Fenomena pelabelan narcissistic personality disorder (NPD) di media sosial semakin marak. Banyak pengguna internet yang menyematkan istilah ini kepada orang lain tanpa dasar diagnosa profesional.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, memberi peringatan terkait bahaya penggunaan istilah tersebut secara sembarangan. Label NPD yang tidak tepat bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.
Bahaya Label NPD Tanpa Diagnosis Profesional
Menurut Cahyo, pelabelan NPD oleh masyarakat umum berisiko menciptakan stigma yang membahayakan. "Label seperti ini berbahaya karena menciptakan persepsi negatif terhadap seseorang, bahkan sebelum dikenali lebih jauh,” ujarnya.
Orang yang dilabeli secara tidak tepat dapat dijauhi, disalahpahami, dan kehilangan kesempatan berinteraksi secara sehat. Hal ini justru dapat memperburuk kondisi psikologis yang ada atau menimbulkan luka emosional baru.
Pengertian NPD Secara Klinis
Secara klinis, NPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai kebutuhan berlebihan untuk dikagumi serta keyakinan bahwa dirinya lebih unggul dari orang lain. Penderitanya kerap memiliki fantasi mengenai kekuasaan, kesuksesan, dan keistimewaan diri.
Mereka umumnya sangat sensitif terhadap kritik dan bisa bereaksi berlebihan atau menolak tanggung jawab atas kesalahan. Kondisi ini berbeda dengan sekadar rasa percaya diri yang tinggi.
Perbedaan Perilaku Narsistik dan Gangguan Kepribadian
Cahyo menegaskan, tidak semua perilaku narsistik termasuk gangguan kepribadian yang harus didiagnosis. Suatu perilaku baru bisa disebut gangguan ketika mengakibatkan kesulitan dalam hubungan sosial atau pekerjaan.
Penderita NPD sering kali tidak menyadari bahwa perilakunya merugikan dirinya dan orang lain. Mereka biasanya menyalahkan orang lain dan menganggap diri sendiri selalu benar.
Penyebab NPD yang Kompleks
Penyebab NPD bersifat multifaktorial, mulai dari faktor biologis, genetik, hingga pola asuh dan budaya sosial. Anak yang tumbuh dengan pujian berlebihan cenderung mengembangkan rasa percaya diri palsu dan superioritas.
Budaya yang memberi perlakuan khusus terhadap satu gender atau anak-anak tertentu juga bisa memicu kecenderungan narsistik. Bahkan perilaku orang tua yang narsistik dapat ditiru anak.
Kebutuhan Akan Pemahaman yang Tepat
Cahyo menekankan pentingnya memahami NPD sebagai istilah klinis, bukan label sosial yang digunakan sembarangan. Diagnosis harus ditegakkan oleh profesional berkompeten.
“Jika masyarakat asal menilai dan memberi cap, itu bukan diagnosis, melainkan labeling semata,” katanya. Label semacam ini bisa menghancurkan mental orang yang tidak memiliki gangguan, tetapi mudah terpengaruh sosial.
Panduan Menghindari Labelisasi NPD di Media Sosial
Untuk menghindari dampak buruk labeling NPD, berikut beberapa poin yang perlu diperhatikan:
- Jangan mudah menghakimi perilaku seseorang hanya dari tampilan luar.
- Pahami bahwa percaya diri bukan berarti memiliki gangguan kepribadian.
- Hormati proses diagnosa profesional psikolog atau psikiater.
- Jaga komunikasi dan hindari menyebar stigma tanpa bukti.
- Edukasi diri mengenai gangguan mental secara benar dan akurat.
Penggunaan istilah NPD secara bertanggung jawab berperan penting dalam menjaga kesehatan mental masyarakat. Penyebaran informasi akurat dari tenaga ahli harus didukung untuk melawan stigma yang tidak berdasar.
Pemahaman ini sangat krusial di era media sosial saat ini, di mana informasi mudah tersebar namun belum tentu valid. Masyarakat dianjurkan untuk lebih bijak dalam menggunakan istilah gangguan mental agar tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




