
Suhu dingin ekstrem dapat meningkatkan risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular, menurut penelitian terbaru yang dipimpin oleh Pusat Iklim, Kesehatan, dan Lingkungan Global di Harvard T. H. Chan School of Public Health. Penelitian ini menunjukkan bahwa paparan jangka pendek terhadap suhu rendah dan tinggi secara signifikan terkait dengan peningkatan angka kematian pada pasien gagal jantung di Swedia.
Hubungan Suhu Ekstrem dengan Mortalitas Gagal Jantung
Studi yang diterbitkan di JAMA Cardiology ini melibatkan analisis data dari 250.640 pasien gagal jantung yang meninggal antara tahun 2006 dan 2021. Para peneliti menggunakan data suhu lingkungan harian yang dipetakan pada skala kawasan tempat tinggal pasien serta tingkat polusi udara. Suhu "rendah" dan "tinggi" ditentukan berdasarkan persentil ke-2,5 dan ke-97,5 dari data iklim lokal untuk tiap kotamadya.
Hasil menunjukkan kurva berbentuk U dalam hubungan antara suhu ekstrem dan mortalitas, dimana risiko kematian meningkat pada cuaca dingin maupun panas, namun efek suhu dingin lebih besar. Secara spesifik, paparan suhu dingin meningkatkan risiko mortalitas semua penyebab sebesar 13% dan mortalitas kardiovaskular sebesar 16% sepanjang 2006-2021. Pada sisi lain, suhu tinggi juga memperbesar risiko kematian, dengan peningkatan 5% untuk semua penyebab dan sekitar 8% untuk kematian kardiovaskular pada tahun-tahun terakhir studi ini.
Perubahan Risiko Terhadap Suhu Panas dari Waktu ke Waktu
Menariknya, risiko kematian yang berhubungan dengan suhu panas meningkat sejak periode 2014-2021 dibandingkan dengan 2006-2013. Hal ini diduga terkait dengan perubahan iklim yang menyebabkan intensitas dan frekuensi gelombang panas menjadi lebih tinggi sehingga lebih berbahaya bagi pasien dengan kondisi jantung yang sudah lemah.
Kelompok Pasien dengan Risiko Lebih Tinggi
Penelitian juga mengidentifikasi beberapa kelompok pasien yang lebih rentan terhadap suhu ekstrem. Pria, pasien penderita diabetes, dan pasien yang menggunakan diuretik memiliki risiko kematian lebih tinggi saat terpapar suhu dingin. Sedangkan pada suhu panas, pasien dengan kondisi fibrilasi atrium atau flutter dan mereka yang tinggal di area dengan tingkat ozon atmosfer lebih tinggi menunjukkan peningkatan risiko mortalitas.
Implikasi Kesehatan Global dan Pencegahan
Temuan ini menegaskan dampak signifikan perubahan iklim terhadap kesehatan terutama pada kelompok pasien dengan kondisi jantung kronis. Perubahan iklim telah memperburuk peristiwa suhu ekstrem dan harus menjadi perhatian utama dalam pengelolaan kesehatan masyarakat dan perencanaan mitigasi risiko.
Para penulis penelitian mendorong perlunya langkah antisipasi seperti peningkatan kesadaran pasien dan tenaga medis mengenai bahaya suhu ekstrem, pengembangan kebijakan yang meminimalkan paparan suhu berbahaya, serta penyesuaian pengobatan bagi pasien gagal jantung selama periode cuaca ekstrem.
Fakta Penting Studi:
- Jumlah pasien gagal jantung yang dianalisis mencapai 250.640 individu di Swedia.
- Paparan suhu rendah berkontribusi pada peningkatan mortalitas kardiovaskular sebesar 16%.
- Risiko kematian pada suhu panas meningkat hingga 8% khususnya pada tahun 2014-2021.
- Pasien dengan diabetes, pria, dan pemakai diuretik paling rentan terhadap suhu dingin.
- Peningkatan risiko saat suhu panas terkait dengan kondisi jantung spesifik dan tingkat ozon tinggi.
Penelitian ini memberikan bukti ilmiah kuat atas korelasi antara iklim ekstrem dan kesehatan jantung, yang menjadi tantangan nyata di tengah perubahan iklim global. Data ini diharapkan dapat mendorong strategi kesehatan yang lebih adaptif dan responsif di masa depan.
Source: lifestyle.bisnis.com





