Dr. Sita berharap pemerintah dapat membantu menyediakan fasilitas bedah robotik di rumah sakit umum, minimal satu atau dua unit di setiap provinsi, sehingga akses terhadap teknologi ini dapat lebih merata dan tidak hanya dinikmati kalangan mampu saja.
Inovasi MIGS dan bedah robotik bukan sekadar kemajuan dalam bidang teknologi medis, melainkan juga bentuk pemberdayaan perempuan. Dalam berbagai budaya, beban stigma sering kali ditanggung sendiri oleh perempuan jika menghadapi masalah kesuburan, padahal faktor laki-laki juga turut berkontribusi. “Perempuan jangan lagi menanggung stigma sendirian,” tegas dr. Sita.
Dengan pendekatan minimal invasif, perempuan kini dapat sembuh lebih cepat, mempertahankan rahim, sekaligus menjaga peluang untuk menjadi ibu. Menurut dr. Sita, kesehatan perempuan adalah jantung keluarga yang harus dijaga dengan serius. Keberadaan teknologi ini tidak hanya mengubah paradigma lama yang menakutkan tentang operasi ginekologi, tetapi juga membuka pintu harapan baru bagi para wanita Indonesia untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik tanpa kehilangan identitas kewanitaannya.
Source: www.beritasatu.com





