
Gangguan tulang pada anak merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat berdampak pada pertumbuhan dan kualitas hidup jangka panjang. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti empat jenis masalah tulang yang sering mengancam anak-anak, yaitu osteoporosis pediatrik, rickets, displasia skeletal, dan skoliosis. Deteksi dini dan penanganan tepat menjadi kunci penting untuk mencegah komplikasi berat yang mengganggu fungsi dan mobilitas anak.
Osteoporosis pada Anak
Osteoporosis tidak hanya dialami oleh lansia, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak. Kondisi ini ditandai dengan massa tulang yang rendah sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah meski hanya terkena benturan ringan. Penyebab utama osteoporosis pada anak meliputi gangguan metabolisme tulang, kekurangan mineral penting seperti kalsium dan vitamin D, penyakit kronis, serta penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang, misalnya kortikosteroid. Penanganan osteoporosis pada anak melibatkan peningkatan asupan kalsium dan vitamin D, aktivitas fisik teratur, serta terapi khusus sesuai penyebab yang mendasarinya, kata Dr. Frieda Susanti, Sp.A, Subsp. Endo(K), Ph.D, anggota Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI.
Rickets
Rickets adalah kondisi yang disebabkan oleh gangguan mineralisasi tulang sehingga tulang menjadi lunak dan rentan bengkok. Ada dua jenis utama rickets yang perlu diwaspadai pada anak, yakni rickets nutrisi dan rickets hipofosfatemik. Rickets nutrisi disebabkan oleh defisiensi vitamin D, kalsium, atau fosfor yang umum terjadi akibat pola makan kurang gizi. Sedangkan rickets hipofosfatemik memiliki dasar genetik. Gejala khas berupa tungkai yang bengkok, pembesaran pergelangan tangan, dan pertumbuhan anak yang lambat. “Rickets yang tidak mendapatkan penanganan serius pada tahap awal bisa mengakibatkan deformitas tulang permanen,” tegas Dr. Frieda. Terapi meliputi pemberian suplemen vitamin D, kalsium, dan fosfat sesuai penyebabnya.
Displasia Skeletal
Displasia skeletal adalah kelainan bawaan yang menyebabkan gangguan serius pada bentuk dan pertumbuhan tulang anak-anak. Contohnya termasuk achondroplasia yang menyebabkan lengan dan tungkai pendek akibat mutasi gen FGFR3, serta pseudoachondroplasia yang memiliki gejala serupa namun mekanismenya berbeda. Kelainan lain seperti osteogenesis imperfecta menyebabkan tulang menjadi sangat rapuh karena gangguan produksi kolagen tipe I. Selain itu, kondisi langka Fibrodysplasia Ossificans Progressiva (FOP) membuat jaringan otot berubah menjadi tulang sehingga menyebabkan kekakuan tubuh yang progresif. Hingga saat ini, belum ada pengobatan efektif untuk FOP, sehingga langkah pencegahan cedera menjadi prioritas utama.
Skoliosis
Skoliosis ditandai dengan kelengkungan tulang belakang ke arah samping yang bisa bersifat idiopatik, genetik, atau terkait kondisi neuromuskular. Kelainan tulang belakang ini berdampak pada postur tubuh anak, menyebabkan ketidaksimetrisan, nyeri punggung, dan dalam kasus berat bisa mengganggu fungsi pernapasan. Oleh karena itu, pemeriksaan postur secara rutin amat penting dilakukan, terutama pada anak usia sekolah, agar skoliosis bisa terdeteksi lebih awal dan ditangani dengan tepat.
Tanda dan Gejala yang Harus Diwaspadai
Peran orang tua sangat vital dalam mengenali gejala awal gangguan tulang pada anak agar bisa segera mendapatkan penanganan medis. Tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Tubuh pendek dengan proporsi tidak normal
- Cara berjalan yang tidak wajar atau pincang
- Tungkai atau lengan tampak bengkok
- Sering mengalami patah tulang tanpa sebab yang jelas
- Keterlambatan perkembangan motorik seperti duduk, merangkak, atau berjalan
Melakukan pemeriksaan kesehatan tulang secara berkala, menggunakan radiologi, analisis hormon, dan tes genetik dapat membantu dokter dalam memberikan diagnosis yang tepat. Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Frieda Susanti, tulang bukan hanya penopang tubuh, tetapi juga berperan penting dalam metabolisme tubuh anak. Oleh karena itu, menjaga kesehatan tulang sejak dini menjadi investasi utama untuk masa depan anak yang lebih baik.
Source: lifestyle.bisnis.com





