Gangguan perkembangan tulang pada anak merupakan isu kesehatan yang sangat penting untuk diperhatikan, karena berpengaruh langsung terhadap kesehatan tulang di masa tua. Tulang anak yang tumbuh tidak optimal dapat menyebabkan bentuk, ukuran, dan kekuatan tulang menjadi tidak normal, sehingga meningkatkan risiko gangguan seperti osteoporosis di kemudian hari.
Proses pertumbuhan tulang pada anak melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, hormon, nutrisi, dan aktivitas fisik. Dr. Frieda Susanti, anggota Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menyampaikan bahwa tulang pada anak mengalami dua proses utama: pertambahan panjang dan penebalan. Kedua proses ini sangat bergantung pada asupan nutrisi dan pola hidup yang sehat.
Puncak Kepadatan Tulang dan Perannya dalam Mencegah Osteoporosis
Menurut Dr. Frieda, puncak kepadatan tulang seseorang biasanya tercapai pada usia 20-an. Masa remaja menjadi periode krusial untuk menabung kepadatan tulang guna mencegah terjadinya osteoporosis, yaitu kondisi tulang yang rapuh dan mudah patah saat lanjut usia. Oleh karena itu, perawatan tulang sejak dini sangat penting.
“Paling penting lagi bahwa, kapan sih puncak kepadatan tulang kita? Di umur 20 tahunan,” ujarnya. Hal ini menegaskan bahwa pertumbuhan tulang yang optimal selama masa kanak-kanak dan remaja menjadi investasi kesehatan tulang jangka panjang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tulang
Beberapa aspek penting yang bisa dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan tulang anak antara lain:
-
Nutrisi Seimbang
Asupan kalsium sebagai mineral utama tulang sangat penting, bersama dengan vitamin D yang membantu penyerapan kalsium di tubuh. -
Aktivitas Fisik Teratur
Olahraga dan aktivitas fisik meningkatkan kekuatan dan kepadatan tulang melalui stimulasi mekanis pada jaringan tulang. - Keseimbangan Hormon
Hormon pertumbuhan, hormon tiroid, serta hormon seks (estrogen dan testosteron) turut berperan besar dalam proses pembentukan dan pematangan tulang.
Gejala dan Tanda Gangguan Perkembangan Tulang yang Harus Diwaspadai
Deteksi dini gangguan tulang sangat penting agar dapat memperoleh penanganan yang tepat. Dr. Frieda menyoroti tanda-tanda yang patut dicurigai sebagai gangguan tulang, antara lain:
- Tulang bengkok sejak dalam kandungan atau saat lahir, yang bisa mengindikasikan Osteogenesis Imperfecta (OI).
- Riwayat keluarga dengan kelainan tulang serupa.
- Perawakan pendek yang tidak proporsional.
- Patah tulang berulang atau terjadi pada beberapa titik tulang secara bersamaan.
- Anak yang menderita penyakit kronis seperti lupus, keganasan ginjal, atau gangguan hati, serta yang mendapat steroid dalam jangka panjang.
Dr. Frieda menekankan bahwa orang tua jangan menunda membawa anak ke dokter bila mengalami patah tulang atau gangguan fungsi sejak usia dini. “Anaknya kalau sudah patah bertulang, sudah tidak jalan dari umur 2 tahun, jangan sampai nunggu umur 11 tahun baru dibawa ke dokter,” ujarnya.
Langkah Penting untuk Orang Tua dan Tenaga Medis
Kunci mencegah osteoporosis dan gangguan tulang lainnya adalah deteksi dan penanganan sedini mungkin, serta menjaga gaya hidup sehat. Orang tua disarankan untuk:
- Memastikan anak mendapat asupan nutrisi cukup terutama kalsium dan vitamin D.
- Mendorong aktivitas fisik rutin sesuai usia anak.
- Memantau tanda-tanda gangguan tulang dan berkonsultasi ke dokter bila ada keluhan.
- Menghindari paparan steroid berlebihan kecuali jika benar-benar dibutuhkan dan dalam pengawasan medis.
Pencapaian puncak kepadatan tulang merupakan fondasi penting untuk menjaga kesehatan tulang seumur hidup. Oleh karena itu, optimalisasi pertumbuhan tulang sejak dini sangat menentukan kualitas hidup di masa tua. Melalui pemahaman dan langkah preventif, gangguan pertumbuhan tulang pada anak bisa dicegah dan risiko osteoporosis dapat diminimalisasi.
Source: www.suara.com





