Reaksi Tubuh Saat Berhenti Makan Manis: Penjelasan Ilmiah Terbaru

Berhenti mengonsumsi makanan dan minuman manis dapat menimbulkan berbagai reaksi fisik dan psikologis pada tubuh, karena gula memiliki efek adiktif yang memengaruhi sistem saraf pusat. Saat gula masuk ke tubuh, hormon dopamin dilepaskan di otak, yang memunculkan sensasi senang dan nyaman. Oleh sebab itu, menghentikan konsumsi gula tambahan tidak selalu mudah, dan tubuh memerlukan masa penyesuaian yang berbeda-beda pada setiap individu.

Reaksi Tubuh pada Minggu Pertama

Ketika seseorang mulai mengurangi atau berhenti mengonsumsi gula tambahan, tubuh harus beradaptasi dengan penurunan kadar gula darah secara drastis. Dalam 3 sampai 7 hari pertama, beberapa gejala umum yang kerap muncul di antaranya adalah rasa lelah, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, dan perubahan suasana hati seperti mudah marah atau cemas. Selain itu, otak akan mengirimkan sinyal permintaan terhadap gula sehingga muncul dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan manis.

Penurunan energi yang dirasakan terjadi karena tubuh yang sebelumnya mengandalkan gula sebagai sumber energi cepat, kini mulai beralih memakai lemak dan karbohidrat kompleks yang proses pemecahannya membutuhkan waktu lebih lama. Pada orang yang sebelumnya rutin mengonsumsi makanan tinggi gula, reaksi ini bisa lebih terasa berat.

Perubahan Positif pada Minggu Kedua

Memasuki minggu kedua, tubuh mulai menyesuaikan diri dengan pola konsumsi tanpa gula tambahan. Kadar gula darah menjadi lebih stabil, sehingga energi terasa lebih konsisten sepanjang hari tanpa lonjakan drastis yang selama ini menyebabkan kantuk atau rasa lesu. Selain itu, beberapa perubahan positif lain mulai terlihat, seperti meningkatnya kemampuan konsentrasi dan berkurangnya keinginan terhadap makanan manis.

Perubahan ini juga berdampak pada kualitas tidur yang membaik sehingga seseorang bisa lebih segar setiap pagi. Kulit pun mulai menunjukkan tanda-tanda sehat karena berkurangnya peradangan akibat gula. Mengutip Harvard Health Publishing, indra perasa menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis alami dari buah dan makanan utuh, membuat konsumsi makanan sehat menjadi lebih memuaskan.

Manfaat Jangka Panjang Mengurangi Gula

Pengurangan gula tambahan yang berkelanjutan memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan jangka panjang, antara lain:

  1. Penurunan berat badan secara alami karena kalori kosong dari gula berkurang.
  2. Risiko diabetes tipe 2 menurun berkat peningkatan sensitivitas insulin.
  3. Kesehatan jantung lebih terjaga akibat penurunan kadar trigliserida dan tekanan darah.
  4. Kesehatan hati meningkat dengan berkurangnya risiko penumpukan lemak di hati (non-alcoholic fatty liver disease).
  5. Kulit menjadi lebih cerah dan elastis karena berkurangnya proses glikasi yang merusak kolagen.

Menurut data American Heart Association (AHA), batas konsumsi gula tambahan harian yang dianjurkan adalah maksimal 36 gram (9 sendok teh) untuk pria dewasa, 25 gram (6 sendok teh) untuk wanita dewasa, dan 25 gram untuk anak-anak usia 2–18 tahun. Batas ini tidak termasuk gula alami dari buah dan susu.

Risiko Jika Berhenti Secara Drastis

Meski pengurangan gula sangat disarankan, penghentian secara tiba-tiba dan ekstrem tanpa pengawasan dapat menimbulkan risiko. Tubuh yang kekurangan glukosa bisa mengalami gejala mirip “keto flu” seperti pusing, lemas, dan susah fokus. Ini terutama berbahaya bagi mereka yang memiliki gangguan metabolisme, hipoglikemia, atau diabetes yang memerlukan kontrol ketat terkait asupan gula. Oleh sebab itu, penghentian konsumsi gula harus dilakukan secara bertahap dan dengan bimbingan ahli medis jika diperlukan.

Tubuh tetap memerlukan gula alami yang terdapat dalam buah-buahan, sayur, dan biji-bijian utuh untuk menjaga fungsi otak dan kebutuhan energi harian. Jadi, fokus utama bukanlah menghindari gula sepenuhnya, melainkan mengelola asupan gula tambahan agar tidak berlebihan.

Mengenal bagaimana tubuh bereaksi saat berhenti makan manis membantu seseorang mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Hal ini memungkinkan pembentukan kebiasaan makan sehat yang realistis dan berkelanjutan. Dengan demikian, energi tubuh menjadi lebih stabil, risiko penyakit kronis berkurang, dan kualitas hidup secara keseluruhan meningkat.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button