Pendekatan skrining digital berbasis artificial intelligence (AI) kini dikembangkan untuk membantu deteksi dini retinopati diabetik (RD). Metode ini memanfaatkan tele-oftalmologi sehingga memungkinkan pemeriksaan jarak jauh yang lebih cepat dan akurat.
Retinopati diabetik adalah penyebab utama gangguan penglihatan pada penderita diabetes. Data menunjukkan 43,1% pasien diabetes tipe 2 mengalami RD, dan satu dari empat berisiko kehilangan penglihatan jika tidak terdeteksi dini.
Kementerian Kesehatan melalui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dr. Siti Nadia Tarmizi, berharap teknologi skrining ini bisa menjadi dasar kebijakan nasional. “Kami berharap metode skrining berbasis digital tele-oftalmologi dengan AI ini menjadi bukti ilmiah yang dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan kesehatan,” ujarnya saat kerja sama antara FK-KMK UGM dan Roche Indonesia.
Beban diabetes di Indonesia cukup tinggi. Survei kesehatan menunjukkan hampir 30% populasi berisiko mengidap diabetes melitus, setara dengan 65 juta orang. Dari jumlah ini baru sekitar 10 juta yang terdeteksi secara resmi, sehingga pengawasan menjadi sangat penting.
Skrining dan tata laksana dini RD terbukti sangat efektif. Penanganan sedini mungkin dapat mencegah hingga 95% risiko kebutaan pada penderita. Namun, cakupan skrining saat ini masih sangat rendah, hanya sekitar 5% dari populasi yang berisiko.
Keterbatasan alat dan tenaga kesehatan menjadi kendala utama dalam pelaksanaan skrining konvensional. Digitalisasi melalui sistem AI dan tele-oftalmologi diharapkan menjadi solusi untuk kendala ini. Dengan teknologi ini, gambar retina dapat diperiksa secara cepat dengan tingkat akurasi yang baik tanpa harus langsung ke rumah sakit.
Implementasi skrining digital AI ini juga berpotensi menghemat waktu dan biaya. Pasien dapat menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat, sementara hasilnya diolah oleh sistem AI dan dikonfirmasi oleh dokter spesialis jarak jauh.
Program skrining kesehatan nasional yang telah berjalan sejak 2024 mampu menemukan 5-7,5 juta kasus baru diabetes. Namun tanpa dukungan teknologi, penanganan optimal terhadap komplikasi diabetes seperti RD sulit dilakukan.
Sistem skrining digital yang dibangun UGM dan mitra industri ini diharapkan bisa menjadi prototype nasional. Selain mendukung deteksi awal, metode ini membantu pemerintah menyediakan basis data komprehensif untuk mengendalikan diabetes dan komplikasinya.
Berikut beberapa keuntungan skrining digital AI dalam deteksi RD:
1. Mempercepat proses diagnosis dengan pemrosesan gambar retina secara otomatis.
2. Memperluas jangkauan skrining ke daerah terpencil melalui tele-oftalmologi.
3. Mengurangi beban tenaga medis spesialis mata.
4. Memberikan data akurat untuk pengambilan kebijakan kesehatan berbasis bukti.
5. Menekan angka kebutaan akibat diabetes dengan deteksi dan perawatan lebih awal.
Inovasi skrining digital berbasis AI menjadi langkah strategis dalam menghadapi persoalan diabetes yang terus meningkat di Indonesia. Pendekatan ini membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan dan perlindungan penglihatan masyarakat luas.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




