Kehamilan Usia Muda Rentan Baby Blues, Ini Penyebabnya Menurut Ahli

Kehamilan pada usia muda, terutama di bawah 20 tahun, memiliki risiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental pascapersalinan yang dikenal sebagai baby blues. Baby blues adalah kondisi emosional yang ditandai dengan perasaan sedih, cemas, dan mudah tersinggung setelah melahirkan. Salah satu penyebab utama kondisi ini pada ibu muda adalah ketidaksiapan mental yang berasal dari perkembangan psikologis yang belum matang.

Menurut Dr. Upik Anggraheni Sp OG, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas, remaja di bawah 20 tahun kerap kali masih dalam proses pencarian jati diri atau pembentukan identitas. Pada usia ini, mereka belum sepenuhnya siap untuk bertanggung jawab sebagai orang tua. Kondisi mental yang belum stabil ini menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya baby blues pascapersalinan. "Remaja di usia 19 tahun kerap kali masih dalam proses pembentukan identitas jati diri. Belum sepenuhnya siap secara mental untuk bertanggung jawab jadi orang tua," ujar dr. Upik.

Selain masalah kesiapan mental, kehamilan usia muda sering terjadi tanpa perencanaan matang. Hal ini menyebabkan minimnya dukungan dari keluarga dan pasangan, yang selanjutnya memperburuk kondisi kesehatan mental ibu muda. Kurangnya dukungan sosial merupakan faktor signifikan dalam memicu depresi pascapersalinan. Dukungan emosional sangat penting untuk membantu ibu mengatasi stres dan menjalani masa nifas dengan lebih baik.

Dr. Upik juga menegaskan pentingnya menjaga kesehatan mental selama masa kehamilan, terutama bagi ibu muda. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengelola stres secara positif, misalnya melalui aktivitas yang dapat membuat ibu rileks dan nyaman. Ibu juga dianjurkan untuk terbuka dalam membicarakan kekhawatiran dan perasaan dengan pasangan atau keluarga agar beban mentalnya bisa berkurang. “Coba mencari kegiatan yang membuat diri rileks, dan terbuka membicarakan kekhawatiran dengan pasangan atau keluarga,” katanya.

Secara medis, untuk menghindari risiko komplikasi kehamilan dan gangguan mental, usia reproduksi yang dianggap aman bagi perempuan untuk hamil berada di rentang 20 hingga 35 tahun. Rekomendasi ini sesuai dengan panduan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Kementerian Kesehatan. Kehamilan di luar rentang usia tersebut, baik terlalu muda maupun terlalu tua, memiliki risiko tinggi terjadi komplikasi kehamilan dan kesehatan mental yang dapat berdampak pada ibu dan anak.

Berikut beberapa faktor penyebab utama baby blues pada kehamilan usia muda:

  1. Ketidaksiapan mental dan emosional karena proses pembentukan identitas diri yang belum selesai.
  2. Minimnya dukungan sosial dari keluarga dan pasangan selama masa kehamilan dan setelah melahirkan.
  3. Kehamilan yang tidak direncanakan, sehingga ibu muda mengalami tekanan dan ketakutan yang berlebihan.
  4. Stres yang belum terkelola secara baik, menyebabkan gangguan suasana hati dan kecemasan.
  5. Kurangnya edukasi tentang kehamilan dan persiapan pascapersalinan, sehingga ibu tidak siap menghadapi perubahan fisik dan psikologis.

Dampak baby blues yang tidak diatasi dapat berlanjut menjadi depresi pascapersalinan yang lebih berat dan berkepanjangan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kesejahteraan ibu, tetapi juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak melalui interaksi emosional yang terganggu. Oleh karena itu, intervensi dan dukungan yang tepat sangat diperlukan.

Menangani baby blues pada ibu hamil usia muda dapat dimulai dengan meningkatkan peran keluarga dan lingkungan sekitar sebagai sumber dukungan utama. Selain itu, konseling dan dukungan psikologis juga dianjurkan untuk membantu ibu menghadapi tekanan mental. Penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi dan persiapan mental selama kehamilan perlu diperkuat sejak dini, terutama di kalangan remaja, untuk mencegah kejadian baby blues dan depresi pascapersalinan.

Pemahaman masyarakat tentang risiko dan penyebab baby blues pada ibu muda sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sejak dini. Selain itu, program intervensi kesehatan yang menyasar remaja dan ibu hamil perlu diintensifkan oleh lembaga kesehatan dan pemerintah sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas hidup ibu dan anak di masa depan.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button