Banyak perempuan masih enggan menjalani biopsi kanker payudara karena khawatir bahwa prosedur ini bisa menyebabkan kanker menyebar atau menjadi lebih ganas. Kekhawatiran tersebut muncul meskipun tingkat pendidikan yang tinggi sekalipun; mitos ini kerap jadi penghalang utama deteksi dini kanker payudara. Namun, para ahli medis menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut tidak beralasan dan tindakan biopsi justru sangat penting dalam diagnosis serta penanganan kanker payudara.
Biopsi Tidak Membuat Kanker Menyebar
Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FACP, dokter spesialis hematologi dan onkologi dari Medistra Jakarta, dengan tegas membantah anggapan bahwa biopsi bisa membuat kanker “terbangun” atau menjadi lebih agresif. Ia menjelaskan bahwa tumor jinak tetap jinak, dan tumor ganas tidak berubah menjadi jinak karena prosedur biopsi. “Tolong jangan takut di-biopsi… macannya sudah jalan-jalan,” ucap Prof. Aru dalam sebuah acara edukasi kesehatan di Jakarta.
Sedangkan biopsi merupakan prosedur mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dari hasil biopsi inilah dokter bisa menentukan apakah tumor bersifat jinak atau ganas, serta stadium dan tipe kanker yang dihadapi pasien. Oleh sebab itu, biopsi memiliki peranan krusial dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Pentingnya Deteksi Dini untuk Penanganan Efektif
Prof. Dr. Abdul Muthalib, Sp.PD-KHOM, juga menekankan bahwa jika kanker payudara terdeteksi sejak dini, seperti pada stadium 1, angka kesembuhan bisa mencapai lebih dari 90 persen. “Jangan takut sama dokter bedah onkologi, stadium 1 tingkat survival rate-nya mencapai 92 persen,” ujar Prof. Muthalib dalam forum diskusi bersama komunitas pasien kanker.
Penemuan kanker pada tahap awal memungkinkan dokter memberikan pengobatan yang maksimal dan optimal. Sebaliknya, ketakutan menjalani biopsi menyebabkan sebagian besar pasien datang saat kanker sudah memasuki stadium lanjut, bahkan stadium 3. Tentunya hal tersebut mengurangi efektivitas terapi dan mengakibatkan penurunan angka harapan hidup.
Data dan Fakta Mengenai Kanker Payudara
Menurut data dari GLOBOCAN/Global Cancer Observatory dan World Cancer Research Fund, pada tahun 2022 terdapat sekitar 2,3 juta kasus baru kanker payudara di seluruh dunia. Kanker ini menyumbang sekitar 11,6 persen dari total kasus kanker pada perempuan global dan menimbulkan sekitar 666.000 kematian, yang setara dengan 6,9 persen kematian akibat kanker perempuan di dunia.
Di Indonesia, tercatat sekitar 400 ribu kasus kanker baru terdiagnosis tiap tahun, dengan angka kematian mencapai 240 ribu orang. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat lebih dari 70 persen pada 2050 jika langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. Beban kanker yang kian meningkat ini tidak hanya menimbulkan risiko kesehatan, namun juga beban ekonomi bagi masyarakat dan negara.
Peran Edukasi dan Tim Multidisiplin dalam Penanganan Kanker
Prof. Aru juga mengingatkan bahwa kemajuan penanganan kanker payudara melibatkan tim ahli multidisiplin, mulai dari onkologi, radiologi, gizi, psikologi, hingga bedah. Semakin cepat kanker dideteksi, semakin besar peluang pasien untuk sembuh total.
Edukasi kepada masyarakat dinilai sangat penting agar ketakutan terhadap biopsi dan pemeriksaan kanker lainnya dapat dihilangkan. Peningkatan kesadaran serta akses terhadap skrining kanker secara rutin adalah kunci menurunkan angka kematian akibat kanker payudara di Indonesia.
Secara keseluruhan, mitos bahwa biopsi bisa memperparah kanker payudara merupakan salah kaprah yang dapat merugikan pasien. Bukti medis dan pendapat para ahli menunjukkan bahwa biopsi justru langkah penting dalam diagnosis dan penanganan kanker payudara secara efektif. Oleh sebab itu, masyarakat dianjurkan untuk tidak ragu menjalani biopsi bila diperlukan demi mendukung deteksi dini dan meningkatkan peluang kesembuhan.
Source: www.suara.com





